(Pikiran Rakyat, Minggu, 27 September 2015)

Kepada hujan yang menandak-nandak di luarlah kelak akan kauceritakan betapa Marni, istrimu yang cantik dan tabah meski dilanda segala macam onak dalam hidup itu tengah mengerang dengan tubuh kejang-kejang. Mulut istrimu tak berhenti melafal nama Tuhan meski engkau sedikit ragu bahwa di saat-saat seperti itu Tuhan masih mau mendengar.

Barangkali Tuhan tidur, pikirmu. Lalu kau kembali menggenggam tangan Marni tanpa tahu tepatnya apa yang harus kaulakukan. Jika engkau diberi kesempatan untuk melipat masa sekarang dan mengembalikan masa lalu untuk kauperbaiki seperti kain yang bisa kautambal sulam, tentu kau akan menerima ajakan kawan-kawanmu yang dahulu itu. Toh menjadi penyadap getah karet tak akan membuatmu kaya, lebih baik kau menjadi seperti mereka; para jawara yang bergelimang harta meski bukan harta yang menjadi hak mereka. Sebab kini kau tahu bahwa kemiskinan lebih dekat kepada kematian.

Marni, setelah habis tenaga untuk erang, mulai merintih, rautnya memohon kepadamu, memintamu meringankan rasa sakitnya, sedikit saja. Tubuh istrimu menggelinjang-gelinjang, berusaha mencari cara agar rasa sakitnya sempurna hilang.

“Mana dokternya, Kang?” rintih Marni, bibirnya pasi seperti nyaris mati.

Engkau gelagapan. Sekali lagi tak tahu apa yang harus engkau lakukan. Satu jam yang lalu, petugas pendaftaran di rumah sakit itu telah berjanji akan mencarikan kamar untuk Marni. Meski kau hanya berbekal secarik kartu. Setengah jam yang lalu, seorang dokter datang dan memeriksa istrimu yang terduduk di ruang tunggu dan mengatakan akan segera membawanya ke ruang pemeriksaan. Lima belas menit yang lalu, seorang petugas lain datang, menyuruh kau dan istrimu menunggu.

Kau, Warsa, lelaki yang baru tahu bahwa di ibu kota uang adalah segalanya. Meski kau dan Marni istrimu itu bertampang orang miskin yang patut untuk dikasihani, toh nurani tak pernah berlaku di sini, di tempat-tempat yang orang bilang sebagai penamba keputusasaan.

Cih! Kau ingin sekali meludah ke lantai. Lalu berkata kepada anak sulungmu agar menjaga ibunya sebentar sementara kau akan pergi kepada orang-orang itu.

“Sep, tunggui dulu ibumu sebentar. Bapak mau ke loket pendaftaran dulu. Ini, pegang tangannya erat-erat,” katamu sembari menyerahkan tangan Marni kepada Asep agar anak sulungmu belajar bagaimana menjadi lelaki jika kelak engkau mati.

Di depan loket pendaftaran dengan antrean panjang, engkau tergagap dengan helai-helai surat di tangan dan sebuah kartu yang konon sakti di genggaman. Kartu yang konon bisa membebaskan rasa sakit menggigit, kartu dan surat-surat yang dibekalkan oleh ketua RT di kampungmu di Sindang Sari. Kartu dan surat yang terpaksa engkau kantongi karena rumah sakit daerah tak bisa menangani apa yang bergejolak di dalam perut Marni.

“Punten, Teh. Itu istri saya sudah tak tahan kesakitan. Apa saya tidak bisa dapat kamar sekarang?” geragapmu.

Suaramu yang bergeletar disambut tatapan orang-orang. Orang-orang itulah, orang-orang yang nasibnya tak lebih baik darimu, karena di tubuh mereka juga bersarang rasa sakit sementara kartu yang mereka genggam tak menjanjikan apa-apa selain ketegangan dan tunggu serupa.

“Maaf, Pak. Tapi semua kamar kelas tiga sudah penuh,” petugas pendaftaran, perempuan berbaju putih dengan rias wajah berlebihan, memandangmu tanpa rasa kasihan.

“Istri saya sudah kesakitan begitu masih juga harus nunggu kamar?” kau meringis, ada tangis yang siap pecah.

“Kalau mau cepat, ganti kelas saja, Pak. Jadi kelas satu,” petugas itu mengangkat bahunya, acuh tak acuh.

“Biayanya bagaimana? Gratis juga?” kartu di genggamanmu kaukepal lebih erat.

Petugas pendaftaran itu terkekeh, bibirnya yang bergincu merah menyala seperti nyaris meleleh. “Tentu saja tidak. Bapak harus membayar semua biayanya. Kartu yang Bapak pegang itu cuma untuk perawatan di kelas tiga, Pak.”

Kau menggeleng-gelengkan kepala, kembali ke kursi tunggu, kembali kepada istrimu yang sekarat menahan sembilu.

Hujan di luar semakin deras sementara dadamu kian renggas. Ada banyak rasa sakit yang bisa kautangani. Sebut saja jatuh dari pohon nira, terkena parang ketika menyadap karet, atau kelaparan paling menyakitkan sekalipun. Tapi rasa sakit kali ini tidak. Jantungmu pedih ketika mendengar istrimu merintih-rintih. Maka kau menggenggam tangannya, membisikkan segala macam doa dan kalimat pengharapan yang sebetulnya tak berguna. Meski engakau tahu, ia butuh diselamatkan, bukan diberi penghiburan.

*

Kepada hujan yang menandak-nandak di luarlah kelak akan kauceritakan betapa Marni, istrimu yang cantik dan tabah meski dilanda segala macam onak dalam hidup itu tengah mengerang dengan tubuh kejang-kejang. Mulut istrimu tak berhenti melapal nama Tuhan meski engkau sedikit ragu bahwa di saat-saat seperti itu Tuhan masih mau mendengar.

Benakmu bertanya-tanya, Tuhan macam apa yang memberikan rasa sakit yang tak bisa disembuhkan oleh babadotan? Benakmu juga merapal tanya yang lain, pemerintah macam apakah yang membiarkan rakyatnya diberi segala macam harapan tapi tak siap dengan pemenuhan? Kemudian kau hanya bisa mengutuk. Mengutuki nasib sial. Mengutuki kemiskinan.

“Kita ke rumah sakit lain, Pak. Kasihan Emak,” Asep menjawil lenganmu. Wajahnya yang legam penuh dengan keringat. Barangkali dia khawatir, tapi kau tahu bahwa putra sulungmu tengah mati-matian menahan rasa getir.

Kau mengangguk. Selama hidupmu, kau sudah bertarung dengan berbagai macam kemungkinan. Kali ini pun kau memutuskan untuk tak tinggal diam. Maka kau dan Asep memapah Marni, menuju taksi yang berjejer di luar, yang ongkosnya bagimu di luar nalar.

Tapi apa lacur, setelah rute yang berputar-putar, menemukan rumah sakit yang bisa memenuhi kartu yang kaugenggam layaknya mencari intan di dalam tetesan hujan. Sia-sia belaka.

*

Kepada hujan yang menandak-nandak di luarlah kelak akan kauceritakan betapa Marni, istrimu yang cantik dan tabah meski dilanda segala macam onak dalam hidup itu tengah mengerang dengan tubuh kejang-kejang. Kali ini mulut istrimu tak lagi merintih, melainkan melolong. Meski engkau ragu, di saat-saat seperti itu apakah Tuhan bersedia menolong.

Gegas, kau kembali ke rumah sakit pertama dengan harapan bahwa kali ini ada kamar yang tersisa. Petugas yang sama, wajah dengan gincu berwarna nyala yang sama, menyambutmu dengan raut wajah biasa.

“Belum ada kamar, Pak. Kalaupun ada Bapak tetap harus menunggu antrean,” sapanya sebelum kau mengatakan apa-apa.

“Apa tidak bisa di ruang apa itu emergency? Gawat darurat?” kau masih terengah, berlomba-lomba dengan nyawa istrimu.

Petugas itu kembali menggelengkan kepala. “Juga penuh.”

Matamu berkaca-kaca, tapi tak ada lagi kalimat yang bisa kaujadikan tamba. Dengan langkah yang lebih lunglai, kau menghampiri istrimu yang kini bahkan lebih pucat dari mayat. Tanganmu menggenggam tangannya, membisikkan kalimat-kalimat yang engkau tahu tak akan bisa menyembuhkan.

“Cing sabar, Neng …” hanya itu kalimat yang mampu kaukeluarkan sebab kerongkonganmu lebih dulu tercekat, menahan isak yang sebentar lagi datang.

“Ini, jaga ibumu, Bapak mau cari dokter dulu,” kau serahkan tangan Marni yang bara kepada Asep lalu lesat menerobos kerumunan orang-orang, gegas mengais-ais harapan.

Setiap kali bertemu dengan orang yang memakai jas putih kau menghadang mereka, mengatakan dengan terbata-bata mantra yang sama, “Dokter, istri saya sakit DBD, sudah kejang-kejang dari tadi, tapi kamar rawat inap kelas tiga penuh semua. Tolong istri saya, dokter. Dia ada di ruang tunggu.”

Beberapa bergegas memeriksa, beberapa berpura-pura-pura tak mendengar, beberapa berakting bahwa kau tak pernah ada, beberapa memakai dalih yang sama: bahwa tak ada kamar yang tersedia.

Saat itu kau tahu, bahwa pertolongan bukan hanya masalah waktu, melainkan keajaiban yang barangkali tak harus engkau tunggu.

Tubuh istrimu mulai gigil ketika kau kembali duduk di sampingnya. Kembali menggenggam tangannya. Napasnya tak lagi memburu, melainkan dihela satu-satu. Satu … satu … kemudian berlalu.

“Neng, maafkan Akang,” itu kalimat terakhir yang bisa kaurapal. Kau ingin menangis, ingin menumpahkan segala rasa sedih jika tak ada rebut-ribut di belakangmu.

“Itu ada pasien DB kenapa belum dapat kamar?” seseorang dengan jas putih bergegas ke arahmu ditemani beberapa orang yang memakai jas sama. “Masukkan ke kelas satu, saya yang bayar!” kalimat itu jelas terdengar ketika mereka telah sampai ke hadapan.

“Mana pasiennya?” lelaki yang sama bertanya kepadamu.

Kau menunjuk Marni dengan matamu. Marni yang sudah tak lagi membutuhkan pertolongan.

“Terlambat!” kaulemparkan kartu di tanganmu. “Makan kartu-kartu kalian! Keparat!”

Kepada hujan yang masih menandak-nandak di luarlah kelak akan kauceritakan bahwa kemiskinan lebih dekat kepada kematian.

(Cibabat, 18 Februari 2015)

26 Comments

  1. September 28, 2015 at 4:46 am

    Duh, ngilunya, Teh … 🙁

  2. September 28, 2015 at 4:56 am

    Ajari aku menulis cerpen yang menggembirakan, Kak. Ajari aku. 😀

  3. September 28, 2015 at 5:04 am

    Menyentuh bangeet….Hiks..

  4. September 28, 2015 at 5:39 am

    Tiba2 terbawa suasana dan turut meradang. Untungnya cuma cerpen bukan kisah nyata. Gak mungkin kan hal ini terjadi di negeri kita yg makmur ini? *eh

  5. September 28, 2015 at 5:53 am

    Seperti nyata.

  6. September 28, 2015 at 7:45 am

    Ironi kehidupan…
    Seringnya memang memilukan..

  7. September 28, 2015 at 9:28 am

    Duh, sedih. Awalnya kukira mau melahirkan, karena pakai melolong/ merintih. Ternyata DBD ya?

  8. September 28, 2015 at 11:21 am

    Pada kenyataannya, banyak yg mengalami hal serupa dg cerpenmu ,Teh. Walaupun ada juga yg beruntung dapat pelayanan yang baik.
    *curambai* nyesek banget ih

  9. September 28, 2015 at 2:25 pm

    Terima kasih sudah membaca 🙂

  10. September 28, 2015 at 2:25 pm

    Keren. Padahal cerita memakai PoV orang kedua sangat sulit, menurutku. Keep going! ^^

Leave a Reply