(Tribun Jabar, Minggu, 27 April 2014)

Di desa kami yang sunyi, Sindangwangi, semua orang tak pernah lupa tentang Sukandar. Ia bukan hanya dikenal karena hidupnya yang bagai legenda berjalan, tapi juga karena cara kematiannya yang masih menyisakan pertanyaan janggal. Sampai hari ini, tak ada yang tahu cara paling tepat bagaimana dia mati. Kami hanya tahu bahwa dia mati, tanpa jenazah untuk dikafani, tanpa jejak apa pun untuk kami tangisi. Sukandar hilang begitu saja laksana kabut di belakang bukit yang dimamah matahari.
            Cerita-cerita tentang Sukandar masih menyisakan semacam kebanggaan sekaligus kisah-kisah seram di benak kami. Bangga karena Sukandar adalah jawara yang di masa hidupnya kerap kali menyelamatkan kami dari kebengalan tukang pukul para tengkulak yang di setiap musim panen selalu merongrong kami. Seram karena kisah tentang Sukandar menjadi semacam legenda yang tak pernah memiliki akhiran. Tak seorang pun, baik yang tua maupun muda, berani mengamini kebenaran apa pun tentang kematian Sukandar.
            Sepanjang ingatanku yang kini bertambah buram, sosok Sukandar adalah apa yang disebut Emak sebagai  lodaya, penjaga makam para raja. Mungkin itu karena tato berbentuk harimau di lengan kanannya. Mungkin juga karena gingsul tepat di sebelah gigi taringnya yang sebelah kiri. Namun, menurut cerita Emak (dalam setiap cerita pengantar tidurnya), Sukandar bukan sembarangan jawara.
            Sejak usiaku sepuluh tahun, tahun ketika Sukandar menghilang, Emak menganggap Sukandar sebagai pahlawan dan menceritakan kisahnya kepadaku dan adik perempuanku. Tak banyak cerita Emak yang masih bisa kuingat, karena walau bagaimanapun ingatan selalu dibebat hantu bernama masa. Sukandar dalam cerita Emak adalah lelaki yang memiliki keberanian seperti layaknya harimau. Dialah yang menolong Bapak ketika orang-orang berbaju hijau mengangkutnya ke dalam truk karena keributan di kota yang sebetulnya tidak ada sangkut-pautnya dengan Bapak. Sukandar, datang ke (Emak menyebutnya markas) tempat orang-orang berbaju hijau itu. Bapak dibebaskan, dibawa pulang kembali kepada kami.
            Di desa kami yang sunyi, siapa yang tak mengenal Sukandar? Yang hidup dan matinya masih saja menyisakan pertanyaan. Ada yang bilang ia diculik setan-setan berbaju hijau di tengah malam buta lalu tak kembali. Ada yang bilang ia mengasingkan diri ke gunung, bergabung dengan para pemuda semacamnya; yang di mata negara disebut sebagai ancaman sedangkan di mata kami mereka semua adalah pahlawan.
            Tapi dari semua isu-isu yang berkeliaran dari tahun ke tahun, kata-kata Emak di suatu malamlah yang sampai sekarang tak dapat hilang dari ingatan.
            “Sukandar tidak mati, dia hanya ngahyang. Rohnya pergi ke alam keabadian, begitu juga dengan jasadnya. Sehingga mayatnya tidak akan pernah ditemukan. Tapi kita harus percaya bahwa dia akan terus bersama kita dan tak berhenti menjaga.”
            Jadi Sukandar tidak sempurna pergi. Tidak hidup, tidak pula mati. Ia hanya … ngahyang.
*
           


Tadinya kupikir kepercayaan Emak terhadap legenda Sukandar akan berkurang bahkan hilang setelah berpuluh tahun, tapi ternyata tidak. Maka ketika kusampaikan kabar bahwa Aisyah, adik perempuan semata wayangku itu hilang, Emak menerima kabar itu dengan tenang.

            “Ngahyang,” gumamnya.
            Tentu saja aku tak setuju. Aisyah bukan jawara, tak memiliki ilmu kanuragan lain selain hafalan Quran dan keimanan. Kami hanya dua orang bersaudara meski setelah dewasa masing-masing dari kami mengambil jalan yang jauh berbeda. Aku lulus dari Fakultas Ekonomi dengan susah payah lalu merintis usaha percetakan di Bandung sedangkan Aisyah lulus dengan gemilang dari Fakultas Hukum kemudian merantau ke Jakarta dan bekerja sebagai jurnalis.
            Aku sendiri heran, dengan kemampuannya, Aisyah bisa saja jadi pengacara, bekerja di firma hukum ternama atau mengabdi kepada negara. Tapi bukan Aisyah namanya kalau tidak keras kepala. Baginya, mengejar-ngejar berita dan (menurut istilahnya) mengungkapkan kebenaran adalah sebenar-benar profesi yang ingin ia jalani.
            Emak dan Bapak, setelah memeras keringat dan air mata untuk dapat menyekolahkan kedua anaknya tetap bersikukuh tinggal di desa. Kecintaan mereka terhadap tanah dan bertani hanya bisa dikalahkan oleh satu kata: mati. Bahkan setelah Bapak meninggal karena usia tua, Emak tak mau juga kubawa hijrah ke Bandung. Padahal aku sudah memiliki penghasilan lebih dari cukup untuk membuatnya hidup senang. Maka kumintalah anak gadis tetangga untuk menjaga dan menemani Emak dengan bayaran yang menurutku pantas. 
            Sebetulnya, aku lebih mengharapkan Emak yang menangis, meraung-raung, meradang atau mencakar-cakar dinding ketika kusampaikan berita tentang menghilangnya Aisyah. Sayangnya, yang kuterima hanyalah gumaman Emak. Tidak ada air mata, tidak ada nada berduka, tidak ada apa-apa.
            Ketika kuberitahu bahwa Aisyah sudah dua minggu hilang dalam perjalanan dinasnya meliput ladang sawit di Jambi, Emak tetap bergeming. Ketika kusampaikan bahwa kepolisian belum menemukan kemajuan atas penyelidikan yang mereka lakukan, Emak masih saja bungkam.
            Maka aku menyerah, pulang kembali ke Bandung setelah sebelumnya berjanji untuk terus mengabari.
*
            Mencari orang hilang di Indonesia sama sulitnya seperti menjemput orang mati dari neraka; sia-sia. Pihak kepolisian bahkan sampai kepada spekulasi bahwa Aisyah memang lari atas kemauan sendiri, kawin lari dengan lelaki yang tidak direstui oleh keluarga, mungkin karena beda agama, mungkin juga beda warga negara. Aku sampai harus menahan diri mati-matian untuk tidak menyumpal mulut kotor mereka. Bagaimana tidak, adikku itu bukan tipe perempuan yang bisa menggadaikan keyakinan hanya untuk urusan percintaan. Lagipun, meski kami tinggal berjauhan, kami masih tetap berhubungan.  Selama ini, tak sekalipun Aisyah memperkenalkan lelaki sebagai kekasih, apalagi calon suami.
            Hanya kawan-kawan Aisyah sesama jurnalislah yang percaya bahwa adikku tidak hilang begitu saja. Setelah berbulan-bulan tidak mendapatkan perkembangan, orang-orang AJI dan Kontras mulai rajin datang ke rumah. Tak ada yang bisa kami lakukan kecuali terus mencari dan saling berbagi informasi.
            Selama berbulan-bulan itulah, aku menghubungi semua orang yang berada di lingkaran Aisyah: teman-teman kuliah, teman-teman tarbiyah, aktivis dakwah, serta teman-temannya sesama relawan di rumah singgah. Tak ada petunjuk berarti kecuali bahwa semasa kuliah sampai terjun menjadi jurnalis, Aisyah memang bisa dikategorikan sebagai perempuan yang “berbahaya”.
            Berbahaya? Aku nyaris tersedak karena menahan tawa. Selain omongan sadisnya tentang situasi negara dan betapa miskinnya rakyat Indonesia, di mataku Aisyah hanyalah seorang adik perempuan yang selalu nyinyir menyuruhku salat, tak lebih.
            Tapi kemudian pendapatku terbukti salah ketika suatu hari lima orang berpakaian preman menyatroni rumahku setelah azan Subuh. Mereka membawa surat perintah penggeledahan yang tak kutahu artinya apa.
            “Menyita dokumen-dokumen yang berbahaya bagi negara.”
            Hanya itu yang mereka ucapkan sementara aku tak sempat melawan. Komputerku dibuka, semua surel dari Aisyah dibaca, semua berkas yang menurut mereka penting dibawa.
            Paginya aku membaca berita bahwa majalah tempat Aisyah bekerja dibredel dan ditutup paksa. Beberapa jurnalis juga dinyatakan hilang. Aku mengerti, Aisyah tak akan pernah ditemukan.
*
            Dan di sinilah aku, di sebuah diskusi publik, duduk di kursi pembicara sebagai pihak keluarga korban yang dihilang-paksa. Foto Aisyah, dengan kerudung berwarna jingga, tangan kanan menenteng kamera dan tangan kiri berpegangan pada tiang bendera, dipajang di lorong ruang diksusi. Bersama sederet wajah-wajah lain yang sejak dua tahun lalu, saat Aisyah dinyatakan hilang, kerap kali mendatangkan mimpi buruk untukku.
            Orang-orang bertanya, menyampaikan bela sungkawa, menepuk pundak dan sesekali melarungkan pelukan. Mungkin ingin berbagi rasa simpati, mungkin ingin sedikit mengurangi rasa nyeri.
            Emak, yang kupaksa sekuat tenaga untuk hijrah ke Bandung sejak setahun lalu ada di barisan penonton. Tak sanggup berbicara ataupun menyampaikan cerita. Di dalam kepalanya yang sudah berangkat renta, kenyataan mulai meninggalkannya diam-diam. Jadi ia hanya duduk, sesekali matanya memandangi orang-orang, sesekali berdiri lalu duduk kembali.
            Di tebing acara, seorang lelaki membacakan orasi budaya dengan gempita. Suaranya yang serak meliuk-liuk di telingaku. Dia mengatakan bahwa orang-orang seperti Aisyah adalah pahlawan kemanusiaan. Pahlawan yang tak gentar mencari dan menyampaikan kebenaran, meskipun nyawa sebagai taruhan.
            Masih dalam orasinya, dia mengatakan bahwa akan lahir Aisyah-Aisyah yang baru. Orang-orang yang tak segan memperjuangkan hak-hak petani, hak-hak kaum minoritas, hak-hak rakyat Indonesia yang senantiasa ditindas.
            Di dalam telingaku, kembali terngiang legenda Sukandar, pahlawan kampung kami yang tak henti-hentinya diceritakan Emak dalam waktu setahun ini. Pahlawan yang kebenaran hidup dan matinya tidak bisa dijelaskan maupun dipetakan. Tanpa jenazah untuk dikafani, tanpa jejak apa pun untuk kami tangisi. Pun Aisyah, hilang begitu saja laksana kabut di belakang bukit yang dimamah matahari.
            “Aisyah … ngahyang,” gumaman Emak kembali terngiang.
            Persetan! Umpatku dalam hati. Aku akan tetap mencarinya meski sampai ke ujung bumi.

(Cimahi, 2014)

2 Comments

  1. July 10, 2015 at 6:45 am

    duuh bagus banget cerpennya! Ajarin bikin cerpen sebagus ini dong Langit

  2. September 21, 2015 at 3:14 pm

    Aduh Kakak Tanti, aku baru baca komen ini. Jangan diajarin atuh, belajar bersama-sama aja, yuk.

Leave a Reply