[Cerpen] Perempuan Geladak

(Bali Post, 6 April 2014)
 
Kita berdua berbaring telanjang. Telentang sambil menatap langit-langit kamar. Mata kita mengikuti perputaran kipas angin sambil menerka-nerka kapan kipas renta itu akan lelah bekerja. Setelah habis batang rokok kedua -ritual wajib sehabis bercinta- kita mulai berbicara tentang cuaca, sesekali bergumam tentang sesuatu yang tak bisa kita terka. 

Kamar hotel ini berbau asap dan keringat. Tak ada pengharum ruangan agar bau tubuhmu hilang dari tubuhku. Sebetulnya aku agak terhina kaubawa ke kamar seperti ini, kamar yang harga sewanya bahkan lebih murah dari harga sebelah sepatuku. Tapi hanya seharga inilah yang sanggup kaubayar, kamar hotel bintang dua jauh di tepi kota.

“Di sini aman, tak pernah ada razia,” katamu.

Aku sendiri heran, dari dulu sampai sekarang kau lebih takut terhadap manusia daripada terhadap dosa.

Berkali-kali kau menoleh, mungkin mencari mataku, mungkin mencari bibirku, mungkin juga mencari-cari payudaraku agar kau bisa kembali tersungkur seperti balita yang haus serta rakus. Engkau berbalik, berbaring menyamping, jemarimu mulai menelusuri kembali jejak yang sempat kautinggalkan malam tadi. Maka tubuh kita kembali saling bertukar kabar. Menandak-nandak seperti penari yang lama hidup dalam jeruji. Melenguh-lenguh seperti binatang lapar dan sangar. 


Berkali-kali tubuh kita saling bertamu. Berkali-kali pula aku menahan pilu. Bukan di selangkangan, melainkan di tempat lain yang tak bisa kupetakan.  

“Kamu memang luar biasa,” kau mengecup bibir setelah engahmu berakhir.

Tentu saja aku luar biasa. Kukenal tubuhmu sejak bertahun lalu. 

“Istriku tidak bisa apa-apa. Bercinta dengannya seperti meniduri pohon pisang yang hanya bisa diam,” kau mengeluh. Keluhan yang biasa. Yang sering aku dengar sehabis kita bercinta. 

“Istrimu kan cantik, lebih cantik dari aku,” aku duduk. “Dia juga tidak merokok, mulutnya tidak berbau tembakau seperti mulutku,” aku mengacungkan rokok yang terjepit di jemariku. 

Kau mengerlingkan mata. “Percuma cantik kalau hanya tahu posisi misionaris. Aku bahkan harus mengiba-ngiba agar dia mau bercinta di atas meja.”

Keluhan yang sama. Masalah yang biasa. Mungkin benar bahwa kau tergila-gila padanya, perempuan dengan rambut panjang, tubuh ramping, wajah cantik, dan mengagumimu tulisan-tulisanmu setengah mampus. Baginya kau adalah dewa kata-kata, bagimu dia adalah pemuja yang harus kaupelihara. 

Sedangkan denganku, kau bisa mewujudkan segala fantasi liarmu. Aku hafal Kamasutra di luar kepala, kau bisa meminta teknik yang mana saja. Aku juga bisa diajak bercinta di mana saja. Tapi kau tidak mencintaiku, bagimu aku hanya semacam pemuas nafsu. 

“Bagaimana kuliahmu?” kau ikut-ikutan menyalakan rokok.


“Aku sudah menyandang gelar doktor sejak enam bulan lalu,” mungkin kau sudah tahu, tapi berpura-pura tidak tahu.

Kau berdecak kagum. “Hebat kamu ya, bisa sampai kuliah S3 segala, di luar negeri pula. Istriku bahkan tak pernah mau membaca buku, kerjanya cuma masak, nyuci, ngurus rumah, ngurus anak.”

Kau kembali membandingkan. Lingkaran setan yang tak akan pernah selesai. Aku sendiri heran, jika ia sebebal itu, mengapa kau masih mau menikahinya? Menghabiskan bertahun-tahun hidup dengan perempuan yang katamu tak bisa apa-apa. 

“Istriku itu ….” 

“Bisa tidak kita tak usah membicarakan istrimu terus?” aku memotong sebelum kau mulai lagi. Kumatikan rokok di asbak dan berjalan ke lemari es untuk mengambil sekaleng San Miguel. Meski aku tahu untuk berbicara denganmu aku butuh minuman yang lebih keras. 

“Minggu lalu cerpenku dimuat di Kompas, kamu sudah baca?” kau berusaha mengalihkan pembicaraan, setengahnya lagi pamer kemampuan. Kemampuan yang sudah tak bisa lagi kaubanggakan. Setidaknya di depanku. 

“Oh. Baguslah. Aku belum baca,” kalimatku pendek-pendek. “Tahun depan aku dicalonkan oleh 6 partai untuk menjadi walikota,” kukatakan itu sambil lalu saja, mereguk bir dari kaleng lalu kembali duduk di samping ranjang.

Matamu membelalak. Ini jelas berita baru. Lalu kau meraih tubuhku, mendaratkan kecupan di leher dan membisikkan selarik puisi (puisimu bertahun lalu, aku sudah hafal satu per satu) dan mengakhirinya dengan kalimat keramat “aku mencintaimu”.  Kemudian kata-kata itu terlontar dengan lancar seolah-olah mulutmu adalah senapan tanpa pengaman: menikahlah denganku.

Aku ingin tertawa, terpingkal-pingkal, terbahak-bahak. Kau memang pandai sekali membuat lelucon. Aku bahkan tak ingat kapan terakhir kali kata-kata cinta itu kauhantarkan. Yang aku ingat adalah bahwa dulu aku harus memohon-mohon, merengek-rengek seperti anak kecil agar kau mau mencintaiku. Tapi tak pernah, kau tak pernah mencintaiku. 

Dulu, mungkin kau sudah lupa tapi aku tidak, kau mengataiku sebagai perempuan tolol. Persis seperti sebutan untuk istrimu yang sekarang. Dulu, kau menganggapku benda mati yang tak layak kauperlakukan dengan baik. Selalu ada cacian yang kaumuntahkan, bahkan untuk kesalahan yang tidak aku lakukan.

Tapi lihat aku sekarang. Setelah aku memiliki rumah mewah yang harganya 20 kali lipat dari harga rumah petak yang kautempati bersama istri dan tiga anakmu. Setelah aku memiliki dua mobil sementara kau hanya sanggup mengendarai sepeda motor tua warisan yang selalu mogok di tengah jalan. Setelah aku menjadi calon walikota, pemilik perusahaan perkebunan terbesar di Indonesia sementara kau hanya penulis dan pegawai biasa. Setelah aku menyandang gelar doktor sementara kau tak lulus sarjana dan istrimu hanya tamatan SMA.
Kau kembali datang padaku. Tiba-tiba kau jadi menginginkan aku lebih dari segalanya.

“Sayang, kamu mau kan jadi istriku?” bibir dan tanganmu berlomba bertamu ke tubuhku.

“Lalu istrimu? Kau akan menceraikannya?” alisku terangkat.

Kau termenung sebentar, mungkin menimbang-nimbang. “Terserah kamu saja, kalau kamu mau aku menceraikannya, akan kuceraikan. Seorang walikota tentu membutuhkan pendamping, bukan?” matamu berkedip-kedip nakal.

Aku tiba-tiba muak. Kau yang dulu mengangap dirimu raja tiba-tiba menjadi sahaya di hadapan uang dan jabatan. Kupikir hanya perempuan yang memilih jalan keselamatan semacam itu, ternyata lelaki juga.

“Maryam, menikahlah lagi denganku. Kembali menjadi istriku,” bibirmu kembali berbisik.  
Ada rasa sakit menjalar dari kepala ke dada. Barangkali tepat seperti inilah yang kaulakukan kepada perempuan itu, istrimu, bertahun lalu. Kau menidurinya, membisikkan kata-kata puitis di telinganya, mengeluh soal aku dan segala kebanalanku.  

Mungkin kau tak tahu bahwa selama kita bercinta aku tidak menyerahkan tubuhku padamu, melainkan hanya ingin membuktikan bahwa lelaki sepertimu pun bisa tunduk di bawah kuasa tubuhku. Kau tidak sadar, siapa yang tuan dan siapa yang budak. Aku menunggu saat-saat seperti ini selama bertahun-tahun.

“Sayangnya aku sedang tak berminat memiliki suami orang miskin, berpendidikan lebih rendah dariku, bajingan pula. Bermimpilah terus,” kataku sambil membenahi barang-barang, bersiap pergi meninggalkanmu.

Matamu menyala, entah tersinggung, entah merasa bahwa kata-kataku benar adanya.        
Mungkin kau tak tahu. Setiap kali sehabis bercinta, aku selalu mengeluarkan akta cerai kita dari laci meja hanya untuk memastikan bahwa namaku dan namamu masih ada di sana. Memastikan bahwa kau bukan siapa-siapa kecuali lelaki dari masa lalu dan akan tetap begitu. 

Menikahlah denganku ….

Suara keparatmu masih terngiang ketika aku melangkah ke arah pintu, sementara jauh di sana istri dan anak-anakmu pasti tengah menunggumu. Sama seperti aku, beberapa tahun lalu.
(Bandung, 27 Januari 2014)

Leave a Reply