Sejak saya bercerai dua tahun yang lalu hingga sekarang, saya hampir tak pernah mengenakan perhiasan kecuali jam tangan yang berganti setiap dua bulan sekali karena saya bosan, dan satu buah cincin perak yang saya temukan di sebuah kubangan bekas air hujan, satu hari setelah saya dinyatakan tak lagi memiliki pasangan.
Saya tidak memiliki giwang, tidak memiliki gelang, apalagi kalung dengan liontin berbentuk bintang.
Sedangkan cincin perak itu, satu-satunya perhiasan yang tetap saya pakai di jari manis sebelah kiri dan tak pernah saya lepas. Entah kenapa saya begitu tertarik dengan bentuknya, dengan kesederhanaannya. Sekilas bentuknya menyerupai cincin kawin, sehingga sesekali membuat saya berimaji bahwa saya masih menjadi milik orang lain. Cincin itu pulalah yang kerap menyelamatkan saya dari para lelaki yang menginginkan saya tapi tidak saya inginkan. Atau dari lelaki yang saya inginkan dan menginginkan saya, tapi ia dikungkung keterbatasan. Dan saya berbuat seolah-olah bahwa saya juga terkungkung keterbatasan.

Saya bangga menjadi single parent bukan karena saya ingin dianggap hebat dan perempuan kuat. Saya bangga dengan status ini karena saya mencintai diri saya sendiri.

Cincin itu saya pakai sampai sekarang bukan dengan harapan bahwa suatu hari nanti akan ada yang menggantinya dengan sebuah cincin kawin betulan. Saya tetap memakai cincin itu sebagai simbol bahwa saya pernah jadi perempuan yang diinginkan. Pernah jadi perempuan yang menyandang status sebagai istri, pendamping laki-laki.
Cincin itu saya pakai sebagai pengingat bahwa saya pernah menikah dan melahirkan seorang putri.
“Suatu hari, akan aku ganti cincin ini dengan cincin kawin yang asli,” itu kata seseorang.
Tapi saya takut berharap karena memasang asa pada dinding hati membuat saya jadi mahluk lemah dan lengah. Entahlah.
Ide memiliki cincin kawin asli bagi saya terlalu utopis. Sebuah mimpi yang teramat fantastis sehingga sangat sulit mewujudkannya.
Bukan dalam artian bahwa di dalam hidup saya tidak ada laki-laki yang ingin memperistri, tapi karena di dalam hidup saya, laki-laki dengan niat tulus nyaris tidak ada. Pernikahan hanya dipandang sebagai jalan untuk melegalkan kegiatan ranjang. Pernikahan hanya dianggap sebagai satu-satunya jalan untuk mengendalikan.
Saya tidak suka konsep itu, mereka tidak suka konsep saya. Jadi pernikahan itu hampir pasti tidak akan pernah ada.
Tidak akan pernah ada.

Leave a Reply