Ketika cinta mulai dipasangi argometer, ia tidak akan berhenti menghitung, mengira-ngira, menafsir, dan memberi label harga pada setiap rasa. Ia akan jadi seperti tengkulak yang serakah meminta, namun ketika harus memberi ia pura-pura lupa. Atau seperti asuransi yang memeras polis, tapi tak ada garansi bahwa tabungan hati itu akan kembali. Cinta yang seperti itu adalah imitasi.
Dan ketika cinta bersembunyi di balik punggung rasionalitas, ia tak akan berhenti mencari alasan, pembenaran, kausalitas, dan rujukan ilmiah untuk seluruh rasa. Ia akan memuja logika, tanpa mengindahkan bahwa hati bukanlah ilmu eksak yang bisa dipecahkan dengan rumus-rumus fisika, kimia, atau matematika. Cinta yang seperti itu hanyalah maya.

Pada saat cinta mulai disandingkan dengan kalkulator, ia kan mulai menjumlahkan, mengurangi, mengkalikan, dan membagi dalam setiap kesempatan. Ia akan membentangkan neraca rugi laba di atas meja. Seperti akuntan atau auditor keuangan yang selalu menemukan selisih di setiap laporan. Cinta yang seperti ini pun tak akan sanggup bertahan.
Membicarakan cinta berarti membahas mahluk tak kasat mata yang bisa menjadi benalu atau menyaru jadi hantu. Tidak ada satu jurnal ilmiah pun yang bisa membelah dan mencacah untuk menemukan bentuk aslinya. Jadi, untuk apa kita harus susah-susah?
Membebani cinta dengan segala macam perhitungan logika akan membuat ia terbebani dan kita hanya akan mendapat ampas tanpa bisa menemukan esensinya. Mengapa harus repot-repot melabeli hati kita sendiri dengan gantungan harga, sedangkan cinta itu tak pernah sekalipun peduli akan fluktuasi pasar. Ia memberi hanya karena ingin memberi. Menerima hanya karena harus menerima. Tak ada keterpaksaan, tak ada pamrih, dan tak ada perhitungan macam manapun.
Menilai seseorang yang kita cintai dari status sosialnya, jabatannya, harta warisannya, tingkat pendidikannya, pendapatan per tahunnya, dan segala pertimbangan materi hanya akan membuat kita sakit jika yang pasangan kita miliki ternyata tak sesuai dengan kriteria.
Realistis adalah mencoba menilai segala sesuatu tanpa menutup-nutupi, tanpa menyembunyikan, tanpa menimbang-nimbang. Cinta ya cinta. Terlepas dari segala macam pertimbangan. Karena kepemilikan, pernikahan, pacaran, dan sebagainya adalah fungsi turunan dari cinta, dan sangat berbeda.
Coba rasakan betapa melelahkan saat kita harus mengekang mahluk yang kita tahu tak bisa dikekang. Lepaskan ia, biarkan ia menyelimuti Anda dengan segala macam rasa yang ia bawa. Tugas Anda adalah merasakan, bukan berjibaku dengan keputusan.
Jika cinta hadir, terimalah ia dengan sukarela. Pun jika ia pergi, antarlah ia ke depan pintu dan ucapkan selamat jalan. Tak ada yang patut disesali atau ditangisi.
Hati kita bukan argometer atau cash register. Hati kita bukan komoditas yang patut diperjualbelikan. Biarkan ia bebas merasa. Bebas mengecap cinta.


Ilustrasi dipinjam dari: http://mainanbocah.wordpress.com
Please feel free to share

Leave A Comment