Setiap kota tentu memiliki masalah intern sendiri-sendiri. Contohnya di Batam, jalan-jalan di sini lebar dan lurus membentang, tapi pengguna jalannya lebih buruk dari kota manapun yang pernah kukunjungi. Jika di Bandung, yang bikin macet itu angkot. Maka di sini yang sering bikin ulah adalah semua pengendara yang turun ke jalanan. Suer, baru di sini aku melihat begitu banyak sepeda motor yang bertebaran di jalanan.


Apakah karena taraf ekonomi masyarakat Batam yang tinggi, sehingga semua orang memiliki motor sendiri. Setidaknya dalam satau keluarga ada satu kendaraan lah. Atau karena emang terlalu banyak tempat yang tidak bisa diakses oleh kendaraan umum sehingga yang tak punya kendaraan sendiri susah keman-mana. Nggak tahu juga, yang jelas pemerintah Batam belum lagi membatasi pembelian kendaraan seperti di kota besar lainnya. Belum aja kali, karena setahuku sih di sini nggak pernah macet.



Entah karena jalan-jalannya lebar dan lurus kayak jalan tol, jadi para pengendara selalau memasang kecepatan di atas 80 km/jam. Masih mending kalu jalurnya beraturan, ini nggak. Sepanjang pengetahuanku, lajur kiri untuk melaju seperti biasa, lajur kanan untuk mendahului. Yang ada malah ketuker-tuker. Banyak racer dadakan yang menganggap jalanan Batam adalah punya nenek moyangnya. Maen salip en ngebut seenak udel mereka sendiri.


Pengalamanku, kalau mau menyeberang jalan: jangan menyebrang di tengah-tengah. Mendingan cari lampu merah, tempat semua kendaraan berhenti dengan sendirinya tanpa kita suruh (walau kadang mereka sering buta warna juga, jadi warna lampu yang kelihatan cuma ijo). Karena apa coba? Karena meski menyeberang di zebra cross, besar kemungkinan kita akan ditabrak juga.


Sudah menjadi budaya, para pengendara tidak akan memperlambat laju kendaraannya walaupun ada orang yang mau menyebrang jalan dalam radius dua puluh lima meter di depannya.


Aku tak tahu apakah gerakan safety riding dengan memakai helm standard itu juga dibarengi dengan kesadaran dari masing-masing pengendara atau tidak. Sebab pakai helm pun kalau ugal-ugalan kan percuma. Ceritanya mau meminimalisir efek dari kecelakaan lalu lintas, tapi kok nyerempet-nyerempet yang bisa menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Kan aneh!


Jalan raya kota Batam bagiku adalah arena balapan. Membuatku selalu bernafas lega dan bersyukur masih hidup ketika sampai di rumah sehabis berpergian.


Kemarin aku hampir ditabrak mobil waktu nyebrang di depan Nagoya Hill, padahal sudah wanti-wanti melambaikan tangan dari kejauhan. Eh pas aku ada di tengah-tengah jalan gitu, itu mobil malah tancap gas. Jeep putih, pengendaranya laki-laki, usia 35-an. Untuk aja aku nggak bisa telekinesis, kalo sempet punya, tuh mobil udah mental sampai ke Puri Garden. Atau kalau aku sukses ditabrak dan meninggal, aku bakalan jadi pocong dan menghantui penabrak itu, selamanya, sekeluarga, dan setujuh turunan. Nah, rasain lo!


Pernah juga lagi enak-enakan jalan di pinggir (berhubung nggak ada trotoar) di jalan Raja Ali Haji, pas belok ke arah Rumah Makan Mak Ateh, tiba-tiba ada motor yang juga belok dan terlalu minggir. Keserempet deh. Anehnya, yang marah-marah bukannya aku, malah dia dengan istrinya. Dibilangnya aku kalau jalan harus pake mata. Yeee…diman-mana juga kalau jalan mah pake kaki atuh. Aneh kan? Dia yang nyerempet, dia juga yang caci maki aku di depan semua orang, di tempat publik. Ini masalah jalan yang nggak punya trotoar atau emang attitude orang-orang yang kian tergerus zaman? Entah, yang jelas sore itu aku jadi niat belajar santet (becanda dung).


Jangan lewat di kawasan Batu Ampar pada saat jam pulang kerja. Tepatnya di Jl. Yos Sudarso. Pada saat satu kendaraan melaju, maka yang bisa menghentikan atau memperlambat lajunya hanyalah Allah SWT Sang Pemilik Segalanya. Repot nggak tuh? Secara gitu lho, ada nenek-nenek atau ibu hamil tua nyebrang jalan aja, nggak ada yang satu pun kendaraan yang mau memperlambat apalagi sampai berhenti. Alasannya? Ngejar waktu.


Sekali lagi, bolehkan aku membandingkan kota ini dengan Bandung? (nggak usah marah dengan raut muka mengusir gitu dong) yang aku tulis kan kritikan yang membangun. Jadi begini, di Bandung; meski sering macet, tapi kalau ada orang yang mau nyebrang, setidaknya para pengendara melambatkan laju kendaraannya. Apalagi kalau dilihatnya ada ibu hamil lagi nyebrang, langsung deh pada berhenti. Macet-maceh dah, yang penting ntu orang nyebrang jalan dengan selamat.


Kenapa sih aku sewot mengenai ini? Emangnya kalian nggak? Tingkat kecelakaan di sini tinggi, Bu! Tinggi, Pak! Coba deh baca koran tiap hari. Ada yang ditabrak motor lain lah, ada yang tergilas truk lah, ada yang diserempet mobil fuso lah. Kalau mau mengadakan analisis mendalam, maka kalian tidak akan mendapatkan penyebab kecelakaan yang alami. Misalnya karena ban bocor, atau disambar petir waktu naek motor. Nggak ada kan? Yang ada adalah; karena melaju terlalu kencang, sehingga mobil fuso di depan nggak kelihatan. Karena menyalip kendaraan di depannya, eh ternyata dari arah yang berlawanan ada bus yang juga melaju kencang, ketabrak deh. Karena berusaha nggak telat sampe ke PT, terus menerobos lampu merah, terus dihajar trans dari sebelah kiri jalan.


Pokoknya ini PR buat bapak-bapak dan ibu-ibu di polantas. Digimanain gitu para pengendara ini supaya attitude-nya lebih baik. Terus bagi para pengendara: kalau mau celaka, ya celaka aja sendiri, nggak usah bawa-bawa atau nabrak orang lain, oke? That’s your life, your own right. Tapi dengan punya kelakuan seperti itu, kalian membahayakan nyawa orang lain. Hidup orang lain! Aku cuma berharap nggak ada lagi yang tangannya patah kayak aku akibat keganasan pengendara di jalan.

4 Comments

  1. Skylashtar-Reply
    April 20, 2009 at 2:06 pm

    Aih, kalo aku sih mendingan jantungan daripada tongpes. Hahaha, becanda Mba! Safety riding emang harus dimulai dari diri sendiri sih. Itu yang susah. Kayaknya semua harus ditraining dulu cara menggunakan rem dan membaca spedo meter.

  2. April 20, 2009 at 7:56 am

    huahahhaha…
    baru tau kalo di batam itu yg punya kendaraan pada rada gak jelas
    yang pasti..yg punya kendaraan di batam
    kalo gak yg bawa gak tau aturan sama yg SIM nya nembak bahkan gak punya SIM
    tanyaain aja sama supir carry2 itu
    dijamin kalo ada razia pasti mangkal ^_^

  3. Linda-Reply
    April 20, 2009 at 2:02 pm

    Susan,
    tulisan ini mewakili rintihan hatiku yang paling dalam…sangat2 setuju..!!!
    Setiap hari puluhan jiwa melayang di jalan raya…blm lagi yang patah tulang ataupun geger otak..atau tergeletak di RS. Kecelakaan berdarah bukan lagi pemandangan yang luar biasa di Batam.. Bukan hanya motor, tapi juga angkutan umumnya. Sebagai rakyat kecil yang masih tetap harus menggunakan angkutan umum murah meriah, hanya Bis kota DAMRI satu2nya idolaku..sayang..kehadirannya tak selalu sepanjang waktu & hanya area tertentu… baik taksi/angkot ataupun metrotrans, seringkali aku harus 'turun naik' jika sang supir tak mau mengurangi lajunya…jadi rugi deh..harus tetap bayar meski blm sampai tujuan…namun daripada jantungan…

    Didalam tulisan ini sudah tercakup semua permasalahan dan jalan keluarnya…hanya mungkin perlu ditambahkan lebih banyak lagi baliho ttg akibat kecelakaan la-lin & nasehat utk selalu berhati2..dan penerapan sangsi yg tegas bagi pelanggar aturan,,serta training kesadaran berlalu lintas..bagi pengendara motor dan supir angkot..

    Salam Safety..
    Linda.

  4. Skylashtar-Reply
    April 23, 2009 at 12:26 pm

    Wah, ternyata tulisanku menimbulkan kontradiksi. Di satu sisi, pengen promosi aset wisata Batam. Di sisi lain, malah nakutin-nakutin orang yang mau datang. Ihiks ihiks…semoga karena ini aku nggak lantas diusir oleh Pak Ria. Btw, sekarang agak susah Mas masuk ke Batam. Harus pakai uang jaminan dan punya saudara yang bisa menjamin juga. Ini untuk meminimalisir tingkat kejahatan akibat banyaknya pengangguran. Makanya, silakan baca dulu postingan teman-teman lain tentang Batam di sini: http://lombablog.batamblogger.com

Leave a Reply