“Bagaimana rasanya berciuman?” tanyamu. 


Aku diam sebentar, mencoba mengingat, mengais-ngais gorong-gorong kenangan tentang bibir yang bertaut lembut, tentang lidah yang saling melumat, tentang desah yang selalu mengambil tempat. 

“Tak tahu,” aku menggeleng. 

“Tak tahu?” kau mengulang jawaban menjadi pertanyaan. 

Aku mengangguk, hanya mengangguk. Kadang aku heran, bagaimana mudahnya sebuah jawaban bisa kau putar menjadi pertanyaan yang lebih tak terbantahkan hanya dengan pergantian nuansa suara dan raut muka. Ah, tapi itu sudah terbiasa. Hidupmu bahkan telah kau ubah menjadi pertanyaan yang lebih besar, lebih liar dan sasar. 

“Bagaimana rasanya berciuman?” tanyaku. 


Jika kau pikir hanya kau yang bisa mengajukan beban, maka kau salah. Kali ini juga kau tak akan mampu menjawab sebab aku tahu kau tak memiliki kenangan tentang apa-apa. Tidak sepertiku yang menyimpan berjuta rasa dalam indera. Meski indera-indera itu sudah mati suri sejak hari-hari kemarin dan tertimbun bagai fosil, tapi setidaknya masih ada yang bisa kusimpan, tidak seperti kau. 

“Kemarilah, akan aku tunjukkan!” kau menarik tubuhku. 

Aku terhenyak. Maka dengan penuh kerelaan kudekatkan wajahku ke wajahmu. Bibirku ke bibirmu. Kau memagut aku memagut, kau melumat aku melumat.

“Nah, begitulah rasanya berciuman,” kau menyeringai, dari balik cermin sementara aku menggelosor ke lantai, menangis sambil menelusuri bibir yang kian dingin. 

Leave a Reply