Aku tak tahu bagaimana cara mengingatmu dengan tepat, sebab segala sesuatunya berkelebat begitu cepat dan singkat.  Bermula dari satu desir ketika tangan kita saling menyisir kemudian berlanjut dengan gelenyar debar-debar samar.  Semesta, adalah kubangan harap dan firasat.  Aku sendiri terjebak ke dalamnya dan tak mampu untuk sekadar berjingkat.  Tiba-tiba aku tersaruk-saruk mencari berbagai pertanda dari jagad raya.  Berusaha mewujudkan apa saja harap yang bercokol di kepala.

Dan di sinilah kita sekarang; berada di jejalan yang sama, saling bergenggaman tangan, merapal cinta dan berbagi kehangatan.  Hujan mungkin, adalah riak-riak yang selalu ada dari setiap perjalanan.  Pernah kita menuai warna badai, namun cinta selalu mengenal kata pulang dan hari kembali benderang.  Pernah pula kita terkungkung di ilusi-ilusi yang didatangkan pergantian musim dan malam-malam paling jengat.  Tapi, kita tetap kembali, selalu kembali.

Semoga kelak, badai yang pernah kita tuai menjadi semacam antitoksin agar segala bisa tak dapat lagi mengeja.  Semoga kelak, semua mimpi dan harap yang kita rajahkan menjelma nyata paling gemerlap, bukan hanya mimpi-mimpi gelap dan lelap.  Semoga apapun yang menanti di depan jalan dan setiap tikungan dapat kita leburkan dengan dada lapang dan hati yang tenang.

—Sejuta cinta, mimpi, dan doa

Untuk Raja Lege—


Leave a Reply