Dari Debu ke Debu, dari Abu ke Abu

“Tuhan … Tuhan … Tuhan ….”

Tiga tahun lalu, seorang perempuan meringkuk di sudut ruangan dengan mata berkaca dan bibir bergetar-getar. Jika usia bisa dipangkas begitu saja, ia ingin sekali mati saat itu juga. Baginya hidup sekadar neraka yang membuat ia terbakar dan tersiksa.

“Tuhan … Tuhan … Tuhan ….”

Ia kembali merintih, memanggil satu nama, meminta pertolongan. Sebab ada rasa sakit yang tak sanggup ia hela meski dengan sekuat tenaga. Badannya bergetar ketika peristiwa demi peristiwa berkelebat di kepalanya. Ketika suaminya, lelaki yang nyaris ia anggap sebagai dewa, memperkenalkan perempuan lain sebagai pengganti dirinya. Ketika suaminya, ayah dari anak yang tengah ia kandung, tidak mengakui janin yang berdetak di dalam rahimnya. Ketika ia untuk pertama kalinya berlutut di hadapan seorang manusia, menangis sepenuh luka, meneriakkan kalimat yang tak akan pernah ia lupa, “Ayah, ini anak kamu, Ayah ….”

Tapi lelaki itu pergi. Kepada hati yang lain. Kepada pelukan perempuan lain.

“Tuhan … Tuhan … Tuhan …”

Di kamar yang gelap, di tengah malam yang senyap. Ketika semua orang pergi. Ketika orang-orang yang dia anggap teman mulai menganggapnya drama atau nyaris gila. Ketika seluruh dunia seakan tertawa menyaksikannya terpuruk ke jurang paling dalam. Hanya satu nama itulah yang ia harapkan.

“Tuhan … aku ingin sekali berhenti percaya kepadaMu. Aku bahkan sudah melepaskan diriku sendiri dari belenggu agama, candu yang selama ini ia, suamiku, isap setiap saat namun tak jua menjadikannya manusia. Namun, ada setitik nyala di dalam sini, nyala yang membuatku senantiasa percaya kepadaMu. Kali ini, aku tak akan meminta apa-apa. Kau sudah tahu jalan ceritanya. Lakukan saja apa mauMu. Kuserahkan diriku sepenuhnya kepadaMu.”

♥♥♥

Ia, perempuan itu, tidak pernah tahu apakah Tuhan memang sedang berbaik hati atau justru mengazabnya berkali-kali. Yang ia tahu, ia hanya percaya, segala sesuatu di luar itu tak lagi dipedulikannya. Baginya, doa pantas dipanjatkan oleh siapa saja. Termasuk olehnya.

Ketika ia dengan mata kepala sendiri, tanpa sengaja membaca pesan demi pesan suaminya dengan perempuan lain, pesan berisi janji pernikahan, janji-janji pertemuan, dan percakapan-percakapan yang membuatnya ingin muntah, ia patah-sepatah patahnya. Ia bahkan tidak tahu jika suami yang selama 9 bulan pernikahan begitu ia hormati ternyata tak lebih dari bajingan, lelaki yang menyimpan hatinya di selangkangan.

Satu jawaban dari sebuah doa.

Ketika suaminya datang, menyampaikan hal-hal yang menjijikkan. Mengatakan dengan lantang bahwa ia dengan perempuan lain itu sudah pernah melalui malam-malam bersama, ia tak sanggup menahan retakan di dada.

Dua jawaban dari sebuah doa.

Ketika janin yang tengah ia kandung pada akhirnya luruh dari rahimnya, diambil kembali oleh Sang Pemilik, ia hanya menangis di sudut kamar mandi. Tak ada yang bisa menandingi rasa sakit seorang ibu saat kehilangan buah hati. Dengan segenap luka ia meminta, “Tuhan, kembalikan Ziarre padaku.”

Tiga jawaban dari sebuah doa.

Ketika satu per satu peristiwa datang dan hilang. Ketika satu per satu doa penyerahan dirinya dikabulkan. Ia memutuskan mati untuk yang terakhir kali.

♥♥♥

Perempuan itu, Skylashtar Maryam, mati tiga tahun lalu. Hidup kembali dengan nama baru: Langit Amaravati.

Namun, hidup sejatinya adalah perputaran samsara. Dan rantai karma yang membelenggunya belum usai, masih ada satu doa yang ditangguhkan oleh Tuhan. Doa yang kemudian dikabulkan tak lama kemudian.

bersambung

7 Comments

  1. July 27, 2016 at 7:26 am

    Turut meng Aaminkan seleruh doa teh langit 🙂 semoga sehat selalu ya teh, salam untuk putra dan putri teteh 🙂

    ttd,
    fans berat tulisan-tulisan teh langit 😀

  2. July 27, 2016 at 4:42 pm

    Selalu suka caramu merangkai aksara
    Semoga terkabul doa2mu ya mbak
    Salam buat Aksa

  3. July 28, 2016 at 12:26 am

    Sukaaa sama goresan ini.

  4. July 28, 2016 at 1:32 pm

    Semoga semua doa teh Langit bisa terkabul , pokoknya sekeluarga selalu diberikan penuh cinta, rejeki berkah berlimpah.

  5. July 30, 2016 at 10:24 am

    Aku speechless kalau baca tulisan-tulisan mu yg model begini. Aku doain aja kamu berlimpah berkah. Wess itu aja.

  6. July 30, 2016 at 8:51 pm

    Dear all,

    Aamiin untuk semua doa baik. Terima kasih 🙂

Leave a Reply