Tidak banyak yang berubah dari Nani, senyumnya masih sama, gaya bicaranya masih sama, caranya memanggil nama saya juga masih sama. Ia masih perempuan yang saya kenal sejak puluhan tahun silam, teman sekampung, teman sepermainan, teman satu kelas ketika SD. Yang berbeda mungkin hanya raut wajahnya yang dimakan usia, sama seperti wajah saya, juga anak-anak yang kini memanggilnya “mamah”.
Perempuan ini, Nani, agak kurang beruntung dalam hal sekolah. Berbeda dengan saya yang bisa mengenyam pendidikan sampai SMK, ia justru harus berhenti sampai SD. Apalagi kalau bukan karena faktor biaya. Ketika saya SMP, Nani sudah bekerja di pabrik pembuatan boneka. Ketika remaja, saat saya masih berkutat dengan buku-buku pelajaran, novel, dan Linkin Park, Nani sudah bekerja di pabrik tekstil. Ia hanya satu dari sekian perempuan Babakan lain yang menjadi bagian dari dosa-dosa Disnaker: buruh di bawah umur.
Belasan tahun silam, saya sempat berpikir bahwa perempuan-perempuan sebaya saya yang tidak mengenyam pendidikan cukup sama sekali tidak memiliki harapan dalam hidup. Namun, garis tangan setiap orang adalah hak prerogatif Tuhan. Siapalah saya yang berani-beraninya meramalkan kisah hidup Nani?  

♥♥♥

Saya sudah meninggalkan Babakan Sukaresik, kampung tempat saya lahir dan dibesarkan, sejak tahun 2003. Hanya kembali sesekali atau saat Idul Fitri. Sebetulnya, Babakan agak kurang tepat disebut kampung karena letaknya yang berada di Kota Bandung, diapit oleh perumahan mewah, hotel megah, dan pusat-pusat perbelanjaan untuk kelas menengah. Meski pada hakikatnya, Babakan tetap saja kampung. Berisi rumah-rumah kecil yang berdesakan, diarsir dua buah gang yang tak lebih lebar dari teras di kosan saya. Penduduknya pun masih sama, berisi para lelaki yang nyaris seluruhnya bekerja sebagai kuli bangunan, para perempuan yang bekerja sebagai buruh cuci atau pelayan, dan anak-anak yang dua pertiganya lulus SMU dengan susah payah sedangkan sisanya putus sekolah. Dalam satu dekade, hanya lima orang yang mengenyam bangku kuliah.
Di momen-momen Lebaran itulah saya akan bertemu Nani, ibu rumah tangga biasa yang sekarang bekerja sebagai buruh cuci, lulusan SD, punya tiga orang anak, tapi hidupnya … bahagia.
Setiap kali pulang kampung, cerita tentang Nani dan kehidupan rumah tangganya kerap mampir di telinga saya. Bahwa suaminya, meskipun mantan preman, adalah lelaki yang betul-betul bertanggung jawab. Lelaki yang tidak pernah malu mengerjakan apa pun dari mulai kuli bangunan, tukang parkir, berdagang, sampai makelar untuk pembuatan STNK. Bahwa sejak berumah tangga, suaminya rajin ke masjid, tidak banyak tingkah seperti mantan preman lainnya.
Orang-orang di kampung saya selalu memiliki alasan untuk bergunjing tentang siapa saja, tapi Nani adalah pengecualian. Cerita tentang Nani paling-paling hanya seputar bahwa sekarang rumahnya yang sepetak itu sudah dibangun menjadi tiga tingkat sehingga anak-anaknya punya tempat untuk tidur, tidak lagi berdesakan di ruangan 4×4 meter yang merupakan tanah warisan dari orang tua Nani.
Suatu kali, entah di Lebaran yang mana, saya lupa, kami sempat berbincang bersama kawan sebaya lainnya. Biasalah, bertukar kabar dan bercerita tentang anak-anak, sesekali menertawakan masa kanak-kanak kami sendiri.
“Usan mah enak ya, kerja di kantor, punya duit sendiri. Bebas ke mana-mana, dandan cantik. Kadang aku iri sama kamu,” kata Nani.
Saya tertawa mendengar ucapannya, “Aku kerja karena terpaksa, Nan. Karena aku nggak punya suami. Aku justru lebih iri sama kamu, punya suami yang bertanggung jawab, bisa tinggal bersama anak-anak kamu. Aku dandan karena tuntutan pekerjaan, bukan karena ingin terlihat gaya atau kaya.”
Dia diam, mungkin merenung, mungkin sedang mencerna kata-kata saya.
“Kamu bahagia, Nan?” tanya saya kemudian.
Ia mengangguk, tersenyum.
“Aku tidak … belum,” pandangan saya menerawang udara. “Aku bekerja karena tidak punya banyak pilihan. Kalau aku punya, aku ingin seperti kamu, jadi ibu rumah tangga, mengurus anak-anak.”
“Dan punya suami buruh bangunan?” celetuknya disertai tawa tertahan.
Tawa saya pun ikut berderai. “Lelaki, Nan. Tidak dilihat dari jenis pekerjaannya, tapi dari perannya terhadap keluarga. Aku sudah pernah menikah berkali-kali, ingat? Aku sudah pernah berurusan dengan berbagai macam lelaki yang memiliki pekerjaan dan jabatan jauh lebih tinggi daripada suami kamu. Tapi tidak ada satu pun dari mereka yang cukup sadar untuk menjadi suami dan ayah, seperti suami kamu.”
Kening Nani berkerut.
“Jadi apa yang membuat hidup kamu bahagia?” kali ini saya yang bertanya.
“Nggak tahu, daaku mah hidup ya jalani aja. Syukuri yang aku punya. Nggak terlalu banyak keinginan, seadanya, sederhana.”
Sederhana. Seadanya. Sekadar menjalani hidup tanpa banyak keinginan. Dada saya tertohok. Konsep bahagia ternyata tak sepelik seperti yang saya pikirkan.

♥♥♥

Lebaran tahun ini, saya kembali bertemu dengan Nani, saling berjabat tangan, bertukar kabar. Anaknya sudah bertambah menjadi empat orang. Namun, si bungsu bukan anak kandungnya, melainkan anak saudara yang ia urus karena ibu anak itu meninggal dunia.
Ah, Nani. Di tengah kesederhanaan, kau bahkan masih sempat menjadi payung bagi manusia lainnya. Dan senyum itu masih sama, senyum perempuan yang saya kenal sejak puluhan tahun silam. Caranya memanggil nama saya masih sama, seperti puluhan tahun silam, ketika kami masih sama-sama berlomba menghafal Alquran, ketika kami masih sering bermain di tegalan, ketika kami masih kanak-kanak.
Nani, perempuan yang hanya saya temui setahun sekali. Yang berbahagia dengan caranya sendiri. Nani, seorang istri dan ibu yang jauh dari ingar bingar dunia yang selama ini saya jalani.
Berbahagialah selalu, kawan. Tahun depan, jika kita diberi usia untuk berjumpa lagi, semoga kita masih bisa berbincang sambil tertawa. Semoga bisa kukatakan kalimat-kalimat yang selama ini kusimpan.
“Aku sedang belajar berbahagia, Nani. Dengan cara paling sederhana. Cara yang kau ajarkan.”  
~eL

5 Comments

  1. July 13, 2016 at 11:00 am

    Aiiih, keren Nani. Bahagia itu memang sederhana, mensyukuri apa yang kita punya. Tong loba kahayang. Hahaha.

  2. July 13, 2016 at 12:22 pm

    Tong loba ceta mun ceuk kolot mah. Hahaha.

  3. July 13, 2016 at 1:51 pm

    Hidup memang nggak selayaknya kita buat pelik. Asal bisa mensyukuri nikmay yang sederhana saja harusnya udah bikin manusia bahagia, ya.

  4. July 13, 2016 at 3:12 pm

    salam buat mak nani, trimakasih tlah mengajarkan arti kebahagiaan yg baru

  5. July 14, 2016 at 5:38 am

    Bagus teteh,,,,terharu bacanya….

Leave a Reply