Dear Tuan Ignatius Jonan, Revolusi Atau Mati

Foto: Gojek


Dear Tuan Jonan,

Selamat pagi. Apa kabar Tuan hari ini? Sudah ada di kantor? Naik apa tadi dari rumah? Ah, saya yakin Anda punya mobil pribadi berpendingin udara lengkap dengan sopir juga beberapa pengawal yang akan membukakan dan menutupkan pintu. Namanya juga menteri, untuk apa repot-repot berdesakan di metromini atau berdesakan di pintu masuk busway? Saya juga yakin bahwa fasilitas yang diberikan negara kepada para pejabatnya tidak akan memicu kesenjangan sosial. Kami, rakyat yang Anda anggap dungu ini, tidak akan berani protes. Toh, kami sudah paham bahwa di Indonesia posisi kita sering kali terbalik. Kamilah yang harus melayani orang-orang seperti Anda, bukan sebaliknya.

Saya hanya penasaran tentang apa yang tengah Anda pikirkan ketika menandatangani Surat Pemberitahuan Nomor UM.3012/1/21/Phb/2015. Tuan melarang operasi angkutan umum berbasis aplikasi karena tidak sesuai dengan undang-undang dan keputusan menteri? Karena keberadaan moda transportasi seperti Go-Jek mengancam jenis transportasi konvensional lainnya? Karena hal ini memicu kesenjangan sosial tentang pemerataan penghasilan? Konflik sosial?

Tuan, tahu apa negara tentang pemerataan penghasilan? Selama ini Anda berada di mana ketika para SPG di pertokoan dibayar dengan gaji di bawah UMK? Selama ini Anda berada di mana ketika minimarket merek luar mendesak warung-warung kecil dan pasar tradisional? Selama ini Anda berada di mana ketika para penarik becak terpaksa mencari mata pencaharian lain karena dilarang beroperasi? Selama ini Anda berada di mana ketika bajaj dilarang melintasi jalan-jalan protokol di Jakarta yang gagah? Selama ini Anda berada di mana ketika tarif angkutan umum mencekik kami karena kenaikan BBM?

Keamanan? Apa kabar metromini yang menerobos pintu lintasan kereta api dan menewaskan 13 penumpang beberapa minggu lalu? Apa kabar copet-copet yang beraksi di angkot dan bus antar kota? Apa kabar perempuan-perempuan yang diperkosa di dalam taksi? Apa kabar pelecehan seksual di commuter line?

Kelayakan? Apa perlu saya ingatkan tentang kondisi bus DAMRI yang sudah uzur tapi masih dipaksakan untuk beroperasi? Apa perlu saya ingatkan tentang kondisi gerbong kereta api yang lebih layak disebut kandang pengangkut ternak daripada moda transportasi untuk manusia?

Macet? Tuan, macet bukan hanya masalah infrastruktur yang tidak memadai, tapi juga masalah budaya. Kalau Tuan pernah memerhatikan, mobil-mobil pribadi yang berkeliaran di jalanan hanya dikendarai oleh satu orang. Pernahkah kami, para pengguna transportasi umum nyinyir terhadap kelas menengah yang merajai jalanan? Tidak, Tuan. Kami cukup tahu diri.

Segala masalah yang terjadi mengenai transportasi umum adalah kegagalan Anda sebagai menteri, Tuan. Bukan karena anak-anak muda yang membuka mata terhadap perkembangan teknologi.


Tapi, terima kasih lho atas kepedulian Anda terhadap keselamatan kami para penumpang, sayangnya kami tidak begitu terkesan. Undang-undang, keputusan menteri, dan surat larangan yang Anda sebut-sebut itu tidak memberikan solusi kecuali mengatakan kepada kami bahwa negara kita tidak pernah siap menghadapi tantangan zaman.
Tidak, saya tidak perlu mengatakan kepada Anda bahwa undang-undang perlu diamandemen karena seperti kita tahu, para pelawak di DPR terlalu sibuk memperkaya diri sendiri. Saya juga tidak perlu mengatakan kepada Anda bahwa di lapangan, ojek pangkalan sendiri sudah melebur diri, menyesuaikan dengan revolusi teknologi transportasi. Iya, di Cimahi sini, para driver Go-jek adalah para ojek pangkalan itu sendiri. Tapi mungkin Anda tidak mau tahu karena yang muncul ke permukaan justru kisah-kisah menyesakkan.

Tidak, saya juga tidak perlu mengatakan bahwa pertentangan dan bagi-bagi rezeki sudah lama ada, jauh sebelum moda transportasi online lahir. Di Pasteur, Tuan. Angkot Sarijadi-St.Hall hanya boleh beroperasi sampai pukul 11 malam. Di Cimindi, Tuan. Satu-satunya angkot yang menuju ke Bandung hanya boleh beroperasi sampai pukul 6 sore. Di Cisitu, Tuan. Satu-satunya angkot hanya boleh beroperasi sampai pukul 7 malam. Setelah itu digantikan oleh ojek pangkalan.Β Kalau ada sopir angkot yang nekad menaikkan penumpang, siap-siap saja dihajar, dalam arti harfiah. Apa? Organda? Oh jelas mereka tahu. Pembagian rezeki seperti ini sudah menjadi kesepakatan tak tertulis. Begitulah kami, orang-orang di bawah sini berbagi rezeki, Tuan. Kami tidak perlu keputusan menteri hanya untuk mengatur pemasukan. Kami percaya kepada Tuhan.

Tidak, saya juga tidak perlu mengatakan bahwa keberadaan transportasi alternatif ini telah menyerap puluhan ribu tenaga kerja, sesuatu yang selalu gagal dilakukan negara. Memangnya apa peduli negara terhadap para pengangguran yang tidak bisa diserap sektor formal karena mereka tidak memiliki pendidikan yang memadai?

Tidak, saya juga tidak perlu mengatakan bahwa transportasi umum yang sudah ada saat ini tidak bisa memenuhi kebutuhan kami. Tarif yang tinggi karena harga BBM yang mencekik. Anda tahu berapa uang yang harus saya habiskan setiap kali bepergian dengan angkutan umum? Sekitar 50 ribu, Tuan. Uang yang bagi Anda barangkali tidak berarti apa-apa. Apa saya salah jika memangkas ongkos hingga 30 ribu? Selisih 20 ribu bisa memberi saya makan untuk satu hari, Tuan. Begitulah kami, rakyat Anda yang miskin ini berjuang menghadapi hidup di tengah negara yang carut marut. Ah, tapi Anda mungkin tidak tahu.

Rasanya saya juga tidak perlu mengatakan bahwa yang kami beli dari moda transportasi alternatif ini bukan hanya tarif, tapi juga waktu. Seperti yang dikatakan teman saya Teh Dini. Anda tahu berapa jam yang harus kami habiskan di jalanan? Dari angkot ke angkot, dari bus ke bus, dari commuter line ke commuter line? Berjam-jam. Kami rakyat yang menua di jalanan, Tuan. Tapi, sekali lagi, mungkin Anda tidak tahu. Yaaa … Anda kan menteri. Kalau bosan dengan kemacetan Anda hanya tinggal meng-hire polisi yang akan dengan senang hati menyalakan sirine untuk memberi Anda jalan. Kami tidak punya kemewahan seperti itu, Tuan.


 

Atau perlu saya ingatkan bahwa setiap generasi menghadapi tantangannya sendiri-sendiri? Bahwa geliat ekonomi dan teknologi adalah sesuatu yang tidak bisa dibendung? Kalau Anda khawatir, terhadap keselamatan kami, berikan saja pembinaan terhadap ojek-ojek online. Karena kendaraan roda dua tidak layak menjadi transportasi umum? Memangnya Anda pikir ojek baru ada tahun lalu? Yang benar saja.

Anda dan Organda seperti jerapah-jerapah keras kepala yang tidak mau memanjangkan leher meski tahu bahwa makanan ada di pohon-pohon berdahan tinggi. Jerapah-jerapah kolokan yang merasa marah lalu merajuk, mengatasnamakan perlindungan terhadap para penumpang. Jangan jadikan kami kambing hitam hanya untuk kepentingan segelintir pihak, Tuan. Kami tidak setolol itu.

Tuan, transportasi umum sedang mengalami revolusi. Anda dan undang-undang Anda siap atau tidak, kuda zaman tidak bisa dikekang begitu saja.

Sudah ya, saya capek. Saya hanya ingin mengatakan bahwa memang beginilah sifat dasar manusia, kita beradaptasi. Mereka yang tidak siap dengan revolusi atau mutasi biasanya mati. Sekali lagi saya ingatkan, kegagalan negara dalam memberikan fasilitas transportasi umum yang layak adalah kegagalan Anda sebagai menteri, bukan salah kami.

Regards,
~eL


Please feel free to share

44 Comments

  1. December 22, 2015 at 10:08 am

    Banyak juga yang memang tidak setuju. Well, setiap kebijakan memang akan selalu menuai pro dan kontra.

  2. December 22, 2015 at 10:08 am

    Terima kasih sudah berkunjung, Uni. πŸ˜€

  3. December 22, 2015 at 10:07 am

    Gojek sangat membantu bagi kami yang berada di perkotaan dengan macet parahnya, Teh. Makanya saya menulis ini. πŸ˜€

  4. December 22, 2015 at 10:06 am

    Iya, untungnya sudah selesai. πŸ˜€

  5. December 22, 2015 at 10:05 am

    Ada yang menyebutkan bahwa ini adalah cara Jonan untuk “memukul” DPR, tapi entahlah, saya masih menganggap bahwa kebijakan ini adalah pesanan Organda.

  6. December 22, 2015 at 10:04 am

    Cuma curhatan netizen. Hahaha. Tapi, syukurlah semua sudah selesai.

  7. December 22, 2015 at 9:58 am

    (((tajam dan menggagas)))
    Aih, kamu berlebihan deh. πŸ˜€

  8. December 22, 2015 at 9:58 am

    Terima kasih sudah berkunjung. πŸ˜€

  9. December 18, 2015 at 10:45 pm

    Saya blm pernah pake gojek, tp krg setuju sg kepurusan itu

  10. December 18, 2015 at 3:05 pm

    Tulisan yg manis. Sayang saya baru baca, setelah keputusannya dibatalkan hehe…

  11. December 18, 2015 at 12:56 pm

    Hrs ada perubahan dan hrs ada yg berani bersuara. Mengingat wakil rakyat kita sdh tidak mewakili suara rakyat. Semoga pak jonan mbaca. Saya mendukung apapun yg terbaik krn sy sendiri berada di wilayah yg tdk pny gojek. Sy berharap pak jonan lbh bijak krn masa kerja masih panjang.. semoga tulisan2 seperti ini bisa di dengar dan beliau cek lgsg ke lapangan. Biar ngerti biar tau biar ngerasain.. aamiin..

  12. December 18, 2015 at 9:05 am

    Pak menteri, jgn karena ketua organda mobilnya banyak yg biru trus jd kurang penghasilan gara2 ada transportasi berbasis online. Rejeki sudah ada yg ngatur. Bukan begitu pak? Pak? Pak? Ngga sedang bobok di gerbong kereta kan? Haha.

    Alhamdulillah pak menteri udah mencabut suratnya…

  13. December 18, 2015 at 8:07 am

    1000 persen setuju. para menteri salah mengucap mantera. Lupa berkaca. Dan tak siap dengan perubahaN. Setuju sama mba langit menteri kita, pejabat kita, wakil rakyat kita lupa tak siap menghadapi perubahan.

    Andai Jerapah itu tak selalu menjura ke atas, dia akan temukan kebahagiaan para hewan kecil di tanah.

    Suka kakak.. teruslah menulis begini agar saya terus terinspirasi…

  14. December 18, 2015 at 7:29 am

    tulisannya kereeeen, menyuarakan pemikiran dari banyak orang. Salut kak πŸ™‚

  15. December 18, 2015 at 6:10 am

    Whoa teteh aku terpesona tulisannya tajam dan menggagas sekali. Semoga sampai ya ke pak menteri, biar ke depannya tidak asal saja bikin larangan ini itu tanpa memikirkan khalayak ramai..
    Salam dari fans mu teeeh yang juga pengguna ojek online

  16. December 18, 2015 at 6:06 am

    tulisanyaaa kereeen mbak, setujuuuu

  17. December 18, 2015 at 6:05 am

    Karena dipanggil RI 1 tuhhh. Hahahah.

  18. December 18, 2015 at 5:44 am

    Sudah boleh beroperasi lagi kok Gojek dan lainnya.
    Pak mentri beralasan karena ada kesenjangan antara masyarakat dan transportasi publik.

    Ah..saya jadi berpikir, pak menterinya kayak anak abege labil. πŸ™‚

    Salam hangat dari Bondowoso..

  19. December 18, 2015 at 5:38 am

    Di tempatku driver gojek ya opang itu, jadi nggak semua ada gesekan, kok. Organda aja yang mengada-ada.

  20. December 18, 2015 at 5:38 am

    Bukan aplikasinya sih, tapi kendaraan roda dua dan tetek bengeknya. Taksi juga kan ada yang berbasis aplikasi sekarang mah.

  21. December 18, 2015 at 5:37 am

    Udah ada opang kan, harusnya sudah tanggap sejak dulu.

  22. December 18, 2015 at 5:30 am

    Tuan itu gak mikir driver gojek punya keluarga yang harus ditanggung.. sedih saya πŸ™

  23. December 18, 2015 at 5:29 am

    Seharusnya, sejak ojek online ini marak, menteri cepat tanggap. Ini kan telat banget.

  24. December 18, 2015 at 5:28 am

    Nggak usah, sudah ada petisi dan trending topic. Hahaha.

  25. December 18, 2015 at 5:26 am

    Sudah ada perkembangan terbaru, Mbak. Om Jokowi sudah memberikan surat cinta, untuk memanggil Tuan Jonan.

  26. December 18, 2015 at 5:21 am

    Aku juga mendukung agar ojek online tetap beroperasi. πŸ˜€

  27. December 18, 2015 at 5:19 am

    Sudah ditarik surat larangannya, para blogger nyasar sudah bisa tenang sekarang. Hahaha.

  28. December 18, 2015 at 5:19 am

    Selamatkan ojek online! Selamatkan! πŸ˜€

  29. December 18, 2015 at 5:18 am

    Yang tukang bikin undang-undangnya lagi sibuk minta saham. -_-“

  30. December 18, 2015 at 5:16 am

    Telat merespons aja sih ni menteri.

  31. December 18, 2015 at 5:15 am

    Kibarkan bendera revolusi, kibarkan! *halah

  32. December 18, 2015 at 5:02 am

    Begitu mendengar berita angkutan berbasis aplikasi dilarang, saya bingung. Memang ada ketentuan harus tanpa aplikasi ya? Jaman sekarang gitu.

  33. December 18, 2015 at 4:42 am

    kalau memang patokannya UU, saya setuju pemerintah harus taat terhadap UU apapun. Tapi, masalahnya dalam UU kan transportasi roda 2 tidak termasuk. Lalu kenapa hanya ojek online yang dilarang? Bagaimana dengan ojek pangkalan. Menggelikan sekali ketika saya baca di salah satu media, kalau opang tidak melanggar karena dianggap bukan transportasi publik.

    Geregetaaannn … Jadi aja saya komen panjang hehe

    Saya juga sepakat dengan cerita Jerapah. UU kan bukan kitab, masih bisa direvisi dengan menyesuaikan kebutuhan dan zaman. Ojek online bisa hadir bahkan menjamur itu kan salah satunya karena kegagalan pemerintah yang gagal menciptakan transportasi massal yang nyaman. Memang sekarang udah ada beberapa transportasi massal yang nyaman. Tapi berapa banyak jumlahnya? Masih jauh dari kata cukup. Sementara masyarakat keberadaan ojek online ini sudah seperti menjawab apa yang masayarakat impikan.

  34. December 18, 2015 at 4:38 am

    Aturan hukum memang akan selalu ketinggalan dengan dinamika sosial karena itu selalu ada peluang revisi. Persoalannya ada pada para pemangku kebijakan mau atau tidak memfasilitasi perkembangan sosial yang nggak mungkin bisa dicegah.
    Setuju sama teteh, yang harus dilakukan adalah adaptasi terhadap perubahan yang ada.
    Semoga Pak Jonan berpikir ulang.

  35. December 18, 2015 at 4:33 am

    Ini tulisannya menohok. Perlu di jadikan surat pembaca kayanya biar tambah melek bapak2 diatas sana.

    #savegojek

  36. December 18, 2015 at 4:30 am

    Tolong Gojek dan sejenisnya jangan dihapus. Aku merasa terbantu sekali dengan kehadiran mereka. Ga perlu macet-macetan naik bus bau atau zikir terus waktu naik metromini yang ugal-ugalan.

  37. December 18, 2015 at 4:21 am

    Kalau aku tetap mendukung jika itu memang utk kepentingan bersama dan aman serta solusi tepat guna. Karena aku bergantung juga dengan alat transportasi umum πŸ™‚

  38. December 18, 2015 at 4:19 am

    Saya termasuk yg sedih bgt sm keputusan jonan soal gojek ini. Sebagai org daerah yg buta jakarta, dan sering nyasar. :/

  39. December 18, 2015 at 4:17 am

    U're rock!!! :)) aku mendukungmuuu…

  40. December 18, 2015 at 4:16 am

    Idem ditto. Kok ya yang begini gak bisa diterbitkan aja undang-undangnya malah nyuruh ngeberangus. Eh iya lupa, yang ngesahin undang-undang lagi sibuk ding. Sigh. Le sigh.

  41. December 18, 2015 at 4:13 am

    Uu kan biaa direvisi knp g diaesuaikan dengan kbtuhan masyarakat trus ini transportasi online udah beoperasi bbrapa thun baru skrg di larang saat org udah bnyak ygbterbantu pkrjaannya hadeuhh

  42. December 18, 2015 at 4:04 am

    cadass. luar biasah.

  43. December 18, 2015 at 3:56 am

    Iya, undang-undang kan bukan kitab suci, bisa direvisi. Tapi entah ya mengingat dewan kita sedang sibuk sidang dagelan.

  44. December 18, 2015 at 3:54 am

    Bingung deh disatu sisi ada uu, disatu sisi ada kebutuhan. Solusinya menurut saya sesuaikan uu dengan kebutuhan masyarakat saat ini. Terima kasih

Leave A Comment