Pertanyaan pertama yang paling sering diajukan kepada seorang penulis ketika ia menceritakan kisah hidupnya adalah: is it real? Apakah ini hanya untuk mendongrak popularitas?

Sebetulnya saya lelah menjelaskan, lelah menjawab pertanyaan-pertanyaan yang justru menyudutkan. Penulis atau bukan, dibutuhkan keberanian besar untuk mengakui bahwa dirinya tidak baik-baik saja. Dibutuhkan keberanian yang lebih besar untuk meneriakkan permintaan pertolongan.

Saya cerpenis, kalau ini fiksi lebih baik saya menulis cerpen dan mengirimkannya ke Kompas. Kalau dimuat, lumayan bisa buat beli susu. Terkenal? Tidak ada orang yang ingin terkenal karena “gila”. Saya berkarya, penulis, blogger. Kalau memang ingin terkenal lebih baik saya menulis novel best seller. 

Mungkin Anda akan mengatakan, “Udahlah, pertanyaan semacam itu tidak usah dipikirkan.”

Tapi, saya menulis ini bukan untuk diri saya sendiri. Mas, Mbak, di luar sana ada jutaan perempuan yang tengah bertarung dengan masalah yang sama. Jutaan perempuan yang lebih memilih untuk diam dan memendam rasa sakitnya. Jutaan orang perempuan yang tidak seluruhnya berhasil sembuh.

Saya hanya satu dari jutaan orang itu. Titik renik di dalam statistik. Satu orang yang kebetulan saja penulis. Satu orang yang memilih untuk mengakui bahwa saya depresi, karena langkah pertama untuk sembuh adalah dengan berhenti mengingkari.

Saya, dan perempuan-perempuan lain yang memiliki masalah sama, sudah bertarung dengan diri sendiri dan orang-orang paling dekat. Tolong jangan tambahi medan perang kami dengan harus mati-matian meyakinkan Anda.


Kira-kira setahun yang lalu, saya pernah membaca berita tentang seorang ibu yang menenggelamkan dua anaknya yang masih balita. Kejadiannya tidak jauh, ada di Cimahi sini. Anda pasti pernah mendengar karena beritanya ada di televisi dan koran-koran.

Itu hanya satu kasus, ada banyak kasus lainnya. Lebih banyak lagi kasus yang tidak muncul ke permukaan. Baby blues, PPD, bisa berkembang menjadi depresi mayor yang sukar untuk disembuhkan.

Saya tidak mengerti mengapa hal-hal seperti ini bisa begitu saja diabaikan? Bagi perempuan, menjadi seorang ibu adalah takdir yang tidak bisa ditawar-tawar. Semua perempuan ingin menjadi ibu paling baik, menjadi madrasah yang bisa mendidik anak-anak jadi manusia seutuhnya. Kami tidak pernah minta penyakit seperti ini. Kami semua ingin bahagia.


Lingkaran Kebaikan

Saya butuh waktu 19 bulan untuk keluar dari persembunyian. Dengan menuliskan ini dan catatan sebelumnya, saya sudah tahu apa risikonya. Dicap gila itu biasa, dikatai bahwa ini hanya fiksi karena pada hari yang sama ketika saya menulis saya masih sempat jualan sepatu, juga tidak berpengaruh apa-apa sebetulnya. Bahkan, dengan menuliskan ini, saya harus siap kehilangan lelaki yang saya cintai. Lelaki yang kemarin-kemarin selalu ada, kini mulai mundur perlahan-lahan.

Tapi, dengan begini, saya sudah mencegah risiko yang lebih besar: nyawa saya dan anak-anak saya.

Dalam waktu kurang dari 24 jam setelah saya menulis “Secabik Pesan Sebelum Saya Bunuh Diri”, saya mendapatkan bantuan profesional. Sudah dijadwalkan untuk terapi, for free.

Pada saat bersamaan, saya juga mendapatkan inbox dari para perempuan lain yang mengalami masalah sama, baik yang sedang atau sudah sembuh. Pun, saya mendapatkan inbox dari para profesional atau aktivis yang bersedia membantu.

Sekali lagi, saya tidak menulis ini untuk diri saya sendiri. Efek lain dari tulisan ini adalah saya bisa menghubungkan mereka yang tengah butuh bantuan dengan para profesional yang sebelumnya mengontak saya. Tidak, saya tidak sedang menjadi pahlawan, saya hanya percaya bahwa kebaikan bersifat berantai.


Pertolongan Pertama

Depresi, PPD, sukar diidentifikasi secara fisik, baik oleh pasien maupun oleh orang lain. Anda bisa memutuskan untuk membantu kami ataupun sama sekali tidak peduli. Itu hak Anda. Pun, Anda bisa memutuskan untuk percaya atau menganggap ini hanya drama. Karena seperti kata Dee dalam Supernova, tak ada yang bisa membuat orang lain percaya selain rasa percaya.

Tanpa bermaksud mendikte atau menggurui, saya ingin memberikan beberapa tip yang mudah-mudahan saja berguna untuk menghadapi pasien-pasien PPD.

1.Diam

Iya, Anda tidak salah baca. Diam. Jangan katakan apa pun tentang bahwa bunuh diri itu dosa. Bahwa pelaku bunuh diri akan masuk neraka. Bahwa Tuhan membencinya. Bahwa menyiksa anak-anak adalah perbuatan ibu durjana.

Let me tell you something, orang paling sinting pun tahu ini. Pasien PPD dengan suicide behaviour pun tahu ini. Untuk apa Anda repot-repot menjelaskan? Pertarungan kami bukan lagi di ranah dosa atau tidak.

Ada pula yang mengatakan bahwa perempuan penderita PPD terlalu memikirkan kebahagiaan pribadi dan tidak peduli dengan anak-anak. Saya tidak tahu cara paling tepat untuk menanggapi komentar seperti ini. Saya cuma bisa mengatakan kalau Anda tidak bisa membantu, lebih baik diam. Please.

2. Doa

Kami butuh pasokan doa yang banyak. Bantu kami membujuk Tuhan agar bisa melewati ini semua. Oh iya, berkaitan dengan doa ini. Ada baiknya Anda menahan diri untuk tidak memberikan kultum atau siraman rohani jika Anda tidak benar-benar dekat dengan penderita. Atau kalau mau, berikan dalam porsi secukupnya. Ini mungkin terdengar merepotkan dan membuat Anda berpikir bahwa kami tidak mau ditolong. Tapi percayalah, Tuhan adalah psikiater pertama yang kami hubungi. Jangan khawatir 🙂

3. Percaya

Anda tahu mengapa para perempuan penderita PPD lebih banyak diam daripada membuka diri? Karena kami takut terhadap tanggapan orang-orang. Kami takut bahwa kami hanya dianggap sedang mengarang-ngarang.

Saya membutuhkan waktu 19 bulan untuk keluar dari persembunyian dan mencari pertolongan. Saya sudah mengambil risiko ditinggalkan oleh orang yang saya sayangi, tolong jangan bebani kami dengan pertanyaan, “Ini beneran?”, “Ini bukan karangan?”.

Kalau Anda bukan psikiater, tolong jangan repot-repot melakukan validasi data. Anda bisa memutuskan untuk tidak percaya, itu hak Anda. Tapi tolong, tidak usah bertanya macam-macam.

Saya tidak berbicara untuk diri saya sendiri, di luar sana banyak perempuan yang memutuskan untuk bertarung sendirian hanya karena takut dianggap drama.

4. Ada

Jika Anda memutuskan untuk membantu orang-orang terdekat penderita PPD, pastikan Anda benar-benar siap. Mental illness tidak seperti penyakit fisik yang parameter perkembangannya kasat mata. Ini melelahkan, bagi penderita maupun bagi orang-orang terdekatnya.

Jika pasangan Anda terkena PPD, jangan pernah pergi. Cinta itu menyembuhkan. Dukungan orang-orang paling dekatlah yang kami butuhkan. Tidak, Anda tidak usah memanjakan kami layaknya putri raja. Anda juga tidak perlu menjaga kami layaknya pasien di rumah sakit jiwa. Yang perlu Anda lakukan hanya ada, tetap di samping kami. Genggam tangan kami, berikan kami pelukan yang menenangkan. Jika Anda mencintai pasangan Anda ketika ia sehat, cintai ia berlebih-lebih ketika ia sakit.

Jika teman atau saudara Anda terkena PPD dan Anda memutuskan untuk membantu, bersabarlah. Kirimi teman Anda pesan, tanyakan kabar, dengarkan keluh kesahnya. Anda hanya cukup dengan menjadi telinga. Tapi tidak usah memaksakan diri, bantu kami sebisa Anda.

Seperti yang saya katakan sebelumnya, kebaikan itu berantai. Hari ini kita menolong orang, esok kita akan ditolong oleh orang lain.

5. Bantuan Riil

PPD dipicu berbagai macam stimulan. Yang saya lakukan sesudah percobaan bunuh diri terakhir adalah membuat daftar stimulan. Apa yang membuat saya tertekan? Apa yang memicu depresi? Dari daftar itulah saya mulai membuat langkah-langkah self healing.

Jika istri atau teman Anda PPD, kenali stimulannya dan berikan bantuan riil. Misalnya, karena kelelahan mengurus anak, bantu dia menangani anak-anak. Karena tekanan ekonomi, kalau Anda bisa membantu ya silakan membantu.

6. Logika

Ini sengaja saya simpan di poin terakhir. PPD itu penyakit, dibutuhkan bantuan profesional. Sarankan teman, istri, atau saudara Anda untuk menemui psikiater. Mendekatkan diri kepada Tuhan saja tidak akan cukup, sebab ikhtiar adalah bagian dari iman.

Kalau Anda punya kontak psikiater, berikan kontaknya. Kalau pernah terkena PPD dan berhasil sembuh, tawarkan berbagi pengalaman.


Anda tahu apa yang paling saya syukuri dari kejadian ini? Saya jadi lebih tahu bahwa hidup saya masih memiliki arti. Bahwa saya memang menyayangi anak-anak saya. Jika tidak, untuk apa saya mati-matian berjuang?

Dengan menuliskan ini, akhirnya saya juga mendapat bantuan profesional. Coba bayangkan kalau saya terus-terusan diam dan berjuang sendirian? Dengan stimulan yang kompleks, saya tidak yakin bisa melaluinya. Setegar apa pun saya.

Karena menulis ini pula, akhirnya memicu perempuan lain untuk membuka diri. Sama-sama menyadari bahwa PPD itu bukan fiksi.Karena menulis ini, pertolongan datang dari berbagai arah yang tidak disangka-sangka.

Oh iya, teman-teman yang sekiranya membutuhkan bantuan terkait PPD, bisa menghubungi saya di:

  • 0856-0304-0837 (WA)
  • langit[dot]amaravati[at]gmail[dot]com (email)
  • @LangitAmaravati (Twitter)

Akan dengan senang hati saya hubungkan dengan komunitas, psikiater, psikolog, atau grup-grup yang menangangi PPD. Untuk yang meng-add saya di Facebook, saya mohon maaf karena tidak bisa menerima semua permintaan pertemanan. Saya memang menerapkan kebijakan tersendiri di Facebook. Sekali lagi mohon maaf. Tapi kalau memang urgent, silakan inbox, akan saya balas, kok.

Ini dua hari yang tidak akan pernah saya lupakan. Saya yang sempat jatuh sejatuh-jatuhnya akhirnya bisa bangkit lagi meski perlahan-lahan. Terima kasih atas dukungan Anda semua. Atas doa, bantuan, saran, sumbangan semangat, dan pertolongan lain yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu. Terima kasih.

Teman-teman yang sedang berjuang melawan PPD, tolong jangan ragu-ragu untuk meminta pertolongan kepada orang lain. Tolong juga jangan pernah patah semangat. Kita ini ibu-ibu hebat. Kitalah madrasah tempat anak-anak belajar menjadi manusia seutuhnya.

Menjadi perempuan adalah sebuah perjalanan sekaligus perjuangan. Jangan pernah lelah, jangan pernah menyerah.

Salam,

~eL

 

9 Comments

  1. irsalina husna azwir-Reply
    April 23, 2016 at 9:35 am

    Proud of you mba langit. 😙😙😙 I believe u are the best.

  2. Anindya-Reply
    April 23, 2016 at 12:51 pm

    Alhamdulillah.. bahagia dan terharu bacanya.. terus semangat untuk lekas pulih, Mommy eL.. doa kami menyertai Mommy eL, Salwa & Aksa..

  3. Cuni Candrika-Reply
    April 23, 2016 at 3:25 pm

    Akhirnya mendapat pertolongan mbak. Semangat ya mbak! Bahkan mbak masih mikirin sesama ibu lain yang menderita PPD di saat mbak jg lagi dlm keadaann yg sama.

    Anyway, suka sama tulisan yg ini krn saya juga gemes sm org2 yg berkomentar disangkutpautkan dgn religi di post sebelumnya.

    Semangat mbak!

  4. April 23, 2016 at 10:04 pm

    Alhamdulillah sudah bertemu dengan profesional yang bisa membantu untuk terapi ya Teh. Semoga Teteh tetap diberikan semangat untuk bisa sembuh total dan saya membantu dari sini dengan doa 🙂

    Hugs 🙂

  5. April 24, 2016 at 5:37 am

    Indeed, Chan.
    Your life is meaningful, not only for your kids but also for us, your loyal readers.
    Always looking forward to your blogposts.

    Glad to know that it’s happy ending.
    Good luck for the therapy.
    Many blessings for the woman who gave you her hand for this.
    She’s one of the wonderful women I’ve ever known.

    hug

  6. Nia-Reply
    April 24, 2016 at 2:06 pm

    Hi mba, salam kenal
    Ini pertama kali sy baca blog mba karena teman saya sedang membahas tentang PPD. Well, sebenarnya saya yakin tidak pernah mengalami baby blues syndrome atau PPD. Tapi dari tulisan mba, saya baru sadar bahwa saya mengalami beberapa ciri2 yg mirip beberapa tahun terakhir, ketika anak2 saya beranjak balita. Mungkin bukan PPD. Mungkin lebih ke mommy blues (bbrp tulisan dlm bhs inggris menyebutnya begitu). Apapun itu, saya bersyukur…karena setelah membaca blog ini saya sadar, saya jadi aware bahwa apa yang kadang saya alami itu bukan hal yang wajar. Kalau tidak segera diatasi, mungkin bisa berdampak buruk ke anak2 saya dimasa depan. Saya juga belum membuka diri ke orang2 terdekat. Hanya saya dan Allah yang tahu.

    Lonelymother,
    Nia

  7. May 1, 2016 at 1:58 am

    konsultasi ke dokter mbak, obat2an sangat membantu menurut yg saya baca, sudah ditanggung BPJS lho kesehatan jiwa, oh ya mungkin bisa join di komunitas peduli skizofernia di facebook, walau tidak sama tapi disitu banyak share soal depresi dan halusinasi

  8. May 4, 2016 at 6:17 pm

    Hay Mba Langit salam kenal. Baca cerita pengakuan Mba sebelumnya dan sedih sekali. Langsung baca2 tulisan terbaru. Bersyukur sekali alhamdulillah Mba sudah menemukan bantuan semoga berjalan lancar dan semua gangguan2 di diri Mba Langit hilang, menjadi Ibu yg bahagia mengurus anak-anak Mba. Aamiin. peluk erat

    Mba.. saya pun Ibu dgn ujian yg bertubi-tubi meski dgn ujian yg berbeda. Mba ga sendiri. Bismillah, aku yakin Mba bisa melewati ini semua. Semangat ya Mbaaaaa. 🙂

  9. Mel-Reply
    May 13, 2016 at 12:56 pm

    Mbak sepertinya saya mengalami ppd. Bayi saya berusia 3 bulan skrg anak ke2, sy baru aware setelah baca tulisan mba. Boleh saya WA mba langit ya. Trimakasi

Leave a Reply