[DESIGN] Dasar-Dasar Infografik

Infografik, terjemahan dari frasa information graphics atau infographic, adalah representasi visual informasi, data atau ilmu pengetahuan secara grafis. Grafik ini memperlihatkan informasi rumit dengan singkat dan jelas1, seperti pada papan, peta, jurnalisme, penulisan teknis, dan pendidikan. Melalui infografik, ilmuwan komputer, matematikawan, dan statistikawan mampu mengembangkan dan mengkomunikasikan konsep menggunakan satu simbol untuk memproses informasi.

Saat ini, infografik ada di segala bentuk media, mulai dari hasil cetakan biasa dan ilmiah hingga papan dan rambu jalan. Infografik mengilustrasikan informasi yang memiliki sedikit teks, dan berperan sebagai ringkasan visual untuk konsep sehari-hari seperti rambu berhenti dan jalan. Dengan kata lain, infografik adalah bagian dari desain komunikasi visual.

Desain komunikasi visual merupakan seni menyampaikan informasi atau pesan dengan menggunakan bahasa rupa/visual yang disampaikan melalui media berupa desain. Desain komunikasi visual bertujuan menginformasikan, memengaruhi, hingga mengubah perilaku target (audiens) sesuai dengan tujuan yang ingin diwujudkan. Proses desain pada umumnya memperhitungkan aspek fungsi, estetik, dan berbagai aspek lainnya, yang biasanya data didapatkan dari riset, pemikiran, brainstorming, maupun dari desain yang sudah ada sebelumnya.2

INFOGRAFIK DALAM BLOGPOST

Di dalam blogpost, infografik memiliki fungsi yang sama dengan pengertian di atas, yaitu untuk menyampaikan informasi dan atau data kepada pembaca.

Blogpost sebagai media komunikasi dan publikasi digital bertujuan untuk menyampaikan pesan dari komunikator (penulis) kepada komunikan (pembaca). Pesan yang paling baik tentunya adalah pesan yang mudah dicerna dan tidak menimbulkan ambigu. Meski setiap blogger memiliki kekhasan gaya penulisan masing-masing, namun jika merujuk kepada tujuan komunikasi tersebut, mestinya pesan yang disampaikan memang mudah dicerna. Kecuali, kecuali nih ya, jika postingan Anda berupa TTS atau cerpen surealis.

Hari ini, blogpost bukan sebagai media komunikasi yang HANYA berisi tulisan, tapi juga bisa berupa media visual, audio, video, atau gabungana ketiganya. Maka di sinilah sebuah infografik mengambil peranan.

Fungsi infografik di dalam blogpost:

Melengkapi Data

Ada jenis-jenis data yang lebih efektif jika disajikan dalam bentuk grafik. Misalnya, fitur dan spesifikasi gadget, informasi step by step, how to, atau alur produksi sebuah produk. Jadi, infografik bukan “hiasan” atau agar si blogger dikatakan jago desain, melainkan sebagai data pelengkap yang berintegrasi dengan keseluruhan blogpost.

Contoh 1 – Fitur Produk

Contoh 2 – Step by Step atau How To

Contoh 3 – Alur Produksi

Point of Interest

Di tengah lalu lintas informasi yang berseliweran di Internet dan Google search, pembaca lebih sering melihat atau membaca sekilas lalu beralih ke situs lain yang lebih menarik secara visual. Kenapa menarik secara visual ini penting? Karena data yang disajikan melalui infografik cenderung lebih mudah dicerna. Secara psikologis, pembaca tidak sadar kalau sebetulnya dia sedang membaca, biasanya pembaca menganggap hanya sedang MELIHAT GAMBAR.

Infografik di dalam postingan memiliki fungsi sebagai point of interest atau daya tarik tersendiri selain tentu saja kualitas tulisan.

Content Booster

Menambahkan image ke dalam postingan akan meningkatkan pageview. Menurut SearchMetrics, postingan yang dilengkapi dengan image memiliki peringkat yang lebih baik daripada yang tidak memakai image.

KAPAN HARUS MEMAKAI INFOGRAFIK?

Ada yang menganggap bahwa setiap postingan harus disertai dengan infografik agar postingannya lebih menarik. Apakah ini betul? Tidak, sayangnya tidak. Sebelum kita sampai pada postingan macam apa yang bisa disertai infografik, ada baiknya mulai membedakan antara infografik dengan image biasa.
Image atau gambar adalah media visual, infografik termasuk ke dalam media visual, tapi tidak semua media visual berupa infografik. Sampai di sini, sudah mulai membutuhkan obat sakit kepala? ^O^

Oke, begini. Media visual atau gambar bisa berupa:

  1. Foto
  2. Ilustrasi
  3. Sketsa
  4. Infografik
  5. Simbol

Nah, sebuah media visual dikatakan infografik jika ia berisi data-data atau informasi. Mudahnya sih begini, infografik = informasi + grafik. Mari saya berikan perbandingan:

Apakah gambar cewek kece yang sedang “memakan” smartphone di atas adalah infografik karena di dalam gambar terdapat tulisan? Bukan, ini namanya ilustrasi. Bersifat menjelaskan atau memvisualisasikan informasi yang sudah ditulis sebelumnya.

Ini gambar cewek kece yang sama, juga ada tulisannya. Ini infografik? Iya, karena di dalamnya ada data-data atau informasi yaitu fungsi smartphone bagi si cewek tersebut.

Lalu, informasi seperti apa sih yang “harus” ada infografiknya? Sebetulnya ya tidak harus juga sih, wong situ kok yang punya blog, suka-suka situlah. *digamparin

Well, ada beberapa pertimbangan yang kerap saya lakukan sebelum memutuskan untuk membuat infografik:

 Efisiensi

Ada jenis-jenis informasi yang lebih mudah dikomunikasikan dengan infografik daripada dengan tulisan biasa. Contoh, Perjalanan Secangkir Kopi dalam infografik alur produksi. Coba bayangkan bagaimana saya harus menjelaskan jika proses itu dikonversi ke dalam kalimat demi kalimat?

Mungkin begini:Mula-mula, biji kopi dipanen, lalu dikupas, kemudian dijemur. Sesudah itu, biji kopi dipilah dan di-roasting.

Berapa banyak kata dan frasa “lalu”, “kemudian”, dan “sesudah itu” harus saya gunakan? Bisa-bisa pembaca mati bosan. Dengan mengemas informasi alur produksi ke dalam sebuah infografik, ini artinya hemat waktu, hemat tenaga, hemat kata-kata, dan yang lebih penting: informasi lebih mudah sampai kepada pembaca.

Saya tidak perlu membuang-buang waktu untuk menjelaskan karena apa yang ingin saya informasikan sudah diwakili oleh elemen-elemen desain. Gambar mesin grinding, tanda panah, cangkir kopi adalah elemen desain.

 Sinergis

Infografik dalam blogpost bersifat melengkapi data dan bersinergi dengan tulisan secara keseluruhan, bukan repetisi. Maksudnya, jika Anda sudah menyajikan data dalam bentuk tulisan, tidak perlu mengulanginya dalam bentuk infografik, pun sebaliknya.

Contoh:

Informasi yang terdapat dalam infografik di atas adalah detail desain sebuah smartphone. Setelah infografik, saya melengkapi dengan tulisan seperti ini:

Dengan kata lain, antara infografik dengan tulisan saling melengkapi. Bagaimana jika semua informasi bisa disajikan dalam sebuah infografik? Ya sudah, tidak perlu dijelaskan lagi dalam tulisan, tho?

 Bentuk Data

Jika di poin pertama, yang dijadikan pertimbangan adalah efisiensi, sehingga kita memiliki pilihan apakah akan menyajikan data dalam bentuk infografik atau tidak, maka di poin ini kita “terikat” dengan bentuk datanya.

Contoh:

Menurut Anda, bagaimana informasi seperti ini disajikan jika tanpa tabel dan diagram? Meski saya memiliki banyak kosakata untuk nyepik duda menjelaskan, rasanya saya tidak akan sanggup membuat satu paragraf yang bisa mencakup semua data di atas. Jadi memang akan lebih efektif jika kedua informasi di atas disajikan dalam bentuk infografik.

Kesederhanaan

Kembali kepada infografik sebagai media komunikasi visual, maka tujuan utamanya adalah untuk menyampaikan pesan atau informasi. Jika pesan yang ingin disampaikan bisa dikomunikasikan melalui tulisan, untuk apa membuat infografik segala? Kerjaan blogger tuh banyak, kawan. Belum nulis, belum ngecek Alexa rank, belum optimasi SEO, belum berurusan dengan sponsored post, belum menghadiri event, lalu mau ditambahi dengan “sedikit-sedikit dibuat infografik”? Situ mau mati muda? #eh

Contoh:

Ini tulisan yang saya ambil dari review Acer Revo One. Karena ini poin per poin dan datanya sedikit, mungkin beberapa orang tergoda untuk membuatnya dalam sebuah infografik agar ter-desainer-desainer. Boleh? Boleh-boleh saja, silakan. Tapi, untuk apa repot-repot membuat infografik dari data yang sebetulnya bisa disajikan HANYA dengan fitur bullet list?

Readability

Readability atau keterbacaan sebetulnya salah satu prinsip tipografi dan berhubungan dengan pemilihan jenis huruf, tapi istilahnya sengaja saya pinjam karena memang relevan. Kebalikan dengan bentuk data di poin kedua, ada jenis informasi yang sebetulnya lebih efisien jika menggunakan tulisan poin per poin biasa. Misalnya, untuk data yang deskripsinya panjang seperti contoh di bawah ini:

Ini memang menarik secara visual, tapi gagal secara pesan. Informasi berbentuk paragraf panjang seperti ini sukar untuk dibaca di dalam layar. Pun, menjadikan postingan saya tampak seperti brosur atau company profile berisi visi misi perusahaan. Bagi saya, informasi ini memiliki urgensi tinggi karena merupakan bagian dari postingan, tapi belum tentu bagi pembaca. Melihat tulisan kecil dan padat dan panjang saja barangkali sudah malas.

Infografik ini untuk postingan lomba yang panjangnya dibatasi maksimal 750 kata. Waktu itu saya terpaksa menyajikan informasi dalam bentuk grafik untuk menyiasati keterbatasan jumlah kata itu tadi. Dan saya tidak menyarankan Anda untuk mengikuti dosa-dosa diri ini. Demikian.

❻ Jumlah

Apakah boleh memuat lebih dari satu infografik di dalam sebuah postingan? Boleh. Apakah boleh sebuah postingan hanya berisi SATU INFOGRAFIK? Boleh.

Apakah boleh sebuah blogpost diisi dengan lebih dari 3 infografik tanpa tulisan sama sekali? Boleh-boleh saja sih, blog Anda ini. Tapi jika begitu, saya menyarankan untuk memostingnya di Pinterest saja.

Demikian sharing session kali ini. Karena ini sesi pertama, maka akan ada sesi berikutnya yaitu software apa saja yang bisa digunakan untuk membuat infografik. Semoga bermanfaat.

Salam,
~eL

  1. Doug Newsom and Jim Haynes (2004). Public Relations Writing: Form and Style. p.236.
  2. Anggraini, S. Lia & Kirana Nathalia. 2014. Desain Komunikasi Visual: Dasar-Dasar untuk Pemula. Bandung: Penerbit Nuansa Cendekia, hal. 15.

15 Comments

  1. Armita Fibriyanti-Reply
    June 1, 2016 at 2:47 am

    Ditunggu next blogpostnya Teteh… 🙂

  2. May 31, 2016 at 11:31 pm

    O gitu… sekarang cara mamggil cewek kecenya ke dalam infografik yang belum tau teh 😀

  3. June 1, 2016 at 12:58 am

    nunggu lanjutannya… menyoal software…
    corel, Ai? sotosop?

  4. June 1, 2016 at 1:18 am

    Bookmaaark. Tengkyuu, Mba El

  5. June 1, 2016 at 3:51 am

    thanks for sharing mbak.. pas banget lagi belajar infografik..

  6. June 1, 2016 at 4:22 am

    Teh, yang gambar cewek itu kita gambar manual dulu?

  7. June 1, 2016 at 8:22 am

    Thanks Mbak.
    Saya kemudian butuh info membuat animation karakternya 🙂

  8. June 1, 2016 at 9:52 am

    siip…
    diantos untuk lanjutannya software buat infografik y Mbak Langit.

    Kadang suka tergoda bikin ilustrasi2 buat memudahkan org yg baca. Krn kt y visual lebih cepet keterima otak..

    Masih penasaran..itu gambar2 cewe y digambar dulu apa gimana? Cakep2 karikatur tokohnya.

  9. June 1, 2016 at 1:10 pm

    Terima kasih uraian pendahuluannya
    Menunggu episode berikutnya
    Salam hangat dari Jombang

  10. June 2, 2016 at 7:36 am

    masih ngunyah pelan-pelan, duh bu guruku ini makasih ya ilmunya. semoga anak didiknya juga bisa infografis yang benar dan gak malu-maluin 🙂

Leave a Reply