Detak yang Berangkat Lantak


:IM


 Mungkin kita memang harus berpisah dengan cara seperti ini. Cara paling menyakitkan dengan sumpah serapah sebagai pengantar ucapan selamat jalan. Dengan semua pintu yang kaututup rapat-rapat, dengan rindu yang kausimpan erat. 


Aku tahu, kita akan benar-benar sampai pada hari ini. 

eV, berbulan-bulan kita bersama. Saling berebut tempat tentang siapa yang paling mencintai siapa. Menghitung rindu lalu berdebat bahwa rindumu lebih banyak dari rinduku. Tak peduli terhadap ribuan pasang mata yang mungkin saja mencaci aku sebagai badai di dalam kapalmu yang tenteram. Kita hanya tahu untuk mabuk, terus-menerus minum tuak hingga lambung kita dihiasi tukak demi tukak. 

Tapi kita memang harus sampai pada hari ini.

Meski jutaan janji pernah berkelindan dalam udara. Tentang kau yang konon akan selalu menjadi debur air laut, menemani dermaga kesepian sepertiku. Tentang kau yang katanya akan menyediakan bahu dan punggung tempatku bersandar, tempatku pulang. Tentang kau yang bersedia berangkat tua, bersamaku.

Lalu aku, dengan rasa mabuk yang sama juga menguarkan janji demi janji. Bahwa namamu akan menjadi satu-satunya nama lelaki di dalam sini. Bahwa aku akan bersetia hingga mati. Bahwa aku akan menunggumu hingga saatnya kau bisa membawaku pergi.

Sayangnya kita harus sampai pada hari ini.

Ketika kenyataan merajam cinta hingga karam. Ketika masing-masing dari kita tidak bisa bertahan dari pisau yang dihunjamkan orang-orang. Ketika kita, sama-sama dipaksa untuk saling merelakan. 

eV, kekasihku.

Aku mengerti bahwa sulit bagi kita untuk melepaskan jangkar di dada masing-masing. Sulit bagiku untuk membuang ingatan tentang jejakmu di tubuhku. Juga sulit bagimu untuk kembali sembuh dari rindu yang selalu menunggu untuk berlabuh, kepadaku. Namun apalah kita, eV? Hanya dua orang yang pernah dipertemukan, saling jatuh cinta, untuk kemudian mengambil setapak yang berbeda. Bukankah, memang seperti itulah cinta?

Lalu sampailah kita pada hari ini.

Hari ketika kita harus mengemas setiap luka yang kian meranggas. Maka simpanlah aku rapat-rapat di dalammu. Jangan pernah kaubuka kembali sebab akan mendatangkan nyeri. Maka aku akan menyimpanmu juga, lekat di dalam sini. Mungkin suatu saat aku akan ingat bahwa ada lelaki yang mencintaiku dengan benar; kamu.

Aku juga akan menyimpan kunci kamar nomor 313, dan kamu bisa menyimpan gambar-gambar lukisanmu di tubuhku. Hanya sebagai memorabilia, mungkin juga penanda luka. 

Ya, akhirnya kita sampai pada hari ini.

Saat kau harus benar-benar pergi. 

Dan aku ditinggal sendiri.


P.S. Setiap hujan turun, kau akan selalu ingat aku. 

Leave a Reply