Dicekik Deadline

Ketika memutuskan untuk menjadi full time writer seharusnya saya sudah siap dengan risiko yang paling laten; writer’s block dan deadline. Saya sudah berusaha melakukan segala cara untuk mengatasi writer’s block, blog ini adalah salah satunya. Dengan nge-blog, otomatis saya menulis paling sedikit satu postingan setiap hari. Meski tidak semua tulisan saya bermanfaat bagi orang banyak. Sesekali memang lebih banyak berisi curhatan, ngegalau, atau pengalaman sehari-hari yang enggak penting-penting amat. But, at least i write something. 

Satu risiko laten yang lain adalah deadline. Saya orang yang paling tidak bisa bekerja terburu-buru tapi di sisi lain sangat pemalas dan hobi menunda pekerjaan. Itu sebabnya naskah-naskah novel saya selalu terbengkalai. DL sebetulnya membantu saya untuk disiplin dalam menulis, tapi tetap saja saya merasa tertekan seakan dikejar-kejar satu batalyon troll dan dua ribu goblin di waktu yang bersamaan. Benar-benar membuat stres.

Untuk menangani ini, maka saya membuat inspiration board. Selain itu, saya membuat catatan DL di buku catatan yang selalu saya bawa ke mana-mana. Sayangnya hal ini tidak berarti banyak karena setelah saya berhenti ngantor, saya selalu lupa hari dan tanggal. Hasilnya adalah saya selalu mengerjakan tulisan menjelang DL. Ini contoh buruk, harap jangan ditiru. Sampai tulisan ini saya lansir, belum ada jurus jitu menangani DL kecuali DISIPLIN dan transplantasi otak (halah).

Leave a Reply