DOA UNTUK SALWA

Jika saja rasa sakit bisa ditransfusi, aku rela menanggug semua sakit yang ia derita. Aku lebih suka melihatnya mengacak-ngacak kamar, berlari kesana-kemari, menumpahkan gelas kopiku, atau merusakkan handphoneku daripada melihatnya terbaring diam.
Ia adalah satu-satunya manusia yang aku punya di dunia ini agar aku tak sebatang kara. Ia adalah satu-satunya alasanku untuk bertahan lebih lama. Ia adalah satu-satunya manusia yang menginduksikan semangat bara agar aku tak terlempar dalam jurang curam bernama ‘putus asa’.
Ini semua salahku, bukan? Terlalu egois hingga berani membawanya hidup terlunta-lunta, keluar dari rumah hanya demi memperjuangkan harga diri sebagai manusia dewasa. Dan sekarang, ia di sana, berada di ranjang salah satu rumah sakit dan terbaring diam. Tidak menangis, tidak mengeluh, tidak mengatakan apa-apa selain menatapku.
Aku tahu ini saatnya untuk berdoa. Jadi mari berdoa.

Leave a Reply