Seperti yang pernah saya bahas di sini, judul adalah bagian dari teknik marketing yang bisa ‘menjual’ tulisan kita kepada pembaca. Judul yang terlalu biasa atau judul yang terlalu pasaran akan merusak konten tulisan secara keseluruhan. Anda menulis cerita bagus, dengan konflik asyik, alur yang keren, dan penokohan yang aduhai, tapi sayang sekali cerita Anda tidak dibaca orang karena judul Anda kurang menarik. Dengan begitu, apakah kesalahan ada pada pembaca? Bukan, kesalahan ada pada Anda. Ilustrasinya begini, literasi bertebaran di dunia maya dan cetak setiap harinya. Buku-buku berjubel di toko buku. Redaktur media menerima puluhan bahkan ratusan e-mail berisi naskah setiap harinya. Bagaimana naskah Anda bisa bersaing jika sudah kalah di pertarungan awal?

Bagaimana menulis judul sudah saya bahas di postingan sebelumnya, maka kali ini saya akan membahas apa saja hal-hal ‘haram’ yang sering dilakukan para penulis terhadap judul tulisannya. Memang, banyak sekali penulis yang tepar ketika harus membuat judul tulisannya. Ada yang pernah berkata bahwa tema adalah menyingkat cerita dalam satu alinea. Ide adalah menyingkat tema dalam satu kalimat. Dan judul adalah menyingkat ide ke dalam beberapa kata. Isn’t it harouble? ^^
1. Hindari menggunakan nama tokoh. 
Ini yang sering dilakukan ketika otak kita sudah mandeg saat mencari judul. Memang, memberi judul dengan nama tokoh adalah langkah save. Tapi, please. You can’t sell anything. Sinetron banget lah, pokoknya. Lihat kan sinetron-sinetron Indonesia seperti apa? Menggunakan judul dengan nama tokohnya dan sama sekali tidak menarik bagi saya. Anda bisa menggunakan nama tokoh jika nama tokoh itu sendiri membawa konflik dan menjanjikan sesuatu yang ingin diketahui pembaca.
 
Jika nama tokoh Anda sudah begitu banyak mengandung kontroversi, maka Anda boleh menggunakan nama tokoh tersebut sebagai judul. Misalnya, Osama Bin Laden. Pembaca tahu siapa Osama, tentu nama ini sendiri membawa konflik dan kontroversi tersendiri. Kalau nama tokoh Anda misalnya Ujang, atau Dasep, atau Ungu, atau siapa pun yang bukan siapa-siapa, sebaiknya jangan. Jika terpaksa menggunakan nama tokoh, tambahkan dengan kata atau frase lain. Tapi harus yang unik dan menarik. Misalnya, Sepatu Dahlan ^0^.


2. Hindari menggunakan nama tempat. 
Menggunakan nama tempat akan membuat cerita Anda seperti artikel di cerita-cerita traveling atau hand out mata pelajaran geografi. Sama halnya dengan poin satu di atas, nama tempat bisa digunakan jika nama tersebut mengandung konflik. Misalnya; Lawang Sewu, Nusakambangan, Afganistan. Kalau masih Bandung, Jakarta, Papua sih udah biasa. 
 
3. Hindari judul yang numpang tenar. 
Numpang tenar di sini adalah mengambil judul-judul film, buku, cerpen, atau apa pun yang sudah terkenal. Judul Effiel I’m In Love sudah kita kenal. Jadi please, jangan buat judul plesetan seperti Bandung I’m In Love. Tidak kreatif. Atau plesetannya AADC, diganti menjadi Ada Apa Dengan Susan
Kedengarannya memang menarik, kedengarannya memang menggemaskan numpang keren seperti itu. Namun penulis yang kreatif selalu membuat terobosan-terobosan baru. Ingat, persaingan tetap persaingan. 
 
4. Hindari menggunakan terlalu banyak kata hubung. 
Kata ‘dan’, ‘tentang’, ‘yang’, ‘di’, ‘ke’. Ini memang sangat susah dihindari. Namun cobalah keluar dari kotak deskripsi. Fungsi judul bukan hanya menerjemahkan cerita, tapi juga melengkapi cerita. 
Kita punya cerita tentang tabrakan beruntun di jalan tol dan nyaris semua korban meninggal, hanya ada satu orang yang selamat. Tadinya kita ingin membuat judul sebagai berikut:
– Tabrakan di Jalan Tol
– Tragedi di Jalan Tol
– Kisah Sedih di Jalan Tol
Mau pilih yang mana? Kalau saya penulisnya, saya tidak akan menggunakan ketiganya. Saya akan menggunakan ‘Brak!’, atau ‘Kilometer 90’.  (Jadi buat apa dong gue kasih pilihan tadi? Hahaha…)
Ketahuilah bahwa kata hubung ‘dan’ bisa disiasati menggunakan koma. Saya pernah membuat cerpen yang dimuat di Majalah Muslimah, judul lamanya adalah Langit Aish dan Langit Jibril, tapi kemudian saya ganti menjadi Langit Aish, Langit Jibril. Ini dimuat di edisi November 2005.
 
5. Hindari menggunakan terlalu banyak tanda baca. 
Anda sudah tahu bukan kalau judul tidak memakai titik setelahnya? Bagaimana kalau tanda tanya (?)? Bagaimana kalau tanda seru (!)? Bagaimana kalau titik tiga (…)? BOLEH. Tapi dengan catatan tidak berlebihan dan kalau tanda baca itu memiliki urgensi tinggi. Dan ingat, jangan kawinkan tanda tanya dengan tanda seru di judul. Karena berkesan sangat galau. Hehehe….
 
Oke, sekian dulu postingan ini. Semoga membantu. Keep writing and being inspired
 
Salam
~eS
 

Leave a Reply