DUNIA INI, NAK

Dunia kita, Nak.   Selalu saja ditumbuhi alang-alang yang melintang.  Kaki-kaki kita timpang, tertelikung terjegal, nyaris tumbang.  Tangan-tangan kita menggapai berbagai macam pegangan, menyerabut sementara suara kita tenggelam hilang. 
Lalu ibu macam apa aku ini?   Dengan penuh sadar membiarkanmu bersandar pada akar-akar lapuk bermulut busuk sementara aku sendiri berkeliaran mengejar mimpi dan angan-angan yang juga busuk.  Mimpi-mimpi itu telah kutanamkan ke dalam kepalamu sementara benakmu sendiri dipenuhi janji-janji yang tidak pernah aku tepati.

Barangkali aku adalah ibu paling durjana , Nak.  Selalu saja membawamu menapaki jurang-jurang demi jurang yang semakin hari semakin dalam, semakin terjal.  Namun hidup juga tidak pernah memiliki kompromi terhadapku, andai engkau tahu.   Engkau pun melihat dengan mata kepala kecilmu sendiri, bahwa aku pernah terjebak ke dalam nyeri.  Meski benakmu mungkin tak lekas mengerti, untuk apa aku terus berkubang dalam pedih, tapi sudah kukatakan, bahwa hidup begitu kelam ketika ia berkelindan di kakiku.
Kadang aku ingin hilang, Nak.  Agar kelak kau mengenangku hanya sebagai nama di nisan, bukan sebagai sosok yang membuatmu terlantar; ibu yang membiarkanmu terpapar.  Namun engkau lah muara dari segala keinginan.  Engkau lah pusara selaksa harapan.  Namamu, adalah doa yang tak pernah bosan kusuarakan.  Hingga suaraku tinggal getar.
Mungkin ini sudah saatnya aku berhenti mengejar tepi-tepi mimpi.  Mimpi yang tak pernah terbeli.  Mimpi yang hanya bisa membuatmu tenggelam dalam keegoisanku sendiri.  Mimpi menjadi iblis, bergelayut dan menjerat kaki.
Mari, Nak.  Kembali ke pelukanku.  Tidak ada dunia yang harus kita taklukkan.  Aku hanya ingin kita berpegangan tangan, saling berpelukan.  Agar nanti, wajahku tak hanya jadi gambar dalam foto yang tenggelam dalam kenang.
Ada banyak doa yang mesti kita panjatkan.  


Leave a Reply