Dunia Kita, Sayang

Perahu Tanpa Suar (2)

 


 

Dunia kita, sayang…. 

 

Seluruhnya berisi bisik-bisik angin yang senantiasa menyesatkan. Berkali pula kau jelaskan bahwa engkau bukan arah tujuan kecuali persimpangan, tempat rehat mengenaskan ketika banyak kapal karam dan suar yang padam di kakimu. 

 

 

 

Namun, pernahkah engkau teryakinkan? Bahwa arah dan dari peta-peta itu memang bukan akhir dari gugusan garis gelombang. Ia adalah perjalanan. Perjalanan maha panjang dengan kita sebagai peramal kompas tanpa jarum, hanya utuh sebagai pengingat kenangan. 

 

 

 

Dermagaku yang kian lisut… 

 

 
Mestinya engkau tahu bahwa di perut buritanku sendiri telah banyak mengandung ikan-ikan mati, bangkai karang, dan puluhan jangkar yang urung diturunkan. Jangkar-jangkar itu berisi banyak nama, banyak wajah, banyak peristiwa, dan banyak kesakitan; luka yang ingin sekali aku sampaikan jika kelak matamu berhenti berhujan.

 

 

 

Dermagaku yang kian timpang…. 

 

Gelombang laut yang sering kau kutuki tak akan pernah tumbang. Mereka adalah bagian dari derai peristiwa, tak jua lekang.
(Cibiru, 31 Januari 2012)

Leave a Reply