Sudah 19 tahun. Rasanya baru kemarin, ternyata sudah sangat lama. Sudah tiga belas tahun sejak aku memulai pendidikan sekolah dasarku. Semuanya berlalu seperti dipacu –mau tak mau- membuat pilu.
Sawah-sawah yang kerap tertangkap mata bocahku menghilang, disulap menjadi pemukiman mewah. Aku mendesah, menyesalkan semuanya tapi tak tahu harus menyalahkan siapa. Kebun ubi pun sudah raib entah kemana. Bandung benar-benar sudah tak ramah.
Dulu, belasan tahun lalu, di belakang rumahku terdapat sawah dan kebun yang luas. Aku tak begitu ingat detailnya, namun kenangan saat menuai padi bersama nenek buyutku tetap terpatri jelas di memori.
Sekarang beliau pun masih ada, meski tak bisa mengajakku menuai padi lagi. Pasti beliau tak akan percaya kalau kuceritakan tak ada lagi sawah di sekitar sini. Ah…perumahan para pendatang mendesak kampung kami yang hanya terdiri dari dua rukun tetangga. Semuanya ikut berubah. Pun semua orang di sekitarku. Aku sendirian.
“The, kok melamun sih?” seseorang menepuk pundakku. Adik perempuanku itu menatapku heran.

“Sudah banyak yang berubah, Ven,” aku mendesah.
“Semuanya memang harus begitu, Teh! Kalau tidak, bagaimana pembangunan bisa dilaksanakan?” gadis yang tahun ini menginjak tujuh belas tahun itu menatapku.
“Kamu tahu apa yang Teteh renungkan?” Dia mengangguk. “Tapi kenapa pohon-pohon itu juga ditebang? Kenapa tidak dibiarkan saja seperti dulu?” aku meradang.
“Akan tumbuh pohon yang baru.”
“Reboisasi hanya bualan,” aku menoleh ke luar jendela. Serentak debu masuk ke dalam ruangan yang kubiarkan terbuka.
“Akan tumbuh pohon yang baru. Akan selalu begitu…” dia berlalu sambil tersenyum, sudah mulai dewasa.
Kulihat dia membawa sepolybag pupuk untuk pohon jambu kesayangannya yang baru setinggai 30 senti meter.
***

Jiwa-jiwa masa kecilku telah dirampas dengan amoral. Ada pertanyaan yang terus menggema dan menjadi polemik dalam renungan panjangku. Haruskah kampungku yang hijau diganti abu-abu ditingkahi debu denga alasan pembangunan? Reboisasi memang hanya bualan.

(Bandung, 27 Januari 2002)

Leave a Reply