Engkau Dermaga

 

Perahu Tanpa Suar (1)
 
AKULAH PERAHU YANG TERBANTING-BANTING MENUJUMU, DERMAGA RETAK. 
 
*
 
Tapi sebesar apakah kesakitan yang harus engkau tanggung? Saat berbagai macam nyaring diteriakkan gelombang ke dalam telinga kayu-kayumu yang sedemikian rapuh. Barangkali engkau terlampau jenuh menampung berbagai macam kapal dalam perutmu yang nyaris penuh. Sehingga yang keluar dari retakan bibirmu adalah keluh demi peluh.
 
Aku adalah perahu papa tanpa bahan bakar dan tiang layar. Angin keparat berkali-kali merenggut peta dan penanda hingga aku buta. Namun sosokku yang tidak sempurna ini lah yang kelak akan sampai ke tepimu; dermaga retak meski tanpa suar. 
 
Pendar-pendar lampu hanya akan membuat mataku silau galau karena jemariku terbiasa mengeja dalam gelap. Dan itu lah alasan kenapa aku menemukanmu, berbaring di dada serpih kayumu. 
 
Dari berbagai gelombang jalang dan nyalang ketika aku berlayar lah, kuhirup masin udara laut yang sering kau rindukan, meski seringkali pula kau muntahkan. 
 
(Cibiru, 30 Januari 2012)

Leave a Reply