Select Page
Tidak ada apa-apa dengan kita, kita hanya sedang belajar untuk saling melupakan, saling merelakan, saling bersiap menuju perpisahan. 
Bagimu, aku adalah muara kesalahan, tempat berbagai macam alpa dan karma berpusar dan berputar. Barangkali di matamu, akulah Lilith, ratu para iblis atau dedemit. Tak pernah sekalipun engkau menganggapku benar. Seperti katamu, aku adalah perempuan yang banal dan liar. Neraka barangkali tempat paling pantas untuk perempuan-perempuan yang lidahnya tak bisa dipangkas; perempuan seperti aku. 
“Suatu saat, kalau kita sudah sama-sama lelah, ada baiknya kita berpisah,” kataku. 
Engkau tak menjawab, tak mengatakan apa-apa selain raut yang tak bisa kutebak. Kukira engkau mengerti bahwa hati ini sudah sampai ke tepi. Sebab serapahmu tak jua mau berhenti. Engkau berubah menjadi manusia yang begitu asing, aku kerap dibebat rasa takut dan kalut. Entah mengapa, apa pun yang aku lakukan dan katakan selalu bermuara di tepi laut yang sama;  karma. 
Lalu mengapa kita masih harus saling terikat jika masing-masing dari kita sudah terperosok ke dalam lubang paling jengat? Lubang yang tak menyediakan tempat keluar sehingga kita berdua selalu harus saling mencakar. Engkau tahu, cintaku tak memiliki satuan, angka atau timbangan akan lantak. Barangkali dengan begitu kau beranggapan bahwa aku tak akan sanggup meninggalkan. Padahal seharusnya engkau sadar bahwa aku adalah perempuan yang tak pernah takut sendirian. 
Mungkin aku harus belajar untuk pergi*.
*Larik puisi Sabda Ali Mifka