Engkaulah Rumah

Aku ingin pulang kepadamu, seseorang yang selalu memiliki pintu terbuka agar aku bisa berbaring dan mengemas apapun luka. Aku ingin pulang kepadamu, seseorang yang memiliki jendela lebar di dadanya, hingga lirih anginku bisa menari di ambang jendela meski kemudian pergi untuk menempuh perjalanan yang lain. Aku ingin pulang kepadamu…
Namun, jalanan teramat terjal, pun alamatmu hilang di antara pematang. Aku kerap tersesat, mencari-cari jalan dan pertanda, mengeja setiap rambu, berharap-harap cemas bahwa itu adalah langkah menujumu.
Lalu ke mana aku harus bertandang jika alamatmu tak jua kutemukan? Sedangkan kita sendiri sudah bosan dan jengah bertemu di setiap persimpangan tanpa tahu ke mana harus pulang. Engkau mungkin memilki alamat tujuan, tapi aku tidak.
“Aku akan menjemputmu di jalan itu, ketika malam belum tua, ketika hujan belum terlalu deras,” ucapmu di sebuah senja.
Namun malam sudah sedemikian lengang dan hujan berderap dari berbagai arah. Aku menunggu, di ujung jalan yang kau sebutkan, engkau juga datang, membawa payung lebar dan dada penuh debar. Tapi engkau tidak bisa membawaku pulang.
“Karena rumahku sudah memiliki penghuni,” matamu pasi.
“Maka ijinkan aku tinggal di rumah dadamu saja,” kataku menahan gigil.
“Akan selalu ada tempat untukmu di sana,” jemarimu menaut jemariku.
Aku pun berpulang kepadamu… seseorang yang memiliki pintu begitu lebar di dadanya.
(Setelah percakapan tentang ‘berumah di tubuhku’ dengan Ratna M. Iwan)

Leave a Reply