(Surat-surat Maria)


Aku hanya ingin seutuhnya menjadi perempuan yang kau inginkan. 
Itu cita-cita sederhana meski untuk mewujudkannya seringkali aku sendiri linglung dan sesekali limbung.

                Aku kembali membaca surat-suratmu yang dahulu, saat engkau bercerita tentang tiga buah kerikil yang kau sisipkan ke genggaman tanganku.  Katamu, kelak engkau ingin agar kerikil itu tetap berada di tanganku. 
                “Jaga ketiga kerikil ini dengan baik.  Jika kelak aku datang dan tidak mendapatinya, maka aku akan menghilang darimu,” ucapmu getas, waktu itu.
                Kau selalu mengingatkan bahwa ketiga kerikil itu engkau bawa dari negeri nan jauh, negeri tempat tinggal para pecinta, para pecandu asmara.  Dengan menjaga ketiga kerikil itu maka engkau berjanji akan segera kembali membawa sekeranjang upeti.  Upeti itulah yang akan menjadikan dirimu sepenuhnya milikku.
                Namun andai engkau tahu, tidak semua kerikil yang kau sisipkan luluh dan bersimpuh, salah satunya  berubah menjadi duri, menjadi api, menjadi sepi.  Ucapanmu terngiang-ngiang hingga aku berusaha menahan nyeri.  Aku ingin melepas mereka, sungguh.  Namun jika itu berarti melepasmu juga, apakah aku sanggup? 
                Kau memang telah berjanji untuk kembali, menjadikan dadaku sepenuhnya rumah, bukan hanya tempatmu singgah, melainkan tempatmu merebah.  Namun kau juga berjanji akan menghilang, selamanya jadi awan yang mengawang.  Dan aku hanya bisa menjadikanmu sebagai kenang.
                Bagaimana mungkin perempuan seperti aku sanggup menanggung segala hal yang kau inginkan sedangkan aku tak pernah melepas rapal ataupun mantra agar kau terikat?  Kau selamanya terbebas, selamanya buas.  Sebab aku tak pernah merasa harus memasang jeruji ataupun kerangkeng di kaki. 
                Jika dengan menggenggam ketiga kerikil itu bisa membuatku menjadi rumah, maka aku akan menjadi rumah.  Seperih apapun setapak yang harus kujejak.  Seterjal apapun jejalan yang harus kumamah.
                Tapi jangan pernah bernjanji untuk pergi.  Jangan pernah!  
                Aku hanya ingin mendengar satu kata dari bibirmu; kembali.

(Jakarta, 7 April 2012)
Di tengah deras hujan
               

Leave a Reply