FATWA MUI DIKANGKANGI

Seminggu belakangan ini sering baca koran. Melototin berita yang itu-itu aja. Gaza, Obama, FTZ, dan berbagai caleg yang masuk penjara. Namun yang menjadi perhatianku adalah iklan-iklan lux yang dipajang besar-besar dan penuh kata-kata ‘iklan’. Berisikan berbagai macam fasilitas yang disediakan hotel-hotel mewah, restoran-restoran wah, dan tempat-tempat wisata yang intinya cuma satu: perayaan valentine.

Mulai dari romantic canle light dinner sampai konser hingar bingar yang mendatangkan artis-artis papan atas ibu kota. Semuanya sibuk, sengaja dipersiapkan untuk menyambut satu tanggal saja; 14 Pebruari. 17 Agustusan aja kalah, kali!

Aneh memang, semua pesta dan kemewahan itu berada di tengah-tengah kondisi Indonesia yang masih terpuruk. Bukan bermaksud pesimis, tapi di Batam sendiri, kondisi ekonomi belum begitu membaik pasca krisis global dan kenaikan BBM kemarin. PHK masih saja terjadi, UMK yang dikabarkan naik belum terimplementasi secara menyeluruh, belum lagi harga sembako yang tak kunjung turun.

Yang membuatku geli adalah; MUI sudah mengeluarkan fatwa bahwa valentin itu hukumnya haram. Lucu kan? Seakan-akan fatwa itu cuma main-main. Sama sekali tak dibubris, bahkan dikangkangi. Kalau alim ulama saja sudah tak diacuhkan, apatah lagi kita-kita ini yang bukan siapa-siapa.

Cinta, kata universal ini mau saja ditunggangi kepentingan orang-orang yang berniat menginfiltrasi akidah islam. Ah, kasihan si cinta. Bukan, bukan cintanya yang salah. Momen dan cara merayakannya inilah yang layak dipertanyakan. Mengapa harus menunggu setahun sekali hanya untuk mengungkapkan cinta kepada sesama manusia? Lalu, haruskah pesta-pesta itu diadakan di tengah-tengah ratapan masyarakat kelas bawah? Untuk apa coba? Untuk menunjukkan bahwa Bangsa Indonesia adalah bangsa yang tidak ketinggalan jaman? Untuk membuktikan bahwa Bangsa Indonesia yang ‘rice people’ ini bisa makan malam dengan menu utama bistik? Untuk memberitahu dunia bahwa Bangsa Indonesia adalah bangsa penuh cinta sehingga harus ada satu hari untuk merayakannya bersama-sama? Aku sih lebih memilih disebut kampungan.

Bagi yang belum tahu, silakan baca sejarah valentine yang tersebar di mana-mana. Lalu, bagaimana bila memanfaatkan momen ini untuk mengadakan acara amal, lalu hasilnya disumbangkan untuk kemanusiaan. Kalau suka minum air dicampur minyak, ya silakan!

==

Leave a Reply