FEEL ENOUGH GET ENOUGH

Selalu teringat pepatah Ibu: banyak asalkan tersisa, sedikitpun asalkan cukup.
Aku selalu percaya bahwa di atas segalanya, di balik semua usaha yang kita lakukan, akan selalu ada Sang Pemegang Keputusan dan Ia Sang Maha Tahu.
Barangkali semua orang tahu bahwa yang namanya harta, jika seluruh dunia diletakkan pada tangan kita pun, itu tidak akan pernah cukup. Karena manusia, memang serakah dan tak akan pernah merasa cukup jika menyangkut harta.
Dan aku selalu percaya bahwa segala rezeki yang aku dapatkan adalah memang sudah sesuai takaran. Bersamaan dengan itu, di dalam rezeki yang diberikan kepadaku juga terdapat rezeki hak orang lain yang datang melalui aku. Bagi sebagian orang sikap seperti ini mungkin terdengar pasrah, tapi tunggu dulu!

Karena perempuan akan mendapatkan apa-apa yang mereka usahakan dan laki-laki akan mendapatkan apa-apa yang mereka usahakan.

Aku bukan ahli tafsir, tapi nukilan ayat Al-Qur’an di atas aku implementasikan sebagai begini: bahwa sepanjang aku berusaha, maka aku akan menuai hasilnya. Seberapa besar hasil yang aku terima nanti, itu bukan urusan aku karena kembali lagi ke prinsip di atas; bahwa segala sesuatunya memang sudah disesuaikan dengan takaran.

Apakah dengan begitu maka aku menghentikan usaha di satu grade? Tentu saja tidak, karena jika aku ingin lebih maka usahaku juga harus lebih. Semakin aku bersikap seperti ini, maka semakin lapanglah dadaku ketika hari gajian tiba. Atau ketika membayar berbagai macam tagihan dan yang tersisa dari uang gaji hanya untuk jajan Salwa, aku bisa menyikapi itu tetap dengan tenang. Kenapa begitu? Karena aku tetap bekerja, tetap berusaha, dan karena itu aku tidak pernah khawatir.

Lagipula, harta adalah amanah yang akan dihisab dua kali di akhirat kelak; dari mana kita mendapatkannya dan kemana kita membelanjakannya. Aku punya pemikiran bodoh bahwa semakin sedikit harta yang diamanahkan kepadaku, maka semakin pendek pulalah hisabku nanti. Bukankah itu kabar bagus?

Aku manusia dengan insting yang sama dengan manusia yang lainnya. Yang tidak pernah merasa puas, yang selalu diliputi setan keserakahan. Namun untuk mengendalikan itu semua adalah dengan merasa cukup. Memangnya apalagi yang aku butuhkan? Baju? Punya satu toko penuh pun toh pada akhirnya aku hanya akan memakai satu set baju, tidak lebih. Makan? Punya rumah makan pun toh pada akhirnya aku hanya makan satu piring setiap kalinya. Rumah? Punya satu kompleks pun toh aku hanya akan tinggal di satu rumah setiap kalinya.
Bukankah dengan merasa cukup hati kita akan terasa lebih lapang karena tidak senantiasa diliputi kegelisahan karena selalu saja ada daftar keinginan yang tidak terpenuhi? Bukankah dengan merasa cukup apa yang kita punya akan terasa lebih berarti ketimbang harus memenuhi rongga kepala dengan segala sesuatu yang tidak kita punya?

Sekali lagi tidak, aku tidak pernah berhenti melangkah dan berusaha karena konsep cukup ini. Justru dengan konsep cukup ini, segala keserakahan teredam karena serakah membuat manusia cenderung menghalalkan segala cara atau mengambil sesuatu yang bukan haknya.
Setelah merasa cukup, yang selanjutnya adalah merasa bersyukur. Dengan syukur itulah, setiap sen harta yang diamanahkan akan terasa lebih nikmat, dan dengan rasa nikmat itulah hidup akan terasa tenang.
Dan semakin aku merasa cukup, maka akan dicukupkanlah aku.

Leave a Reply