Tip Bertahan Hidup untuk Freelancer + Free Printable Daily Planner

Ketika resign dari kantor enam tahun lalu, saya tidak pernah menyangka bahwa dunia kepenulisan yang dulu sekadar hobi, bisa membawa saya sampai sejauh ini. Ketika belajar desain untuk mengobati patah hati empat tahun lalu, saya juga tidak menyangka bahwa saya bisa sampai di titik ini. Titik ketika passion yang saya tekuni bisa benar-benar menghidupi kami, saya dan anak saya.

Namun, sebagaimana profesi lain, profesi sebagai blogger dan desainer lepas bukannya tanpa tantangan, bukannya tanpa pasang dan surut. Dan di masa-masa pasang, tantangan sebetulnya bukanlah mencari ide untuk desain atau riset untuk tulisan, melainkan mempertahankan kewarasan dan kesehatan. Uang bisa dicari, tapi desainer yang sinting jelas tak akan punya masa depan. Hahahaha. Jadi, agar saya rekening tetap waras, saya punya beberapa tip.

Tip Produktivitas untuk Freelancer

1. Berani Berkata “Tidak”

Well, sepanjang karier saya sebagai desainer dan penulis, saya bukan hanya banyak belajar tentang order yang saya kerjakan, tapi juga belajar tentang berjenis-jenis manusia. Dari mulai klien yang “iya iya” aja di awal tapi ujung-ujungnya cancel order sampai klien yang rewel minta ampun tapi selalu repeat order

Ada klien yang sekarang maunya A, 2 detik lagi berubah jadi Q, 5 detik kemudian maunya jadi Y. Lalu, setelah Y jadi, dia berubah pikiran lagi jadi A. Ada calon klien yang SETIAP KALI saya upload hasil desain dia selalu “ngarewong” nanya-nanya tentang harga, minta contoh desain, TAPI ENGGAK PERNAH JADI ORDER. Ada juga klien ketjup-able yang konsepnya jelas, enggak banyak revisi, dan bayarannya lancar. 

Kita sendiri yang tahu sampai di mana batas kesabaran kita menghadapi berbagai jenis manusia, jadi bijak-bijaklah memilih calon klien dan berani berkata “tidak” pada calon klien yang berpotensi membuat kita sakit kepala. 

2. Batasi Order

Lebih baik order sedikit dan lancar daripada banyak tapi enggak selesai. Saya mencontoh Alma dalam hal ini, yang berani mengatakan, “Sori, slot untuk desain minggu ini sudah habis.” Jadi, sebelum mengatakan “iya”, saya akan bertanya dulu “Ini masuk jadwal pengerjaan minggu depan, gimana?” Kalau klien enggak masalah ya lanjut, kalau klien enggak mau ya udah. 

Saya juga belajar banyak dari pengalaman kemarin-kemarin, ketika beberapa klien potensial akhirnya berguguran karena saya terlalu “ngarawu ku siku”. Kitalah yang tahu kapasitas kita, jangan sampai gara-gara semua ingin diterima lalu hasilnya tidak maksimal atau justru membahayakan kesehatan mental dan fisik kita sendiri.

3. FIFO (First In First Out)

Siapa yang order duluan, itu yang pertama diselesaikan kecuali untuk klien reguler yang sudah ada perjanjian bahwa kita bisa siap kapan saja. Bekerja dengan tenggat waktu yang begitu ketat akan membuat kita merasa tertekan. Dan bekerja dalam tekanan adalah seburuk-buruknya pekerjaan.

4.  Daily Planner

Dengan segunung pekerjaan yang harus dilakukan, mustahil kita bisa menyelesaikannya dalam sekali waktu. Meskipun saya kerap berkhayal punya tongkat sihir Harry Potter, tapi tetap saja, kenyataan di depan mata harus dihadapi dengan lapang dada. Poin ini akan kita bahas lebih lanjut di subbab berikutnya.

5. Pekerjaan Domestik

Karena tidak punya suami, saya punya kontrol penuh terhadap urusan domestik. Mau mandi sehari lima kali atau seminggu sekali ya terserah saya. Mau kamar kos berantakan juga terserah saya. Mau masak sendiri atau makan di warung depan, terserah saya. 

Untuk urusan-urusan domestik, ini yang saya lakukan:

  • Anak nomor 1. Meskipun saya pengabdi setan profesionalitas a.k.a bersedia dihubungi 24 jam, tapi ada saat-saat saya tidak bisa diganggu. Jadi kalau saya tidak segera membalas WA atau inbox atau e-mail, itu artinya saya sedang memandikan Aksa atau menyuapinya atau menemani dia main ataaauuu ada “anak sulung” sedang mampir ke kosan. 
  • Kirim cucian ke laundry yang diantar-jemput. 
    Laundry: 135 ribu/minggu
    Mencuci sendiri – nyetrika: + 2 jam per sekali mencuci x 3 kali = 6 jam. Mengingat ada Aksa, waktu 6 jam bisa berubah menjadi 18 jam.
    Dalam waktu 6 jam, saya bisa menyelesaikan pekerjaan bernilai lebih dari 135 ribu rupiah. So, ya mending ke laundryPangpangna mah haroream nyeuseuh ketang.
  • Makan. Saya orang yang menganut asas “Dukung UMKM” termasuk warung-warung makan. Sebagai bentuk dukungan, saya jarang memasak dan membeli makan di tempat mereka. 
  • Beres-beres kamar/working space diusahakan setiap hari agar mood kerja tetap bagus.
  • Belanja bulanan ada waktu khusus, tapi kalau bisa sih online. Aslina, meuli popok ge saya mah online
6. Membeli Waktu

Bukan sekali dua kali ada klien yang mau mampir ke kosan entah itu untuk ngambil hasil desain atau buku atau whatever dan saya menolak. Kenapa? Karena janjiannya ribet, karena ngobrol-ngobrolnya lama, karena hal-hal lain yang menurut saya tidak efektif. Desainer itu seperti pengacara, kami dibayar per jam. 

  • Kirim kartu nama untuk dicetak: via e-mail, bayar transfer.
  • Ambil kartu nama dari percetakan: pakai Go-Send, padahal jaraknya cuma 4 km. 😀
  • Semua transaksi dengan klien dilakukan via transfer. Jadi jangan harap saya mau COD-an. 
  • Kecuali untuk proyek yang cukup besar, saya jarang mau meeting dengan klien.
7. Jangan Lupa Liburan

Lakukan apa pun yang bisa membuat Anda otot dan otak Anda santai kembali. Jalan-jalan ke taman kek, pergi refleksi kek, ke salon kek, main game kek, apa pun. Nyari duit bukan berarti harus jadi zombie. Bersenang-senanglah kawan, hidup ini sudah terlalu bedebah hanya untuk dihabiskan di balik meja kerja.

Kehidupan Seorang Freelancer: Mitos dan Fakta

Free Printable Daily Planner

Kuncinya adalah disiplin, kata mantan atasan saya mah. Sebagai freelancer, kita tidak punya atasan, tidak ada yang mengawasi etos kerja ataupun performa. Harap diingat bahwa performa dan produktivitas akan menentukan angka di rekening, so deal with it.

Ini cara saya agar tetap produktif sekaligus tetap waras: menggunakan daily planner atau tasks list:

1.Buat Daftar Order/Proyek

Buat daftar atau catatan order yang masuk berdasarkan tanggal dan due date

2. Waktu Pengerjaan

Ini penting. Menulis sponsored post sebanyak 1500 kata jelas berbeda dengan mendesain web, misalnya. Buatlah perkiraan waktu pengerjaan agar Anda tahu kapan harus mulai, juga agar Anda tahu kapan pekerjaan itu bisa selesai. Sesuaikan dengan tenggat waktu yang diberikan klien. Berikan juga jangka waktu pengerjaan yang rasional kepada klien. Misalnya, ada klien yang minta sponsored post 500 kata dan harus selesai dalam waktu 2 jam. Anda sanggup enggak? Kalau sanggup ambil, kalau tidak sanggup tinggalkan. 

3. Daily Planner

Buat daftar pekerjaan yang harus selesai setiap harinya, urutkan berdasarkan tanggal order masuk dan tenggat waktu yang kita berikan kepada klien. Usahakan setiap pekerjaan dalam satu hari harus selesai hari itu juga agar tidak menumpuk di esok harinya. Untuk pekerjaan yang memakan waktu beberapa hari, buat target progresnya. Misalnya, dalam satu hari Anda sudah harus beres riset, besoknya baru bisa menulis. 

4. Siap-Siap untuk Klien Dadakan

Meskipun kita sudah punya jadwal harian, tapi sebagai freelancer idaman, kita juga harus siap dikontak klien kapan saja. Ini khusus untuk klien reguler lho, ya, bukan klien yang tiba-tiba datang lalu minta dibuatkan seribu candi. Misalnya, mulai bulan ini saya di-hire oleh sebuah komunitas untuk membuatkan e-flyer, dalam satu bulan target sekian e-flyer untuk event dan lain-lain. Jadi ya harus siap terus. 

Atau ada juga klien yang special case. Misalnya, blogger yang akan datang ke sebuah acara lalu tiba-tiba order kartu nama dan harus selesai secepat kilat karena akan dipakai di acara yang akan dia hadiri. Kadang saya sanggupi, lebih sering tidak, tergantung tingkat kesulitan dan pertimbangan teknis lainnya. 

Daily Planner_ 1

Download

Daily Planner_ 2

Download


Dari beberapa tip yang saya bagikan, saya yakin Anda punya tip lain yang bisa meningkatkan angka invoice produktivitas. So, please feel free to share. Anyway, selamat Hari Blogger Nasional, tetap berbagi konten positif dan bermanfaat yes. 🙂

Oh, dan satu lagi, bagi Anda yang baru mulai menjadi pekerja lepas di bidang apa pun, harap diingat bahwa menjadi pekerja lepas bukan hanya tentang uang atau kebebasan. Menjadi pekerja lepas adalah juga membangun karier dan mengerjakan sesuatu yang kita cintai. 

Cheers,
~eL

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *