Fun Blogging 6: Menjadi Padi, Menjadi Api

Mbak Haya meminta kami menulis 3 hal
yang kami inginkan dari hasil ngeblog

Jujur, saya kurang begitu suka datang ke acara-acara bertajuk pelatihan penulisan, apalagi yang mengumbar tagline hiperbola dan utopia. Seakan-akan ikut pelatihan menulis adalah mantra yang bisa menjadikan siapa saja ahli merangkai kata-kata dalam sekejap mata. Lagi pula, saya pikir untuk apa duduk dan mendengarkan orang berbicara hal-hal yang sebetulnya bisa kita baca di buku dan Internet? 

Bahkan ketika diundang sebagai pembicara di acara serupa, kalimat pembuka saya selalu seperti ini, “Adik-adik, yang akan Teteh katakan dalam waktu beberapa jam ke depan adalah omong kosong. Hal-hal yang sebetulnya bisa kalian baca di buku atau bisa kalian temukan di Internet. Tapi karena Teteh sudah dibayar oleh panitia, jadi Teteh harus berdiri di depan kalian dan memberikan tips-tips menulis. Apakah setelah ikut pelatihan menulis ini kalian akan benar-benar jadi penulis, sepenuhnya tergantung kepada seberapa gigih kalian berusaha, bukan pada seberapa banyak pelatihan yang kalian datangi.” 


Iya, bisa dipastikan sehabis itu saya tidak pernah diundang lagi. 


Pun ketika datang ke acara Fun Blogging 6 ini, motivasi utama saya adalah ingin bertemu Mbak Haya Aliya Zaki. Motivasi lainnya karena Smartfren menjadi sponsornya. Waktu itu saya pikir akan ada live demo Andromax 4G atau bagi-bagi Andromax R gitulah, karena sudah lama saya ingin mengganti U2 yang saya miliki dengan Andromax yang lebih canggih. 


Jujur (lagi), saya tidak berharap banyak mengenai materi yang akan disampaikan. “Dari Hobi Menjadi Profesi”, begitu tagline-nya. Blogger menjadi profesi? Yang benar saja, pikir saya. Jadi hari itu, Sabtu, 5 September 2015, saya datang ke Grapari Digilife Dago, Bandung, dengan dua motivasi besar di atas tadi, lain tidak. 


Tapi, ternyata saya salah. Untungnya saya salah.



*

ADA DUNIA DI LUAR LAYAR

Yang khas dari acara-acara penulisan adalah kita akan bertemu dengan wajah yang itu-itu saja. Meski tidak begitu terkejut ketika melihat para peserta yang sudah familiar baik di dunia nyata maupun maya, saya terkejut dengan reaksi yang saya berikan waktu itu. Jika di acara sastra, biasanya saya hanya duduk di pojokan, minum kopi, dan nyaris mati bosan. Kali ini tidak, saya malah senang bertemu mereka. Sepanjang acara sebagian isi kepala saya sibuk mengingat-ingat kapan terakhir kali saya bertemu dengan wajah-wajah di sekitar saya. Tidak ada yang hitungan bulan. Paling pendek dua tahun ke belakang. Dari situ saya sadar, saya sudah telalu lama menjadi manusia yang hidup di dalam layar. 

Ternyata dua tahun ini hidup saya hanya berpusar di PC, smartphone, dan berbagai media sosial. Tak ada yang benar-benar nyata. Saya sudah terlalu lama bertapa. 


Fun Blogging 6 menyeret saya dari gua, kembali kepada peradaban, kembali kepada interaksi sesama manusia yang memiliki passion sama: menulis. Apa yang saya dapat dari hasil obrolan di sela-sela rehat makan siang? Banyak. Kenalan baru, informasi, link, tips-tips berharga, dan -tentu saja- derai tawa. 


Ada dunia di luar monitor 19 inci. Dunia yang selama dua tahun ini selalu saya hindari.


*

MENJADI PADI

Mbak Haya Aliya Zaki ketika menyampaikan materi
Sumber: dokumentasi pribadi


Materi pertama disampaikan oleh Mbak Haya: “Writing Great Content”. Mbak Haya ini adalah editor buku antologi yang dulu pernah saya ikuti, dan sampai hari ini saya masih menganggapnya sebagai editor. Jadi waktu itu saya kira bisa menebak apa yang akan beliau sampaikan. Sepuluh menit pertama membahas soal 5W+1H, membandingkan panjang paragraf, penulisan judul, dan teknis dasar penulisan lainnya. 


Saya mulai songong: Teknis dasar, kayak ginian mah gue juga udah hafal.


Di menit-menit berikutnya, dosis materi mulai bertambah. Saya merubah posisi duduk, lebih serius meyimak, dan mencatat. 


“Konten blog itu harus jujur, sesuai minat, berdasarkan pengalaman,” jelas Mbak Haya dalam materi “12 Tips Agar Tulisan Bertenaga”. 


Nah, ini baru saya tahu. Sejak menulis blog tahun 2008 sampai sekarang, saya baru tahu bahwa kejujuran itu diperlukan, bahwa minat dengan apa yang kita tulis akan saling berkaitan. Mbak Haya juga menyampaikan tentang konten blog seperti apa yang lebih sering dibaca. Di sini pengetahuan saya kosong sama sekali. Songong tapi kosong, saya kok jadi malu.


*

Teh Shinta Ries
Sumber: dokumentasi pribadi

Materi kedua disampaikan oleh Teh Shinta Ries: “Advancing Your Blog Platform”. Saat materi kedua ini saya hanya diberi kesempatan untuk songong selama 3 menit, selebihnya adalah ngedumel

“Aduh, si Teteh ini kecepetan ngomongnya, gue belum ngerti.”

“Itu tadi apaan sih? Google Analy apa?”

“Pulang dari sini gue harus googling nih, harus!”

Ya bagaimana mau songong kalau saya baru tahu bahwa sidebar ideal blog itu di kanan, bukan di kiri, karena manusia terbiasa membaca dari kiri ke kanan? Sidebar ideal saja saya baru tahu hari itu, lalu apa kabar coding-coding HTML dan web development? Moal kaotakan, meureun. 

Meski kerap menguap karena malam sebelumnya begadang, tangan saya sibuk mencatat dengan kecepatan cahaya (waktu itu saya belum ngeh kalau materi akan dikirimkan via surel setelah acara). Saya takut kalau-kalau ilmu tentang blog layout, blogging tools, analytics for report, dan ilmu penting lainnya hilang dari ingatan saya. 


Ketika Teh Shinta menjelaskan tentang Klout Score, ingin sekali saya mengambil remote control dan menekan tombol “pause”. Akhirnya saya hanya bisik-bisik ke Evi yang duduk di sebelah saya, “Vi, Klout Score apaan sih, Vi?”

Lama-lama saya putus asa menulis, bukan karena lelah, tapi karena tahu bahwa setelah pelatihan selesai, tulisan itu tidak akan mampu saya baca kembali. Mengetik sih jago, tapi menulis manual? Bentuk tulisan tangan saya bahkan lebih rumit daripada CSS code


Akhirnya saya punya akal, semua materi di layar saya foto agar bisa saya baca kembali. Dan untungnya, kamera U2 ini bengras meski di dalam ruangan. (eh kok jadi promosi?)


Setelah materi yang “you must know” itu selesai, ada beberapa hal yang saya catat dalam hati:


  • Pulang dari sini ganti template blog
  • Cari referensi tambahan agar benar-benar paham tentang yang tadi dijelaskan
  • Cek Klout Score
  • Buat akun Google Analytics
*

Berkat ngeblog
Sumber: Ani Berta


Teh Ani Berta, sebagai pemateri ketiga, menyampaikan materi yang membuat kantuk langsung hilang: uang. Beliau menjelaskan bagaimana sebuah blog bisa dipergunakan untuk memperoleh penghasilan. Dari mulai trik-trik personal branding sampai kiat-kiat memperoleh job review


Disampaikan pula kiat-kiat optimasi media sosial, salah satu kiatnya adalah interaksi dua arah dengan membalas komentar yang jleb-jleb banget buat saya. Selama ini saya kan sok ngartis, malas membalas komentar kalau tidak begitu penting. Sampai-sampai sering di-remove orang di facebook karena komentar mereka jarang bahkan tidak pernah saya balas. Bukan karena se-sok ngartis itu sih, tapi karena memang tidak punya cukup waktu. Saya kan pekerja lepas, single mother pula. Waktu bagi saya adalah sumber daya yang tidak bisa dibuang percuma. 

Karena masih tidak ngeh kalau materi akan dikirimkan via surel, selain menyimak saya sibuk mengambil gambar. Satu slide, klik. Satu slide, klik. Songong? Mana sempat? Yang terjadi justru sebaliknya, saya ternganga ketika Teh Ani menyampaikan “Kiat Mendapatkan Job Twitter”. Bisa ya twitter diberdayakan? Selama ini saya menganggap bahwa twitter cuma media nyepik-nyepik elegan dan stalking mantan. Kalaupun dijadikan media nyari uang, paling-paling online shop. 


Di sela-sela materi, saya kembali berbisik ke Evi, “Vi, jadi buzzer, yuk.” Bisikan saya itu tentu saja disambut cengiran oleh Evi, karena tentu saja penulis satu itu sudah begitu familiar dengan apa yang dijelaskan Teh Ani. 


Hingga materi selesai disampaikan, tak henti-hentinya saya bergumam, “Untung gue dateng, untung gue dateng.”


*


Ilmu, seperti kata Ibu, adalah sesuatu yang tidak berat dibawa. Maka carilah ilmu ke segala penjuru. Ilmu, masih kata Ibu, seharusnya menjadikan manusia lebih bijaksana. Yang paling penting dari Fun Blogging 6 bukan hanya orang-orang yang saya temui dan materi yang saya dapat, melainkan tamparan yang menyadarkan saya. 


Saya lupa bahwa gelas yang merasa dirinya penuh tidak akan bisa diisi air. Saya lupa bahwa ilmu adalah air laut yang jika semakin diminum akan menjadikan saya semakin haus. Saya lupa bahwa di atas pengetahuan yang ada di kepala saya, ada semesta pengetahuan lain yang luasnya tak terkira. 


Saya merasa seperti tanaman berduri yang tengadah, bangga terhadap dirinya yang tajam meski tak memiliki isi apa-apa selain duri untuk melindungi diri. Padahal ilmu seharusnya menjadikan seseorang layaknya padi yang semakin menunduk ketika semakin berisi. 

“Belajarlah menjadi padi, Chan. Tundukkan kepala, berhenti membusungkan dada. Sebab di luar isi kepala kamu, ada semesta pengetahuan lain yang luasnya tak terkira. Belajarlah menjadi padi, Chan. Jika kamu masih bisa tengadah, berarti kepalamu belum berisi apa-apa. Belajarlah menjadi padi ….”


 *

MENJADI API

Sabtu itu saya pulang ke kosan dengan perasaan campur aduk. Apa yang saya harapkan di awal kedatangan memang tidak sepenuhnya bertemu kenyataan, tidak ada live demo Andromax 4G atau diskon besar-besaran, tapi saya mendapatkan hal yang jauh lebih besar. 

Sabtu itu pula, ada api yang meletup-letup di dada. Api yang sebelumnya nyaris padam diembus angin bernama kesibukan dan alasan lain yang saya buat-buat. Sebelumnya, saya hanya menulis di blog jika saya ingin atau jika ada deadline lomba. Tidak pernah blog walking, memperlakukan media sosial hanya sebagai “tempat sampah” urusan-urusan pribadi, dan memandang segala sesuatu hanya dari kacamata yang saya punya. 


Sebelumnya, saya adalah manusia arogan yang menasbihkan dirinya sebagai penulis berbakat hanya karena karyanya dipuji segelintir orang. Padahal kenyataannya, ada milyaran penulis yang lebih berprestasi, jauh lebih berprestasi. Saya dan karya-karya saya yang tak seberapa hanyalah debu.


Api itu, semangat menulis oleh-oleh dari Fun Blogging 6, masih meletup-letup dan semakin berkobar. Hingga hari ini. 



~eL


     

57 Comments

  1. September 21, 2015 at 6:54 am

    Mantab lah… 🙂

  2. September 21, 2015 at 7:01 am

    Mendadak panas gitu setelah baca tulisan ini. *megang jidat*

    Makasih udah berbaik hati berbagi ilmu, Kak El. Makin cinta aja sama kakakku ini. *sumpah niat ngaku-ngaku kakak biar dapat warisan ilmu haha* KEREN

  3. September 21, 2015 at 7:02 am

    Aish, ada Teh Beta. *suguhin brownies* 😀

  4. September 21, 2015 at 7:03 am

    Aku sih senang-senang aja punya adik kayak kamu, Key. Masalahnya, nanti orang-orang minta kita cek DNA.
    >.<

  5. September 21, 2015 at 7:12 am

    Reportase yg unik.. Aku malah belum buat padahal ikut FB 5. Hiks..

  6. September 21, 2015 at 7:43 am

    Nggg … sebetulnya, ini setengah reportase setengah curhat sih. Hahahah.

  7. September 21, 2015 at 8:17 am

    cieee… sekarang mah yang disebut nama Teh Evi.. padahal aku juga duduk disamping dan menanyakan klout juga.. qiqiqiqi ;p ;p ohiya, theme udah ganti sekarang, lebih kece deh.

  8. September 21, 2015 at 9:12 am

    Kece badai eung reportasenya. Ta-ta-ta-tapiiii nama aku gak disebut XD

  9. September 21, 2015 at 10:38 am

    Aku terharu baca ini. Semangat selalu Teh, kamu pasti tambah keren ^^b

  10. September 21, 2015 at 11:27 am

    Suka banget sama isi tulisannya Mbak. Kurang lebih hal itulah juga yang saya rasakan waktu ikutan.

Leave a Reply