Hadiah Istimewa untuk Lelaki Istimewa

Namanya Dadang, lebih lengkapnya Dadang Sumpena. Teman-temannya memanggil dia Kang Barlen, teman-teman saya memanggilnya Pak Kumis. Dia adalah lelaki pertama dalam hidup saya. Lelaki yang selalu membawakan boneka kertas setiap kali pulang kerja. Lelaki yang selalu membantu jika saya ada PR prakarya. Lelaki yang bangun sebelum subuh dan setiap hari mengantar ketika saya sedang Pusdiklatsar Paskibra. Lelaki yang matanya berkaca-kaca ketika menjadi wali nikah saya. Lelaki yang juga menitikkan air mata dan menyediakan bahu ketika pernikahan saya pada akhirnya usai. Lelaki yang ketika usianya sudah lebih dari setengah abad masih saja giat bekerja: Bapak. 

Tanggal 12 November adalah Hari Ayah, hari yang istimewa bagi saya karena di hari ini saya punya kesempatan untuk memberikan hadiah tanpa diberondong banyak pertanyaan. Bapak memang orang yang pendiam, tidak banyak meminta atau bercerita kepada kami, ketiga anaknya. 

Memberi hadiah bagi orang tua adalah hal yang pelik, setidaknya bagi saya. Rasanya semua benda yang ada di dunia tak cukup berharga untuk diberikan. Maka saya harus mengaduk-aduk ingatan, mencari hadiah yang kira-kira bukan hanya bisa menghantarkan rasa bahagia, tapi juga memiliki nilai sejarah di antara kami berdua.

Jam tangan. Akhirnya itu yang saya pilih. Waktu saya kelas 5 SD, saya pernah memaksa untuk meminjam jam tangan analog milik Bapak. Itu adalah jam tangan hadiah dari majikannya. Jam tangan yang rusak karena saya lupa menaruhnya di pinggir bak mandi dan baru ingat keesokan harinya ketika jam itu sudah tidak berfungsi karena semalaman terendam di bak. Sejak saat itu saya tidak pernah melihat Bapak memakai jam tangan lagi. Saya tahu, bukan karena Bapak tidak ingin membeli, tapi karena ada kebutuhan lain yang harus dipenuhi.       

Saya sudah sempat mencari-cari jam tangan dengan merek yang sama di berbagai toko, tapi harganya jutaan, dan itu di luar kemampuan saya. Mau membelikan yang imitasi, tapi kok rasanya tidak pantas. Setelah membaca berbagai review fashion yang ditulis oleh teman-teman blogger dan ulasan kustomer di review Blibli.com, pilihan saya jatuh kepada Daniel Klein Men DK 103787.

Daniel Klein Men DK 103787
Sumber: Blibli.com

Ketika pertama kali melihatnya saya sudah jatuh cinta pada jam tangan ini. Ada beberapa pertimbangan kenapa saya memilih Daniel Klein Men DK 103787:

1. Harga

Harganya Rp499.000. Untuk sebuah jam tangan yang akan diberikan kepada seseorang yang istimewa, harganya cukup pantas, tidak terlalu murah juga tidak terlalu mahal. 

2. Desain

Desainnya elegan sekaligus gagah, seperti Bapak saya *ehem. Saya juga sengaja memilih tali kulit, bukan logam karena Bapak pekerja bangunan dan jarang sekali diam. Kalau talinya kulit kan lebih pas dan tidak bergeser-geser ketika dipakai. 

3. Warna

Ada dua warna, hitam dan cokelat. Tapi karena warna kulit kami sama: sama-sama sawo terlalu matang. Jadi saya memilih yang warna cokelat supaya agak terang. Aksen jarum jam berwarna merah juga memberikan nilai lebih, terlihat lebih dinamis.

4. Ukuran

Dengan diameter 4.5 cm, pasti pas sekali di tangan Bapak. 

5. Water Resistant

Ini sangat penting. Bapak kan pemancing garis keras, tidak lucu kalau jam tangannya mati hanya gara-gara terciprati air ketika dia sedang memancing. Jam tangan yang saya rusakkan dulu water resistant juga sebetulnya. Tapi entahlah, saya memang punya chemistry kuat untuk merusakkan sesuatu.

6. Garansi

Ini juga penting. Ada garansi 1 tahun, jadi saya bisa tenang. 

7. Gratis Pengiriman

Sssttt … jangan bilang-bilang, cewek memang paling tidak tahan jika melihat kata “gratis” dipampangkan. 

Jika teman-teman penasaran dengan detailnya, bisa diintip di sini.

*
Untuk melengkapi hadiah Hari Ayah ini, saya sudah membuat sebuah surat.

Untuk Bapak,

Pak, Bapak ingat nggak dulu Teteh pernah meminjam jam tangan hadiah dari Pak Wawan? Apa Bapak juga ingat waktu jam itu tertinggal di bak kamar mandi? Waktu itu Teteh takut kalau Bapak marah, jadi Teteh sembunyikan di tas sekolah selama berhari-hari. Tapi Bapak tidak marah, Bapak hanya meminta jam rusak itu lalu menyimpannya.   

Bapak mungkin sudah lupa, tapi Teteh tidak. 

Pak, jangan pernah menganggap pemberian Teteh ini sebagai balas jasa. Karena walau bagaimanapun, walau seumur hidup Teteh mengumpulkan uang, Teteh tidak akan pernah bisa membalas. Anggap saja ini sebagai rasa terima kasih dan permintaan maaf.  

Maaf karena selama ini Teteh belum bisa menjadi anak sulung yang membuat bangga keluarga. Teteh ingat bagaimana dengan bangga Bapak selalu bercerita kepada teman-teman Bapak tentang prestasi-prestasi Teteh di sekolah. Teteh ingat bagaimana Bapak dan Ibu menyimpan harapan besar terhadap masa depan Teteh. Teteh ingat bagaimana Bapak menemani Teteh lari pagi agar fisik Teteh siap untuk masuk angkatan laut. Teteh juga ingat bagaimana kecewanya Bapak ketika akhirnya Teteh malah memutuskan untuk mencari jati diri di luaran, di jalanan.  

Teteh janji, Pak. Tidak akan lagi menyia-nyiakan hidup. Teteh janji akan kuliah, menjadi orang pertama yang bertitel sarjana di keluarga kita. Teteh janji akan menjaga diri agar tidak lagi mencorengkan arang di wajah Bapak dan Ibu. Teteh janji akan melakukan sebaik-baiknya usaha untuk membuat Bapak dan Ibu bangga, juga bahagia. 

Selama 32 tahun hidup Teteh, baru kali ini memiliki kesempatan untuk memberikan Bapak hadiah. Bukan benda mahal, tentu tidak sepadan jika dibandingkan dengan yang sudah Bapak berikan kepada kami.  

Pak, selamat Hari Ayah. Jaga kesehatan, jangan terlalu sering mancing malam-malam. Ingat lho, Pak. Sekarang sudah punya dua cucu laki-laki dari Teteh dan dari Wiwi. Harus jaga kondisi supaya bisa mengajak Aksa dan Mika bermain sepak bola.  

Surat ini juga disertai doa agar Bapak dan Ibu senantiasa dilindungi Tuhan. Teteh juga mohon doa agar selalu ditunjukkan kepada jalan kebaikan.  

Salam hormat,

Teh Uchan  


         

28 Comments

  1. November 11, 2015 at 11:29 pm

    Awalnya ragu buka link ini, teringat Papa. Lelaki yang seharusnya jadi cinta pertama saya, tapi ah sudahlah.
    Jadi pengen mewek.
    T_____T
    Pinjem jam tangannya dong, Mbak.
    Lol
    Komen macam apa ini -_____-

    Salam untuk Bapak, semoga sehat selalu ya 🙂

  2. November 11, 2015 at 11:38 pm

    Aku juga sebetulnya berani di tulisan, pas ketemu mah pasti ngeledekin. Hahaha.
    Nggak apa-apa atuh, Put kalau mau nangis mah nangis aja. Tapi hati-hati lipstiknya luntur. *eh kok lipstik?

  3. November 11, 2015 at 11:54 pm

    Sehat terus ya Pak Dadang 🙂

  4. November 12, 2015 at 12:28 am

    Amin. 🙂

  5. November 12, 2015 at 3:53 am

    Terharu sekali baca ceritanya, sehat terus ya pak dan teteh juga biar bisa terus membahagiakan bapak…

  6. November 12, 2015 at 5:05 am

    Salam kenal, Teh Uchan. Terharu. 🙁

  7. November 12, 2015 at 7:13 am

    baca pembukaan, rada terharu dan jadi inget Pak Kumis nya Fath 🙂 pas tengah2, si review jam, jadi rada senyum-senyum da kerasanya ko ini lebih jadi kaya review produk, hehe…. tapiiii…. pas endingnya, si surat itu, sukses bikin saya mati2an nahan air mata (scara lagi di kantor gitu bacanya, kan ga mungkin fath keliatan melow melow sama teman2. hahahaa…. si garang nangis, ah rada teu lucu, hehe)….

    tapi kok, hobi mancingnya, sama pisan…. berkaca2 dan bahkan nahan nangis ampe tersedak di acara pengajian dan akad nikah…. aaaah…. salam buat Pak Kumis nya ya teh, semoga Pak Kumis kita selalu sehat dan diberikan umur yang berkah 🙂

  8. November 12, 2015 at 8:47 am

    Barangnya udah sampai ketangan belum mba ? saya beberapa kali beli jam tangan di online shop dapatnya yg KW mulu, sedih aye..

  9. November 12, 2015 at 3:21 pm

    Suratnyaaa, maniis bangeet, menyentuh :')
    semoga Bapaknya sehat selalu yaa teh ^^

  10. November 14, 2015 at 10:46 am

    Amin, hatur nuhun.

Leave a Reply