Hal-Hal yang Menyebabkan Cerpen Kamu Tidak Layak Muat

Selain -tentu saja- kualitas karya, ada beberapa hal yang membuat cerpen kamu tidak layak muat. Seorang penulis bukan hanya harus piawai menanak cerita, tapi juga harus memiliki kemampuan atau pengetahuan tentang teknik marketing. Mudahnya sih, mengirim karya yang tepat ke media yang tepat. Memang, setiap karya akan memiliki takdir mereka masing-masing, tapi takdir seperti ini adalah takdir yang harus diusahakan, bukan hanya diserahkan kepada kuasa Tuhan.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan cerpen kamu tidak layak muat:

1. Ketololan Penulis

Saya tidak mengerti mengapa masih ada saja penulis yang membahayakan kariernya dengan cara-cara yang tidak terhormat. Beberapa hal yang menurut saya tolol antar lain plagiat, mengirimkan cerpen yang sama ke berbagai media di dalam SATU EMAIL, dan mengirimkan cerpen yang sama ke berbagai media di email yang berbeda.

Dunia kepenulisan ini sempit, kawan. Redaktur yang satu dengan redaktur yang lain biasanya saling mengenal bahkan berteman. Tidak usah mengejar rekor pemuatan dengan cara-cara yang tidak elegan. Kecuali kamu memang sedang ingin bunuh diri.

Jika cerpen yang kamu kirimkan belum juga dimuat setelah berbulan-bulan, kirimkan email penarikan naskah sebelum mengirimnya ke media lain. Iya, ada beberapa kejadian pemuatan ganda meski karya kamu sudah ditarik. Itu urusan redaktur, bukan urusan kamu.

2. Spesifikasi Media

Setiap media memiliki kebijakan editorial yang berbeda. Contoh, Republika. Salah satu syarat cerpen di sana adalah tidak bertentangan dengan nilai-nilai islami. Tidak harus memakai anchor text kalimat-kalimat tauhid sih, tapi setidaknya jangan kirimkan cerpen yang bisa menjerumuskan pembaca ke neraka.

Contoh lain, majalah Good Housekeeping. Ini majalah perempuan, sering memuat artikel tentang hidup sehat, makanan sehat, dan hal-hal seperti itu. Jadi, usahakan jangan ada adegan hehedonan seperti merokok atau mabuk-mabukan. Bisa saja sih, tapi akan diedit dengan kejam.

3. Segmentasi Pembaca

Ini penting. Kamu harus tahu segementasi pembaca media sasaran kamu. Koran segmentasi pembacanya umum, kecuali untuk rubrik-rubrik tertentu, misalnya halaman khusus untuk anak-anak. Majalah dan tabloid lebih bervariasi. Majalah Gadis misalnya, segmentasinya remaja, kirimkan cerpen yang memiliki tokoh remaja dan konflik remaja.

Bagaimana cara mengetahui segmentasi pembaca? Coba beli satu eksemplar media yang sedang kamu keceng  dan amati rubrik-rubrik yang ada di sana.

4. Jumlah Halaman

Setiap media memiliki jatah halaman yang berbeda-beda. Lihat keterangan syarat penerimaan karya dengan saksama dan patuhi. Tidak usah repot-repot berjudi dengan nasib cerpen kamu.

“Ah, mau kirim cerpen 12 ribu kata ke PR, siapa tahu jodoh.” Ya kirim aja, kalau cerpen kamu keren sekali sampai-sampai redaktur bersedia menghubungi untuk meminta revisi, selamat. Kalau kualitas cerpen kamu masih rata-rata ya nggak usah baper seandainya tidak dimuat.

5. Teknis

Teknis pengiriman naskah lewat email sudah pernah saya tulis. Oh dan satu lagi, ada penulis yang mengirimkan cerpen dalam bentuk PDF dengan alasan agar cerpennya tidak diplagiat, tidak dicopas, dan tidak diotak-atik. Komentar saya: Nya nggeus weh tong dikirimkeun ari teu hayang diotak-atik mah.

Begini, kawan. Sebelum cetak, cerpen kamu harus masuk ke bagian tata letak. File berjenis PDF akan dikonversi jadi image jika dimasukkan ke software tata letak. Itu artinya cerpen kamu tidak akan bisa diapa-apakan. Mending kalau penata letaknya mau susah-susah mengkonversi ke word terlebih dahulu, kalau aralan seperti saya? Ya wasalam.

6. Moment

Ini berkaitan dengan pemilihan tema dan paririmbon. Maksud saya, momen-momen yang sedang happening seperti Lebaran, Natal, hari besar lain, atau momen lainnya. Kamu tidak bisa mengirimkan cerpen bertema Lebaran ketika Lebaran masih 5 bulan lagi. Kenapa? Kan biar progresif atuh, Teh. Kamu tahu berapa banyak naskah yang masuk ke meja redaktur setiap minggunya? Yang ada juga cerpen BERTEMA LEBARAN TAPI LEBARAN MASIH JAUH kamu akan berakhir di recycle bin.

Ini juga berlaku untuk cerpen-cerpen “hard news”. Cerpen “hard news” adalah cerpen-cerpen yang mengangkat tema trending topics, misalnya sekarang sedang ramai soal Salim Kancil. Cerpen seperti ini memiliki masa kedaluwarsa, maksimal dua minggu. Jika dalam waktu dua minggu cerpen kamu belum juga dimuat, sulit untuk dimuat setelah masanya habis karena berita akan terus ter-update. Tidak boleh membuat cerpen trending topics? Boleh saja, tapi pastikan buat sekeren mungkin dan kirim ke media yang tepat.

Saran saya, buatlah cerpen-cerpen dengan tema kasual sehingga akan terus memiliki relevansi dengan masa ketika cerpen itu dimuat. Contoh paling bagus adalah cerpen-cerpen A.A. Navis dan Ahmad Tohari.

7. Selera

Seni bukan perkara benar atau salah, kadang seni hanya masalah suka atau tidak, masalah pantas atau tidak. Ini di luar perkara teknis ya. Jangan sampai ketika ejaan kamu dikoreksi terus kamu memberi alasan, “Kan menurut saya pantas ejaan seperti ini mah.” Ke laut aja, deh.

Salah satu teknik marketing adalah mengetahui selera pasar, dalam hal ini redaktur. Cara elegan adalah dengan membaca cerpen-cerpen di media yang bersangkutan. Cara kurang elegan tapi ampuh adalah dengan …. ilang sinyal

8. Cerpenis Tak Punya Harga Diri

Ini sengaja saya simpan di poin terakhir. Begini, ada penulis yang setiap kali mengirimkan cerpen, dia selalu bertanya kepada redaktur, “Kang/Mas/Bang/Pak/Mbak, cerpen saya layak muat atau nggak ya?”, “Bang, minggu ini cerpen siapa yang dimuat?”, “Plis atuh Kang muat cerpen saya atuh, Kang,” dan pertanyaan lain yang bukan hanya annoying tapi juga pikaseubeuleun. Hestek: #CageurBray

Redaktur itu manusia yang memiliki perasaan sedih, marah, senang, dan … ini apaan sih? Pokoknya jangan buat kesal redaktur. Kamu nggak harus menjilat, nggak harus menyukai setiap postingan mereka di dunia maya, nggak harus mengirimkan pesan-pesan bernada menggoda. Seriously, nggak harus.

Cara nyepik redaktur akan saya bahas kemudian, jangan khawatir.

*

Well, faktor-faktor di atas memang agak hardcore. Tapi kalau kamu mempraktikkannya dengan tepat guna, mudah-mudahan cerpen kamu dimuat. Jangan lupa traktir saya kalau tip ini berhasil.

Salam,
~eL

19 Comments

  1. October 1, 2015 at 11:22 am

    Waaah. Makasih tipsnya ya mbak. Keren sekalih!

  2. October 1, 2015 at 1:56 pm

    Dulu cerpen yang aku kirim ke sebuah majalah, ketelisut dan setahun kemudian baru”ditemukan”. Redakturnya menghubungi via email apakah cerpen ini sudah kukirim ke media lain karena dinilai layak muat. Untung aku orangnya sabar (dan subur). Jadilah cerpen itu dimuat. Sejak itu, kalau mengirim cerpen, subjek email kutulis namaku. Contoh: Rubrik Cerpen – HAYA ALIYA ZAKI. Di file naskah juga kutulis namaku. Contoh: Rubrik Cerpen – Surga di Mata Ibu – HAYA ALIYA ZAKI. Khawatir ketelisut lagi.

  3. October 2, 2015 at 1:10 am

    Sip, aku mencerna dengan baik setiap poinnya. Berguna banget! Jadi punya impian suatu hari ingin menulis cerpen ke Koran Kompas. Sepertinya temanya harus tajam, honornya juga wah!. Semoga suatu hari bisa. EH, btw, Kompas itu cerpen-nya setiap edisi atau sabtu-minggu saja, ya? hehe, ketahuan belum beli korannya.

  4. October 2, 2015 at 2:16 am

    Tolong dipraktikkan ya, kalau berhasil traktir saya. Hahaha.

  5. October 2, 2015 at 2:16 am

    Ayo praktik! o/

  6. October 2, 2015 at 2:17 am

    Nah, kalau kasus seperti itu kayaknya ada campur tangan Tuhan. Hahaha.
    Iya, aku juga selalu memberi nama penulis di file, subjek email, dan header.

  7. October 2, 2015 at 2:18 am

    Minggu doang, Ceu.

  8. October 2, 2015 at 2:35 am

    aku cumabisa menikmati cerpen,belum bisa buat cepren apalagi mengirimkan naskah :). eh ternyata urang sunda ogeny :-D.
    btw ini poin-poin pentingnya enak dibaca cara menyampaikannya juga ga bosenin. aku harus belajar banyak nih. di tunggu ilmu2 lainnya yaaa

  9. October 2, 2015 at 2:36 am

    saya boleh ikut kan? ahahaha.

  10. October 2, 2015 at 4:20 am

    Nggak usah jadi cerpenis, nggak usah. Nambah saingan, nanti. Hahaha.
    Iya, kan urang Bandung. Sekarang stay di Cimahi sih.

Leave a Reply