HANTU-HANTU MASA LALUMU

(Surat-surat Maria)     

           

                Tadi malam aku tertidur dengan gelisah karena hantu masa lalumu bercokol di ambang jendela, mengintai, menyeringai.  Aku ingin menyapanya dengan jenaka agar ia segera duduk dan bercerita, tapi ia tetap menatapku tajam, pandangannya menikam.
                Padahal aku sudah berjanji untuk bersama masa kini dan masa depanmu, namun entah kenapa aku terantuk oleh cerita-cerita yang seharusnya tidak aku dengar dan baca di pendar layar.  Aku sedemikian iri pada mereka; perempuan-perempuan yang kau hujani kata cinta.  Aku tidak tahu bagaimana mungkin rindu dan asmara bisa berseliweran sedemikian kencang dari catatan demi catatan yang kau lontarkan.  Sementara, padaku, untukku, hanya ada satu catatan berisi desir gelombang. 
                Ya, ya, ya… seharusnya aku tak mempersilakan hantu masa lalumu itu masuk, tapi walau bagaimanapun, ia sudah terlanjur bercokol di situ, mengintai untuk menginvasi tengkorak kepalaku dengan berbagai persepsi dan pencitraan.  Banyak sekali kisah yang aku baca tentang kalian nyaris membuatku tumbang.
                Maka, tadi malam aku bergerilya, dari catatan ke catatan, dari blog ke blog, dari kenang ke kenang, dari ingatan ke ingatan.  Aku pun ingat, beberapa hari yang lalu sempat disemat lagu-lagu.  Lagu-lagu itu berderai seakan-akan itu adalah penanda pematang kenangan.  Tadinya kukira beberapa prosa liris atau apapun namanya itu yang kau tulis dengan lagu-lagu sebagai penghantar sendu adalah prosa yang kau tulis untukku.  Ya, bukan karena isinya melainkan karena nama yang tercetak di situ nyaris menyerupai namaku.  Tapi apa lacur, kutemukan lagu itu di dalam bongkahan file berisi gambar-gambar perempuan lain sebagai judul.  Hahahaha… ternyata selama ini aku sudah tenggelam ke dalam imaji yang kubangun sendiri.  Memang, aku adalah perempuan yang patut dikasihani. 
                Untuk menghibur diri agar hantu itu pergi, aku menelusuri pesan-pesan di telepon genggam, mencari-cari kata yang bisa dijadikan penghiburan.  Tak ada, tak kutemukan apapun di sana.  Meski dapat kuakui bahwa akhir-akhir ini kau tidak melulu getir, namun tetap saja aku kerap merasa tersingkir.  Mataku berubah jadi desir-desir pasir.
                Sampai catatan ini sampai kepada tebing akhir, aku masih bertanya-tanya apakah di dadamu terselip satu saja kata rindu atau cinta untukku agar hantu masa lalumu itu segera menyingkir.  Ah, mungkin ini hanya ilusi yang lain, imajiku yang lain lagi.  Malamku yang tadi kembali jadi getir.  Mataku kembali berair. 
                Memang, aku adalah perempuan yang patut dikasihani.  Hantu masa lalumu, tak jua pergi.

(Cibiru, 19 April 2012)

Leave a Reply