HANYA WAJAHNYA

Jika saja takdir sesederhana menyeduh secangkir kopi di pagi hari, niscaya buih-buih dan rasa pekat itu akan terlalu hangat, terlalu sedap, terlalu nikmat untuk dijadikan kata luka. Aku tahu, garis-garis di tangan kami bersinggungan di satu persimpangan kemudian berderai ke arah lain; saling meninggalkan. Saling melupakan.

Bukan itu yang aku mau sesungguhnya. Bukan itu yang aku harapkan sebenarnya.

Akhir-akhir ini aku sering berjalan dalam diam, menyusuri bayangan, menutup telinga dari deru jalanan, hanya untuk mengemas waktu-waktu yang telah lewat untuk kemudian menghadirkan wajahnya, hanya wajahnya.

Leave a Reply