Jika waktu bisa diputar ulang, saya ingin sekali kembali ke tahun 1998. Tahun ketika saya baru masuk SMK dan mulai ikut berbagai macam ekstrakulikuler dari mulai OSIS, Paskibra, sampai keputrian. Tahun ketika saya mulai menganggap sekolah dan lapangan upacara sebagai rumah utama, sedangkan rumah orang tua hanya dianggap sebagai tempat singgah semata.

Jika tahun-tahun itu bisa diulang, saya akan dengan senang hati sarapan setiap pagi, makan siang tepat pada waktunya, dan makan malam dengan gembira. Jika tahun-tahun itu bisa diulang, saya akan bangun lebih pagi untuk menyiapkan bekal makan siang daripada makan bakso dengan kuah super pedas nyaris setiap harinya. Jika tahun-tahun itu bisa diulang, saya akan pulang paling lambat sebelum azan Magrib berkumandang agar masih bisa menyantap masakan Ibu, bukannya pulang nyaris pukul 9 malam dan menyantap mi instan.

Sayangnya, waktu adalah bulir jam pasir yang tidak bisa begitu saja dibolak-balik sesuai kehendak kita. Tahun 2000, dengan pola hidup dan pola makan seperti itu, lambung saya menyerah. Serangan mag tidak datang pelan-pelan melainkan langsung membuat saya tumbang. Saat itu saya sedang berada di rumah teman, kerja kelompok seperti biasa, seperti biasa pula kami menyantap bakso sebelum belajar bersama. Saya tidak ingat kapan terakhir kali makan dengan benar sebelum hari itu. Yang saya ingat, lambung saya perih luar biasa, diikuti dengan sakit ulu hati dan mual. Sulit menggambarkan rasa sakit dengan kata-kata, yang jelas sakitnya seperti perpaduan antara sakit datang bulan, diare parah, dan masuk angin. Hari itu saya merintih-rintih, bergelung seperti bayi sambil memegangi perut yang nyeri.

Karena khawatir, teman-teman membawa saya ke dokter terdekat. Diagnosisnya? Mag, akut. Sebelum hari itu saya selalu menertawakan teman-teman yang izin tidak ikut pelajaran olah raga karena sakit mag. Saya menyebut mag sebagai penyakit para pemalas.

“Kamu sih, makan aja susah. Gimana kalau kerja atau belajar?” ejek saya selalu.

Setelah hari itu saya sadar bahwa pola makan dan gaya hidup saya yang serampangan juga berisiko. Setelah hari itu saya mulai berhati-hati, mengubah pola makan, dan menghindari jenis-jenis makanan yang bisa membuat mag saya kambuh seperti makanan pedas, minuman bersoda, mi instan, dan makanan berlemak tinggi.

Sejak saat itu pula, saya rutin mengonsumsi obat-obat mag OCT (Over The Counter) yang bebas dibeli di warung atau apotek, bahkan tanpa resep dokter. Tapi, obat-obatan seperti itu ternyata hanya bisa mencegah, bukan mengobati. Lah, saya kan sudah betulan sakit mag, akut pula. Macem mana mau dicegah terus-terusan?

maggo-jamu-sakit-mag

SERANGAN KEDUA, KETIGA, DAN SETERUSNYA

Namanya juga manusia, kadang sering lalai. Saya memang sulit mengatur pola makan. Kalau lapar ya makan, kalau tidak ya tidak. Kadang hingga berhari-hari. Serangan sakit mag parah datang kembali sekitar tahun 2006, saat itu saya sedang merantau ke Pulau Bintan, menjadi karyawan di sebuah perusahaan asal Singapura. Karena seminggu sekali saya mendapat shift malam dan tidak terbiasa makan di malam hari, saya jarang makan. Siangnya, saya tidur. Ditambah sejak tahun 2003 saya mengonsumsi kopi secara “brutal”. Mag saya kambuh kembali, bahkan jauh lebih sakit dari sebelumnya.

Sulit menjaga pola makan karena waktu itu saya sudah mulai menjadi vegetarian. Seharusnya memang jadi lebih sehat, tapi karena saya “bermusuhan” dengan nyaris semua jenis sayuran, menjadi vegan dan menjaga asam lambung bukan perkara mudah. Sehari-hari saya hanya makan nasi, tahu, wortel, buncis, kangkung. Persis seperti kelinci.

Konsumsi kopi saya meningkat dari tahun ke tahun. Kopi inilah yang menjadi musuh utama para penderita mag. Sayangnya, berhenti ngopi jauh lebih sulit daripada menjaga pola makan.

“Uchan itu akan lebih memilih bercerai dengan suami daripada bercerai dari kopi,” begitu kata teman saya, tentu saja dengan bercanda. Well, dia ada benarnya juga sih. Pisahkan saya dengan kopi maka saya akan berubah jadi zombie.

Tahun 2010, mag saya kambuh untuk yang kesekian kali. Semalaman, saya bergelung di tempat tidur, merintih-rintih sambil menangis. Karena sudah pernah melahirkan, sakit mag saya analogikan sebagai kombinasi kontraksi, diare, dan masuk angin. Lengkap sudah sakitnya.

Jam 1 dini hari saya dilarikan ke klinik 24 jam karena sudah nyaris pingsan.

SAKIT MAG MENAHUN

Bertahun-tahun setelah serangan mag paling menyakitkan itu, saya masih kerap merasakan perut kembung atau mual jika telat makan sebentar saja atau jika makan makanan yang terlalu pedas. Jika sudah mulai merasakan perut tidak enak yang sering tertukar dengan gejala masuk angin, saya tidak lagi meminum obat mag, biasanya saya akan mulai mengonsumsi ramuan kunyit meski tidak teratur karena … karena malas membuatnya. 😀

Terus terang, mag adalah penyakit yang membuat penderitanya serba salah. Bagaimana tidak? Jika sudah mulai kambuh, makan salah, tidak makan juga tambah salah. Makan sakit, tidak makan lapar, eh, tambah sakit. Lebih dilema daripada ketika harus memilih antara Tuan Antropolog atau Tuan Pelukis sebagai kekasih.

Karena mag ini penyakit yang timbul tenggelam seperti kenangan mantan, saya jadi sering abai dan lupa. Seperti ketika beberapa hari lalu, saya berangkat ke Jakarta pukul 5 pagi setelah sebelumnya begadang dan tidak makan seharian. Di kereta, saya makan nasi goreng moko yang pedas, siangnya ketika di Jakarta saya makan soto mi lengkap dengan cuka dan sambal, malamnya saya makan nasi goreng yang juga pedas. Ketika pulang ke kosan, perut saya mual luar biasa. Mungkin karena kebanyakan makan (saya tidak terbiasa makan makanan berat dengan frekuensi lebih dari 2 kali sehari), mungkin juga karena asam lambung saya sedang tinggi.

ALERGI OBAT KIMIA

Karena saya alergi terhadap beberapa kandungan obat kimia, mengonsumsi obat mag sintetis jelas bukan solusi. Obat-obatan herbal pun tetap harus hati-hati. Menurut Peraturan Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Nomor HK.00.05.41.1384 Tentang Kriteria dan Tata Laksana Pendaftaran Obat Tradisional, Obat Herbal Terstandar, dan Fitofarmaka, kriteria obat herbal yang boleh beredar di Indonesia adalah sebagai berikut:

  1. Menggunakan bahan berkhasiat dan bahan tambahan yang memenuhi persyaratan mutu, keamanan, dan kemanfaatan/khasiat.
  2. Dibuat sesuai dengan ketentuan tentang Pedoman Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik atau Cara Pembuatan Obat yang Baik yang berlaku.
  3. Penandaan berisi informasi yang lengkap dan objektif yang dapat menjamin penggunaan obat tradisional dan obat herbal terstandar dan fitofarmaka secara tepat, rasional, dan aman sesuai dengan hasil evaluasi dalam rangka pendaftaran.

maggo-jamu-sakit-mag
Gejala mag yang saya rasakan beberapa hari lalu itu merupakan alarm tanda bahaya. Karena saya tidak ingin mag saya kambuh kembali, saya memutuskan untuk mulai menjaga lambung agar asam lambungnya netral, tujuan jangka panjangnya sih tentu saja agar mag saya tidak benar-benar kambuh lagi. Memarut kunyit? Saya pemalas, ingat? Hahaha. Untungnya sekarang sudah ada obat mag yang terbuat dari bahan herbal serta memenuhi standar BPOM di atas. Anda sudah pernah mendengar tentang Maggo Jamu Sakit Mag? Itu lho, obat sakit mag herbal pertama di Indonesia yang memiliki izin BPOM serta cap halal dari MUI. Iya, saya mah emang nggak bisa menolak kalau mendengar yang halal-halal teh. Apalagi kalau dihalalin. *eh gimana?

Sebagai konsumen cerdas *eheum, saya tentu membaca dengan teliti kandungan dan khasiatnya.

KANDUNGAN MAGGO

Terbuat dari 5 bahan alami yang diracik dengan komposisi tepat serta diolah sesuai dengan Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB) yang ditetapkan oleh BPOM.

1. Cengkih

Cengkih atau Syzygium aromaticum berkhasiat untuk menyembuhkan gangguan pencernaan, kurang selera makan, mual dan muntah, asam lambung, rasa sakit pada ulu hati, dan tentu saja berkhasiat menyembuhkan sakit mag.

2. Kunyit

Ini dia resep turun-temurun dari keluarga saya. Kunyit atau Curcuma longa dapat menghentikan pertumbuhan dan mematikan bakteri Helicobacter pylori yang merupakan salah satu penyebab utama sakit mag serta menghilangkan asam lambung yang berlebihan.

3. Lengkuas

Iya lengkuas atau Alpinia galanga yang sering tertukar dengan jahe ini sangat bermanfaat untuk menghilangkan perut kembung akibat kelebihan asam lambung.

4. Kacang Hijau

Selain dibuat bubur, kacang hijau juga bisa berfungsi sebagai obat, lho. Phaeolus aureus, begitu nama ilmiahnya, dapat meredakan inflamasi (1. reaksi tubuh thd mikroorganisme dan benda asing yg ditandai oleh panas, bengkak, nyeri, dan gangguan fungsi organ tubuh) yang disebabkan oleh gangguan pencernaan.

5. Jamur Kuping

Nah, kalau ini saya baru tahu. Tadinya saya kira jamur kuping atau Aricularia polytricha hanya lezat jika diolah menjadi tumisan atau sebagai bahan pendamping sop ikan, ternyata bisa juga dijadikan obat. Pada penderita sakit mag, jamur kuping memiliki khasiat sebagai penyerap zat racun serta mengikat kotoran dalam perut sehingga melancarkan proses pencernaan.

KEUNGGULAN

maggo-jamu-sakit-mag4_opt

Tentu saja karena terbuat dari 100% bahan alami dan diolah dengan standarisasi pengolahan obat herbal. Tapi yang paling penting, Maggo Tuntas Mag ini tidak mengandung antasida atau antasid sehingga tidak berbahaya bagi kesehatan saya meski dikonsumsi dalam jangka panjang.

Mengapa saya katakan bahwa antasid yang sering terdapat dalam obat mag OTC ini berbahaya jika dikonsumsi dalam jangka waktu lama? Karena antasida memiliki efek samping membuat tekanan darah rendah, diare, kram perut, gangguan keseimbangan elektrolit, dan gangguan napas.

IKHTIAR

Sudah 3 hari ini saya mengonsumsi Maggo, satu vial setiap malam. So far, asam lambung saya tidak lagi banyak tingkah. Tentu saja ikhtiar ini dibarengi dengan menjaga pola makan. FYI, untuk penderita mag kambuhan atau yang hanya merasakan gejala seperti saya, hasil signifikan akan terasa setelah mengongsumsi selama 6 hari. Asam lambung akan kembali netral dan mag tidak kambuh lagi. Nah, jika mag Anda sedang kambuh, disarankan mengonsumsinya sejak hari pertama sampai sampai 12 hari atau lebih agar khasiatnya benar-benar terasa.

Saya menganggap ini sebagai ikhtiar untuk menyembuhkan, agar saya bisa bebas beraktivitas, jadi vegan militan, serta terbebas dari siksaan memarut kunyit dan paparan obat-obatan kimia.

Oh iya, ngomong-ngomong soal siksaan memarut kunyit, Maggo adalah jenis jamu penyembuh sakit mag yang mudah dikonsumsi. Cukup tuangkan 1 vial (5 gram) ke dalam gelas, seduh dengan 150-200 cc air mendidih, diamkan hingga hangat-hangat kuku, aduk, lalu minum. Rasanya pun lumayan ramah, tidak “pahang” seperti layaknya jamu gendong. Bisa sih dicampur juga dengan madu (asal jangan madu yang mengandung royal jelly) atau gula batu jika Anda tidak suka rasa jamu. Tapi, saya mah sudah terbiasa dengan pahitnya kehidupan, jadi tidak dicampur apa-apa kecuali dengan manisnya wajah sendiri. *oke, tahan dulu lemparan sandalnya

Agar efek obatnya bekerja dengan baik, saya sampai memasang alarm agar tidak lupa meminumnya. Maggo ini cukup dikonsumsi satu kali per hari, pagi atau malam sebelum tidur, pada saat perut kosong. Anyway, setelah minum Maggo, disarankan untuk tidak mengonsumsi makanan atau minuman apa pun hingga 30 menit. Mengingat pagi-pagi adalah rush hour bagi saya, jadi saya mengonsumsinya pada malam hari.

maggo-jamu-sakit-mag5_opt

Seperti yang dikatakan Josh Billings, seorang penulis terkenal abad 19, kesehatan adalah seperti uang, kita tidak pernah memiliki gagasan yang benar berapa nilainya sampai kita kehilangan itu. Begitupun yang terjadi dengan saya dan lambung saya. Saya tidak pernah tahu berapa nilainya sampai saya terkapar nyaris pingsan di ruang gawat darurat beberapa tahun silam. Kesehatan adalah hal yang sangat berharga, mengobati dan menjaganya memang dibutuhkan usaha.

Salam,
~eL

Sumber referensi:

  1. http://www.maggo.co.id
  2. https://www.facebook.com/maggoid
  3. Permata, Heri. 2007. Tanaman Obat Tradisional. Bandung: Titian Ilmu.
  4. Republik Indonesia. 2005. Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan No. HK.00.05.41.1384 tentang Kriteria dan Tata Laksana Pendaftaran Obat Tradisional, Obat Herbal Terstandar dan Fitofarmaka. Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan RI. Jakarta.

Foto: Koleksi pribadi

35 Comments

  1. May 11, 2016 at 8:42 am

    Wah. Aku juga maag ni Mb. Boleh dicoba nih. Mudah2an udah da di apotek terdekat ya.

  2. May 11, 2016 at 8:44 am

    Saya juga kudu belajar gaya penulisan yang seperti gini. Bikin twist itu teh hese!

  3. May 11, 2016 at 8:54 am

    Aku punya tips lo, buat stop (minimal kurangi) kopi. *kedipkedip
    Salam sayang dari pecandu kopi yang sudah insyaf

    Muahahahahha….

  4. May 11, 2016 at 9:02 am

    Kayaknya cuma bisa dibeli di Maggo deh, Mbak.

  5. May 11, 2016 at 9:03 am

    Minta tip-tip ama Kak Haya, yuk, yuk 🙂

  6. May 11, 2016 at 9:04 am

    Udah, udah dikurangin. Sekarang mah minumnya smoothies. 😀

  7. May 11, 2016 at 9:31 am

    aduuuh, bacanya enyaaaaak teh 🙂

  8. May 11, 2016 at 9:35 am

    waktu kuliah sering maag, trus rajin makan ubi cilembu sm ubi biasa juga, alhamdulillah udah ga kambuh lagi ni skrg2

  9. May 11, 2016 at 9:41 am

    Coba ada yang kemasan kapsul ya ..

  10. May 11, 2016 at 9:46 am

    Dulu aku suka kambuhan maag nya.
    Sudah setahun ini alhamdulillah, nggak kambuh lagi berkat jaga pola makan.

Leave a Reply