Hari Ini, Tiga Tahun yang Lalu

Seharusnya kita memang tidak bertemu waktu itu. Ketika jam pasir belum lagi timpang, melulu bergulir ke arah sembarang. Namun, waktu yang tergenang di kedua kaki kita selalunya berkecipak tanpa bisa kita raba, tanpa bisa kita terka, sedangkan tenaga yang tersisa di pundak kita hanya cukup untuk memikul angin. Tak cukup untuk saling mengiris jejak perjalanan. 
Aku sedang merasa gamang atas pesan-pesan yang berseliweran, tentang ingatan, tentang luka-luka yang tak jua dibebat kenyataan. Sebab masa lalu akan selamanya menjadi hantu, mau tidak mau. Tiga tahun lalu, aku adalah perempuan yang tengah didera gerimis kemudian dilontarkan kepada dilema tak berkesudahan. Berpikir dan meraba masa depan, akan ke mana kaki ini dibawa berjalan. Dan kini, dini hari ini, masa lalu itu kembali bertepi, melempar sauh di batas dermaga untuk kemudian menghunus pedang. Mengajak berperang. 
Jikapun aku harus bertarung saat ini, maka kepada siapa kelak kupersembahkan sisa kekalahan ataupun gelimang kemenangan? Padahal engkau, tak pernah sekalipun bersumpah untuk bersiap menerima segala macam sampah. Ada amarah, selalunya dikelantang menjadi sumpah serapah. Maka, untuk saat ini saja, biarkan aku kembali menjadi Medusa, atau Echidna yang melahirkan monster-monster dari rahimnya. Akan aku hadapi kau, sendirian. 
(Zibril, aku tahu kamu membca ini: mari berdamai saja. Biarkan aku bahagia dan akan kubiarkan kamu bahagia)

Leave a Reply