Dalam cinta yang terlampau hening, kupilih untuk mati menghadapi anginku sendiri*
Rasa kalut ini begitu menyulut, aku terpuruk, remuk.  Bagaimana mungkin cinta bisa sedemikian sakit.   Bagaimana mungkin sebentuk harap bisa sedemikian membebat langkah yang kini tengah berderap.  Keheningan-keheningan seketika menjadi hantu bahkan di tengah ramai dan hiruk pikuk pelbagai racauan.  Banyak suara berlarian dari mulut-mulut keputusasaan, menjadikan kakiku sendiri dikunci mati.  Akankah?  Peperangan ini sanggup kumenangkan?
Tanya demi tanya kemudian berdesakan di setiap pintu yang terbuka, menghambat mimpi apapun ketika seharusnya mereka diam di luar atau hanya bercokol di halaman.  Karena walau bagaimanapun, tak ada jawaban untuk memberi mereka makan.  Ruang kamarku selamanya adalah persimpangan.  Bukan, halte-halte tempat segala macam seru dan tunggu bisa begitu saja rebah dan lelah. 

Bahkan ketika belati-belati dan pedang telah sempurna putus terhunus, masih ada pertempuran tanpa jadwal yang bersiap di hadapan.  Lagi-lagi, aku terjebak dalam peperangan yang tak sanggup kumenangkan.  Padahal aku begitu mendamba keheningan yang bukan sekadar hantu ratapan di dinding khayalan.  Sunyi yang damai, bukan kesunyian dalam racau dan igau.  

*Fragmen cerpen ‘Timur’ karya Mia Indria 

Leave a Reply