Foto di atas aku dapatkan ketika aku melintasi pekuburan Pandu yang membentang dari Pasteur sampai ke Citepus. Mula-mula aku heran ketika menemukan banyak makam yang bersebelahan tapi berada di dalam satu pagar. Walau aku tidak bisa membaca tulisan kanji china, tapi aku cukup tahu bahwa makam itu adalah pasangan suami istri.

Dan memang, masyarakat Tionghoa sepertinya tidak menganut slogan: hingga maut memisahkan kita. Karena ternyata, setelah kematian pun, jasad suami dan istri tetap ditempatkan bersisian. Jika si suami meninggal lebih dulu, maka di sebelah makamnya disediakan tempat untuk istrinya, begitu juga sebaliknya.

Namun, mengingat sejak jaman kedinastian dulu pun masyrakat Tionghoa sudah mengenal konsep poligami (bahkan dengan istri lebih dari empat), maka aku sempat bertanya-tanya. Bagaimana dengan para selirnya? Dikubur dimanakah mereka? Dan kenapa sampai mati pun selir akan tetap menjadi selir? Atau apakah semua selir itu akan dimakamkan bersisian di dalam satu pagar bersama si suami dan istri pertamanya?

Atau bagaimana jika begini. Sesudah si suami meninggal, suatu hari si istri menikah lagi. Nah, di samping laki-laki yang manakah kelak ia akan dimakamkan? Bingung kan? Sampai tulisan ini dimuat, tidak ada satu orang pun yang kumintai keterangan memberikan jawaban yang meyakinkan.

Dan otakku yang liar lagi-lagi berkelana dengan membandingkan hal itu dengan konsep pasangan dalam konteks islam. Setahuku, setiap pasangan di dunia ini tidak memiliki kesempatan yang besar untuk bersama di akhirat kelak karena beberapa alasan:

1. Jika keduanya masuk neraka maka sudah jelas tidak akan disiksa bersama karena amal setiap orang kan berbeda-beda dan aku tidak pernah mendengar atau membaca ada neraka yang dikhususkan untuk pasangan selain bahwa setiap manusia akan mendapatkan adzabnya masing-masing.

2. Jika salah satunya masuk surga dan yang lain masuk neraka, maka putuslah jalinan cinta itu.

3. Jika keduanya masuk surga pun, kans untuk bertemu masih tipis karena konon sudah disediakan para bidadari untuk para lelaki ahli surga. Nah lho, si istri ditemani siapa? Belum lagi, tingkatan surga itu ada banyak. Bagaimana kalau pasangan itu berada di tingkatan yang berbeda? Berarti tidak ketemu, kan?

4. Setahuku islam tidak mengenal konsep dosa ditanggung bersama kecuali anak shaleh yang bisa menjadi safaat bagi kedua orang tuanya. Jadi meski sewaktu hidup jadi partner in crime atau kayak Aa Gym ama Teh Ninih, tetep aja kalau dosa mah ditanggung masing-masing kali ya?

Alasan-alasan tersebut di atas tidak sempat aku klarifikasi dengan keterangan ahli karena kalau aku nanya tentang hal ini ke temen-temen kajian atau para ulama yang aku kenal pun, kemungkinan besar yang aku dapatkan adalah sabitan sandal. Jadi biarlah saja maut memisahkan kita, oke! Dimakamkan boleh bersisian, tapi setelah itu urus diri masing-masing.

Eits, bentar dulu, kayaknya aku mau nambahin ini deh. Berikut kalimat-kalimat cinta melenakan yang ternyata bullshit (stop believe all that fucking love bullshit rightnow!):

1. Cintaku padamu abadi: kagak ada yang kek ginian. Bumi aja punya masa kadaluarsa, apalagi cuma cinta.

2. Aku akan akan/ingin terus selamanya berada di samping kamu: oke, bolehlah ya dimakamkan kayak foto di atas. Tapi nggak jaminan setelah itu bisa bareng-bareng lagi.

3. Hanya maut yang bisa memisahkan kita: nggg… mungkin yang ini mah ada benernya juga.

4. Aku rela mati untuk kamu: phuih! Terus kalau udah mati gimana? Masih, nggak ada jaminan bisa bareng-bareng lagi.5. Cintaku padamu sepanjang masa: yang ini repetisi dari poin pertama. Sepanjang masa artinya ya itu tadi, ada kadaluarsanya juga.

6. Etc etc etc (males ngubek-ngubek sampah rayuan)
Sepertinya tulisan yang tadinya dibuat dengan romantis ini telah berubah jadi biang skeptis. Ah, biarlah foto di atas menjadi simbol bahwa cinta dan konsep pasangan hanya akan berakhir di situ (tugu berupa makam yang terletak bersisian), selanjutnya cinta itu entah berada di mana karena dipenggal kematian
.

Leave a Reply