Manusia adalah makhluk paling sosial yang notabene akan mampus tanpa adanya orang lain, tapi di sisi lain manusia adalah makhluk paling soliter. Kita membutuhkan orang lain untuk memenuhi kebutuhan kita. Taruhlah kebutuhan primer seperti makan. Untuk bisa makan maka kita membutuhkan bahan pangan, sarana, dan prasarana. Ya, kita membutuhkan orang lain; pedagang bahan makanan, pedagang gas elpiji, pedagang kompor, dan lain sebagainya. Tapi itu hanya rantai ekonomi yang tak akan pernah mati. Mereka, para pedagang itu tidak dengan senang hati berdagang karena Anda membutuhkan barang-barang yang mereka perjualbelikan, mereka hanya berdagang untuk memenuhi kebutuhan mereka; sandang, pangan, papan. Di sinilah konsep simbiosis mutualisme diterapkan, konsep yang konon saling menguntungkan, padahal sebetulnya adalah konsep saling memanfaatkan. Lingkaran setan. 

Nah, teori-teori sosial yang mengatakan bahwa individu adalah bagian dari masyarakat dan peradaban sehingga harus mematuhi hukum-hukum setempat sebetulnya hanya rambu-rambu untuk melindungi kepentingan individu itu sendiri. Tidak ada yang betul-betul untuk melindungi kepentingan masyarakat. Contoh, ketika memakai kendaraan roda dua, Anda harus mengenakan helm. Itu untuk apa? Agar tidak ditilang oleh polantas? Atau agar terlihat pantas? Patut diketahui bahwa polantas tidak memiliki kepentingan terhadap kepala Anda. Andalah yang memiliki kepentingan untuk melindungi diri Anda sendiri agar jika suatu saat sedang sial dan kepala Anda mencium aspal, at least, kepala Anda tidak pecah berhamburan. 


Sama halnya dengan ketika Anda melihat plang ‘Buanglah Sampah Pada Tempatnya’. Sebetulnya, keindahan lingkungan dan tata kota adalah omong kosong belaka, yang sedang dilindungi oleh plang tersebut adalah entitas-entitas manusia; Anda. Jadi jangan pernah beranggapan membuang sampah pada tempatnya adalah keharusan yang dijagai oleh peraturan sebab yang memiliki kepentingan terhadap kesehatan manusia adalah manusia itu sendiri. 

Terlepas dari apakah Anda bagian dari masyarakat, negara, atau warga dunia, semua keputusan hidup ada di tangan Anda. Orang lain hanya berperan saling menyokong, itu pun hanya ilusi karena sebetulnya mereka pun memiliki kepentingan sendiri-sendiri. Ya, kepentingan masyarakat dibangun di atas kepentingan para pribadi. 

Hidup Anda berada di tangan Anda sendiri. Apakah Anda ingin menjadi presiden suatu hari nanti, ataukah Anda hanya akan menjadi kecoak yang terkungkung di laci, itu sepenuhnya berada di tangan Anda. Jangan pernah menggantungkan harapan-harapan Anda di bahu orang lain. Jangan pernah meletakkan mimpi-mimpi Anda di bawah sol sepatu orang lain. Ingatlah bahwa seluruh entitas manusia memiliki kepentingan pribadi, maka kepentingan Anda terletak di atas bahu dan tangan Anda sendiri. Berjuanglah sendiri.

*Hidup saya tergantung saya (Sunda)

Leave a Reply