Honor, memang bukan tujuan utama dari penggubahan sebuah karya. Honor adalah kompensasi akhir. Beberapa penulis lebih mengedepankan kepuasan batin ketika karyanya dibaca dan diapresiasi banyak orang. Beberapa yang lain menganggap bahwa pemuatan karya adalah titian kesuksesan dan keterkenalan. Macam-macam motivasi dimiliki oleh para penulis, dari mulai nama, menambah jam terbang, usaha, dan lain sebagainya. 

Apakah dengan begitu honor menjadi tidak penting? Terlalu picik kalau mengatakan bahwa honor itu tidak penting. Honor adalah hak penulis yang harus dibayarkan pihak media atau penerbit. Simbiosis mutualisme; saling menguntungkan. Penulis mendapatkan keuntungan berupa pemuatan dan honor, penerbit atau media mendapatkan keuntungan berupa pengisi halaman dan (bisa jadi) jumlah iklan ataupun jumlah eksemplar penjualan. Seharusnya tidak ada yang saling merugikan, atau dirugikan. 

Dewasa ini, banyak sekali pihak media yang menganggap bahwa honor penulis pemula bisa begitu saja diabaikan. Pura-pura lupa, atau pura-pura tidak membaca pesan yang dikirimkan. Bisa jadi dengan alasan birokrasi di kantor mereka sendiri. Ini tentu saja menyedihkan. Padahal, andai pihak media mengerti dan mau memahami bahwa sebuah karya telah melalui proses labirin yang tidak sebentar dan tidak kurang memeras keringat dan pikiran, tentu mereka tidak akan tega ‘menahan-nahan’ honor para penulisnya. 

Sayangnya, ada juga pihak penulis yang tidak mau ribet. Sudah tahu bahwa tulisannya dimuat di media dan ia berhak atas kompensasi berupa honor tapi tetap tidak mau menagihnya dengan dalih sudah bersyukur bahwa karyanya dimuat. Jika begini, siapa yang patut disalahkan? Media yang ingkar? Atau penulis sendiri yang tak mau memperjuangkan haknya? 

Ada beberapa media yang berterus-terang bahwa mereka tidak bisa membayar honor pemuatan dikarenakan kondisi keuangan mereka. Ini tentu tidak masalah sepanjang penulisnya ikhlas. Media seperti ini justru lebih patut dihormati daripada mereka yang pura-pura amnesia. 

Beberapa pengalaman mengenai honor dengan media, semoga dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan teman penulis di inbox saya:

  1. Pikiran Rakyat, honor bisa diambil dua hari setelah pemuatan dengan membawa fotokopi KTP dan surat pernyataan atau keterangan jika kita memakai nama pena. 
  2. Tribun Jabar, sekretaris redaksi yang bersuara merdu akan menelepon paling lambat seminggu setelah pemuatan dan mengabari bahwa honor sudah bisa diambil. Jangan lupa fotokopi KTP dan surat keterangan jika memakai nama pena. 
  3. Majalah Sekar. Mbak Helen sebagai redaktur akan mengirimkan sms atau menelepon dan mengabarkan bahkan sebelum karya kita dimuat. Honor cair kurang dari tiga minggu setelah pemuatan. 
  4. Inilah Koran. Satu bulan setelah pemuatan. Penulis akan ditelepon oleh sekred.
  5. Majalah Bhinneka. Pihak mereka akan mengirimkan e-mail untuk konfirmasi nomor rekening.  
  6. Majalah Story. Tidak tahu tepatnya berapa lama honor cair, tapi sekred akan menelepon sebelum pemuatan atau mengirimkan e-mail untuk konfirmasi nomor rekening. 
  7. Majalah Annida Online. Honor ditransfer kurang dari satu bulan setelah kita melakukan komplain honor ke majalah tersebut. Tata cara ada di websitenya. 
Beberapa pengalaman buruk dengan media sengaja tidak saya sebutkan di sini karena menjaga nama baik mereka. Jadi, apakah penulis harus peduli terhadap hak-haknya? Tentu saja. Ingatlah bahwa menulis itu bukan hal mudah. Anda telah memeras otak, memeras waktu, dan tentu saja imajinasi Anda ketika membuat sebuah karya. Jika Anda tidak menghargai karya Anda sendiri, siapa yang akan?

Salam

~eS

Leave a Reply