How to Build Your Dialogue

Seorang penulis adalah seorang sutradara, sript writer, penata lampu, penata kostum, tukang setting, dan lain-lain. Tokoh-tokoh Anda adalah aktris dan aktornya. Bagaimana mereka bergerak, bagaimana mereka berbicara, bagaimana mereka berpakaian, bahkan bagaimana mereka berpikir seluruhnya adalah kewenangan Anda sebagai seorang penulis. 

Untuk membangun sebuah dialog yang sesuai dengan keinginan Anda, Anda harus membuat script dan menyutradarai tokoh-tokoh Anda sedemikian rupa. Selain sebagai komunikasi para tokoh, dialog juga memiliki fungsi lain. Di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Membangun latar.
“ Kuburan di malam hari seperti ini pasti sepi dan menyeramkan, Nie. Aku heran, kenapa kita harus kemari malam-malam begini? Aku dengar di sini banyak hantunya,” Sisil memeluk tubuhnya sendiri untuk menangkal angin.

Dengan membuat dialog seperti di atas, Anda tidak perlu menjelaskan bahwa tokoh-tokoh Anda sedang berada di kuburan pada malam hari karena dari dialog itu saja, latar Anda sudah dijelaskan.

2. Memperuncing konflik.
“ Aku akan hidup tenang dan memberi Marwan maaf kalau sudah melihatnya berkalang tanah,” geligi Asrul gemeletuk.

“ Aku ragu itu terjadi, jangan-jangan malah kau yang terlebih dahulu mati,” Ismail menghisap rokok kreteknya sambil terkekeh.

Dari dialog di atas pembaca sudah tahu bahwa pertentangan antara Asrul dan Marwan tidak bisa diselesaikan hanya dengan kata damai. Di sini konflik akan semakin meruncing. Apalagi ketika ditambah dengan dialog Ismail.

3. Membangun karakter. 

“ Asu! Di mana-mana tidak kutemukan dompet sialan itu. Maiyasni harus dipaksa dulu baru bicara kalau begini caranya,” Karyo merutuk dengan tangan terus membuka dan menutup laci-laci di lemari.

Bedakan dengan yang ini:
“ Astagfirullah! Di mana-mana tidak kutemukan juga dompet itu. Maiyasni harus dibujuk betul-betul baru mau bicara kalau begini caranya,” Karyo bergumam-gumam dengan tangan terus membuka dan menutup laci –laci di lemari.

See? Feel the different? Tokoh Karyo Anda yang pertama adalah seorang yang temperamental, sering berkata-kata kasar, dan pemarah. Tokoh Karyo Anda yang kedua ya begitulah, tidak terlalu pemarah. Mungkin juga penyabar dan religius. 

Anda tidak harus mendeskripsikan karakter Karyo dalam narasi. Misalnya: Karyo adalah seorang lelaki pemarah, kasar, tidak sabaran, dan bla bla bla. Itu akan menghamburkan jumlah halaman dan membuat cerita Anda menjemukan. 

Lalu bagaimana cara supaya tokoh-tokoh Anda berbicara dengan cerdas? Apakah harus memakai istilah-istilah astronomi supaya pembaca Anda lari mencari kamus atau segera membuka google? Tidak, saya sarankan Anda tidak melakukan itu. Karena ini cerpen, cerita yang ingin dinikmati pembaca, bukan jurnal ilmiah untuk presentasi atau sebuah tesis. 

Cara paling mudah adalah dengan memperhatikan kehidupan kita sehari-hari. Tidak semua percakapan kita seperti tanya jawab dalam sebuah kuis. Ada pertanyaan, ada jawaban. Ada pernyataan, ada tanggapan. Tidak semuanya seperti itu. 

Ketika ada seseorang yang mengatakan “Langit sudah mendung, mungkin sebentar lagi hujan”, tanggapan lawan bicara tidak akan statis seperti: “Aku rasa juga begitu.”

Coba dengan contoh yang ini:
(1) “Aku mencintaimu,” Gilang menatap mata Nania dengan mesra.
     “Aku juga mencintaimu,” Nania kembali menatap mata Gilang dengan mesra.

(2) “Aku mencintaimu,” Gilang menatap mata Nania dengan mesra.
     “Cinta kamu saja tidak bisa membuatku kenyang,” Nania membuang pandangan keluar jendela.

(3) “Aku mencintaimu,” Gilang menatap mata Nania dengan mesra.
   “Kok gue merasakan firasat buruk tentang kata-kata cinta lu barusan?” Nania mencomot pisang goreng, kemudian sibuk mengunyah.

Dari ketiga contoh di atas, karakter Nania berubah-ubah sesuai dengan karakter yang Anda inginkan. Dari sana juga, cerita digiring ke arah yang berbeda. Itu tergantung mau kemana Anda membawa cerita Anda, tapi jangan buat dialog-dialog yang klise. 

Hal yang paling sering saya terapkan dalam membangun dialog adalah membangun karakter, dengan membuat tokoh-tokoh saya berbicara, saya menanamkan karakter, strata sosial, bahkan menyetel bagaimana si tokoh itu berpikir. 

Sekian bahasan ini, jika ada yang ingin menambahkan, saya persilakan. Semoga bermanfaat.

Salam
~eS

5 Comments

  1. Skylashtar-Reply
    May 12, 2012 at 8:55 am

    Jeng Isna: Tergantung bagaiamana narasi dibangun, kalau sudah cukup kuat untuk membangun cerita, dialog bisa saja diminimkan. Aku pernah bikin cerpen dengan dialog hanya satu kalimat, itu pun di bagian ending.

  2. May 12, 2012 at 8:34 am

    Sepakat Jeng. Menambahkan sedikit…dengan adanya dialog juga akan memperindah cerita yang kita buat. Gimana coba kalau nggak ada dialognya…hmmm…garing 🙂

  3. Skylashtar-Reply
    May 13, 2012 at 5:22 am

    Iis: Nah, ini kelas belajar nyerpen OL. Hehehe…

  4. May 13, 2012 at 3:08 am

    wah pelajaran baru didapet lagi… 🙂 makasih teteh.

  5. May 13, 2012 at 12:18 pm

    Iya jeng…tapi…meskipun itu hanya satu dialog…itupun tetap dinamakan “ada” dialognya…gitu menurutku… 🙂

Leave a Reply