Hujan di Bulan Oktober

Aku masih tak dapat mengingat, rintink-rintik yang berjinjit dari langit untuk kemudian singgah di telapak tanganku. Mereka memang ibarat butiran debu yang mampir lalu beralih ke pelimbahan, sesekali mampir di talang atau jendela, sesekali juga mengecup bibirku. Namun hujan  tak pernah sempurna, selalu saja lekang ketika matahari menjerang.

Namun hujan di bulan kesepuluh ini, entah kenapa ada keraguan sekaligus ketakutan. Bukan karena kemarau yang sempat berkepanjangan. Bukan karena aku belum sempat membeli payung dengan warna kesukaan. Bukan juga karena rentetan pakaian di tali jemuran. Hujan kali ini membawa kesedihan yang magis sekaligus sadis.

Di dalam hujan bulan ini, setahun yang lalu, aku adalah serentetan peluru dengan pelatuk siap ditembakkan. Mencaci dan menerjang setiap persimpangan. Tak peduli siapa yang akan terluka atau siapa yang kelak merana. Hujan di bulan ini, setahun yang lalu, nisanku sendiri ditanamkan tanpa jenazah atau pemakaman. Aku, adalah manusia dengan dada berlubang dan mata nyalang; mayat hidup yang masih merasa menjadi manusia.

Tapi lihat aku sekarang! Aku telah sempurna menjelma kunang, atau kupu-kupu? Meski sayapku masih legam karena aku selalu membenci pelangi dan apa pun yang berwarna-warni. Tapi ketakutan itu selalu tak memiliki dasar, kerap bangun dari alam paling tak sadar.

2 Comments

  1. October 9, 2012 at 7:34 am

    sedia payung… hehe…

  2. Skylashtar-Reply
    October 11, 2012 at 1:23 am

    ingin payung yang berwarna ungu ^^

Leave a Reply