Sesorean ini berada dalam kembara,sebuah perjalanan astral karena kami nyaris tak bergerak dihadang macet.Bandung menyerupai Jakarta,sudah!

Tapi kepalaku berjejalan lagu cinta dalam berbagai versi, soundtrack yang tepat untuk senja dan hujan.Entah karena hujan itu,atau karena macetnya,atau karena lagu2 keparatnya,otakku menstimulasi hati hingga timbul satu kata yang sejak beberapa hari ini kuhindari: sakit.

Rasa sakit itu seperti kutu rambut atau bakteri yang bisa tiba-tiba ada lalu berkembang biak tak terhingga,dan akan selalu ada.Memang sial,sang sakit yang beranak luka itu kini menggurati dada seolah tubuhku adalah rumah ia sebenarnya. Mungkin satu-satunya jalan adalah melupakan atau berdamai,tapi aku ingin sekali menangis.ingin sekali menumpahkan pisau galau dari mataku.
kembara senja berlanjut menuju malam larut… dan luka itu masih di sana; bersemayam di dalam dada.

Leave a Reply