Batam, 4 Pebruari 2009
Sore ini hujan, tidak cukup deras sehingga membuatku kuyup di tengah jalan. Hanya gerimis.
Namun gerimis mengingatkanku akan sebuah kata: TANGIS. Seberapa sering aku menangis akhir-akhir ini? Sampai di mana kusiksa kelenjar air mataku sendiri agar terus menerus bekerja? Lalu kapan aku akan berhenti melakukannya? Setidaknya sekedar mengurangi frekuensinya. Jawabannya adalah; entah.
Sebab dengan menangis aku malah merasa menjadi benar-benar manusia, menjadi seorang perempuan. Tidak menangis bukanlah menunjukkan kekuatan, melainkan menunjukkan pengingkaran bagiku.
Menangis bukan berarti lemah dan pasrah. Crying is the way to deal with my emotion. Bila terasa sedih, penat, kecewa, lelah, perih, dan sakit, maka aku akan menumpahkannya seketika melalui air mata. Setelah itu perasaanku akan kembali lega, lapang tak terkira. Dan tempat sampah di hatiku akan kembali kosong, siap menerima sampah-sampah selanjutnya: tangis yang akan datang.
Hujan ternyata sudah berhenti sedari tadi. Menyisakan dingin, sesuatu yang jarang kudapati di Kota Batam. Jadi kuputuskan untuk mandi cepat-cepat sebelum cuaca berubah jadi tak bersahabat. Menyeduh secangkir kopi setelahnya, dan kembali menekuni rutinitasku setiap hari: membuat puisi.

Leave a Reply