Ia datang bergelenyar-gelenyar, mula-mula menetes sebanyak gerimis, lalu menderas, seiring langit yang kian legam. Aku tak bisa menyangkal, tak berani menghindar, bahkan untuk sekedar beranjak dari ambang jendela.
Sejak bertahun-tahun yang lalu, hujan seringkali membawakanku bongkahan cerita. Tentang musim kemarau yang akan segera usai, tentang cucianku yang tak kunjung kering, tentang tangis yang tak tahu kapan akan padam.
Namun sore ini hujan tak bicara banyak. Ia hanya mengutus tempiasnya, menggiring dinginnya, lalu ia sendiri duduk mencangkong di bawah jendela. Bisu. Kebisuan yang lama.
Aku sudah siap-siap mendengarkan dan menulis catatan ketika kulihat mulutnya terbuka. Tapi yang keluar hanya suara tarikan nafas. Seakan ingin melepaskan sebuah beban yang teramat berat. Maka aku pun diam.

Sekilas kulihat matanya mendelik ke arahku. Barangkali ia iri melihat secangkir kopi tubruk hangat yang menemaniku di atas meja, dan sebatang rokok yang tengah kuhisap dalam-dalam untuk mengusir gigil.
“Mau kubuatkan kopi?” kucoba menyapanya sambil mengangkat cangkir kopiku, terasa hangat di jari dengan asap wangi masih mengepul.
“Tidak, terima kasih,” ia menolak.
“Lalu apa maumu? Duduk mencangkong di jendela kamarku seperti itu? Kau tahu? Kencanku berantakan gara-gara kau datang.”
“Bukankah kau menyukaiku? Sejak dahulu…” suaranya berupa bisikan. Persis seperti nada seorang kekasih yang mendapati kekasihnya tak mencintai dia lagi.
“Hhh…” kuhembuskan nafas pelan-pelan. Menyalakan sebatang rokok yang baru, tak peduli meski ia terus mendelik ketika kulakukan itu.
Kemudian ia kembali diam. Walau tak sederas tadi, aku tahu ia masih ingin di sini.
“Apa yang kau bawa kali ini?” kutatap rinainya.
“Tidakkah kau tahu?”
“Ah, ya!” Sudah begitu lama aku tak membaca pertanda-pertanda yang kau bawa. Bisakah kau berbaik hati untuk mengatakannya saja? Aku tak punya banyak waktu untuk menerka-nerka.”
“Apakah kau masih gadis yang sering mandi di tengahku? Apakah kau masih gadis yang selalu menyentuhkan tanganmu di ambang jendela untuk menyapaku setiap kali aku datang? Apakah kau masih gadis yang selalu menciumi tempiasku di bawah atap dormitory? Apakah kau masih gadis yang….”
“Hentikan!” hardikku.
Ia tersentak, tak rela. “Kenapa?” tanyanya pelan.
“Aku tumbuh dan berubah, sedangkan kau tetap seperti itu sejak 26 tahun yang lalu.”
“Seharusnya kau mengenalku dengan baik, kalau begitu. Meski aku sendiri semakin tak mengenalimu. Jadi untuk apa kau bertanya apa yang kubawa kali ini?”
“Pedihmu… terasa sampai di sini!” jariku menunjuk dada. “Tapi aku tak tahu persis apa itu,” gumamku.


“Kau tahu persis apa itu.”


Kemudian ia pergi begitu saja. Meninggalkanku digelimangi sepi. Sepi sebab aku telah bebal terhadap rasa sakit akibat ditinggalkan. Hingga akhirnya aku merasa jemu dan memutuskan berhenti merasa.


Pada saat hujan datang, ia membawakan seluruh kenangan dan rasa yang kutinggalkan dahulu. Yang selalu berusaha aku ingkari.

5 Comments

  1. Skylashtar-Reply
    July 17, 2009 at 3:51 am

    Terima kasih banyak. Senang rasanya bisa menginspirasi banyak orang.

  2. July 22, 2009 at 4:12 am

    eee, sungguh artistik, seimbang, dan mempunyai estetika, kopi tubruk ada y?, teh tubruk aq bru nyaman ndengarnya? setelh mmbaca aq terbawa ke jendela yang meneteskan air mata dari langit, aq tepelkan wajahku ke jendela untuk meraskan dinginya kaca berembun itu yg kurang

  3. July 22, 2009 at 4:15 am

    tak perlu aksesori yang berlebihan unutk mmbngun blog ini mnjadi profesional, untuk apa jam di blog kalau di pojok kanan di komputer jika telah ada

  4. Skylashtar-Reply
    July 24, 2009 at 1:16 am

    fatkhul:ya, rasakan setiap tetes air itu menggetarkan berbagai aroma rasa. Kita paham atau tidak, suka atau tidak, dia tetap akan berderai deras. Indah bukan?
    Jam di blog ini lebih berfungsi sebagai penghias daripada fungsi jam itu sendiri. Tak apa, biarlah ia di sana dengan warnanya yang ungu.

  5. July 24, 2009 at 2:54 am

    Iyouw indah engkau tekah membuka inspirasi ku, untuk mengukir di kertas putih dengan usulanmu itu, alhamdulkillah aku akhiirnya pnya flash disk, sebagai penyimpan pendukung data materi blog, yang dapat dibaca di komputer offline, segera ku akan tayangkan ekspresiku selanjutnya, tema nya yaitu keberadaan iklan di media internet bagaimana?, (label) imaji ini merupakan karya kecerdasan sang pengarang dalm mengutarakan cerita yang membuat pembaca cerdas ya ? bagaiman tidak kita mmbaca ini sepert menyelesaikan soal mtmtk, yang mana kita memerlukan kesabaran menyelesaikan bacaan ini agar mendapatkan hasil

Leave a Reply