Hujan yang ini melarutkan wajahmu ke dalam gelas kopiku. Menelikung punggung untuk segera berlari dan menyelusup ke dalam lengan yang kau bentangkan. Lengan yang selalu membuatku rindu akan kata pulang.

Namun, entah kenapa selalu saja ada ragu ketika kau akan bertandang ke hatiku. Barangkali karena hati ini sudah terlanjur gersang dan garang. Kau jadi takut datang, aku juga takut untuk pulang.
.
Hujan ini melarutkan rinai bayangmu ke dalam gelas kopiku. Kopi yang pekat. Sepekat jejalan yang sudah terlanjur bersekat-sekat.

Leave a Reply