IDENTITAS ADALAH TIPIKALITAS

Kenapa sih dulu kalau jalan ama si Aa harus selalu memakai baju yang sama? Kalo aku pake baju putih, dia ngikut pake baju putih. Si Aa pake jaket hitam, aku pun latah pake cardigan hitam. Meski aku pake jilbab dan si Aa nggak 😀 tapi penampilan kami emang selalu nyaris sama.

Karena ingin disebut best couple? Dinobatkan sebagai pasangan terkompak sedunia? Rasanya nggak. Sebab sehati dan punya selera yang sama? Heuh, selera kami mah sejauh Bandung dan Cicalengka atuh.

Setelah kupikir-pikir, kami memang melakukannya tanpa sadar. Spontanitas gitu. Ternyata aku dan dia, sebagai individu yang berbeda tetap punya keinginan untuk tipikal satu sama lain. Tidak ingin merasa sendirian jika berada diantara ribuan orang di mall atau di pasar. Jadi kami berusaha tampil kembaran di tengah keramaian.

Manusiawi memang. Meski aku mempunyai ego sebagai aku, dan dia juga memiliki identitas sebagai dia. Tapi sesungguhnya kami tak siap jadi berbeda, setidaknya di antara kami berdua saja.

Barangkali kita juga begitu. Koar-koar pada dunia bahwa kita memiliki kepribadian. Ingin dicap sebagai ‘aku’ yang memiliki identitas tersendiri. Bekerja keras supaya orang-orang menanggapi ‘aku’ sebagai individu. Inilah aku!

Tapi ternyata kita juga habis-habisan meniru orang. Dalam hal gaya berpakaian misalnya, atau gaya bicara, bahka gaya hidup. Berusaha sama dengan tokoh idola, mengkopinya habis-habisan. Lalu dimana identitas ‘aku’ sebagai individu itu tadi berada? Sebab aku sebagai aku juga mahluk sosial, bukan begitu? Yang tak ingin hidup sendirian. Tidak siap hidup berbeda dan lain sendiri di tengah keramaian. Maka dari itu, kita -disadari atau tidak- selalu berusaha tipikal dengan manusia lain.

Yang menyukai musik rock akan mencari teman yang juga menyukai jenis musik yang sama. Yang tertarik pada penulisan, akan masuk ke komunitas penulis. Yang doyan IT, maka akan berteman dengan orang yang punya ketertarikan sama. Bisa aja sih nekat melintas ke komunitas yang berbeda, tapi dijamin nggak akan merasa nyaman.

Seseorang yang merasa dirinya mempunay identitas sebagai penulis misalnya [obsesi gue banged] maka ia akan membangun dirinya menjadi seperti penulis lainnya. Mungkin itu sebabnya teman-temanku di face book kebanyakan penulis, bukan olahragawan. Yeah walau aku ngefans sama pemain persib, tapi jangan coba-coba ngomongin bola ama aku, nggak bakalan nyambung!

Kita aku atau tidak, keinginan untuk tipikal satu sama lain tetap ada. Sebab walau bagaimanapun, merasa sendirian dan berbeda di tengah milyaran orang sungguh menyiksa.

Aku, sebagai seorang Skylashtar Maryam satu-satunya di dunia (kalo nggak percaya, silakan googling dengan keyword namaku, maka hasilnya hanya akan menunjuk ke satu orang; yaitu aku), ternyata tak siap punya identitas itu. Bisa dilihat dari karya-karyaku. Cie..karya.

Puisi karyaku dipengaruhi berbagai karya penulis lain. Tapi bukan plagiat dan copy paste loh ya. Cerpen-cerpenku juga terinspirasi dari cerpen lain. Bisa jadi gaya penulisan, cara bertutur, cara mengatur plot, dll.

Jadi memang, aku tak siap menyandang identitas sebagai ‘aku’ tanpa ada embel-embel seperti si anu, persis si ana, dan hampir sama dengan si ani. Wong aku aja sering sakit hati kalo dibilang wajahku nggak mirip Ibu.

Maka akupun hilang, melayang-layang. Meleburkan diri menjadi kita. Akui saja, begitu juga dengan Anda, bukan?

Leave a Reply