Ilmu Tak Pernah Memiliki Pintu


Kadang hidup memang seperti aliran sungai, kita tak akan pernah tahu di kelokan yang mana air dangkal dengan riak penuh onak atau air dalam dengan palung yang lebih tikam. Pilihannya hanya dua: tenggelam, atau menyelam.

Saya tipe orang yang tak pernah memiliki pelampung atau belajar teknik berenang sebelum mengarungi sungai sehingga sering kali tenggelam hingga ke dasar. Terantuk-antuk bebatuan dan berhasil dihadiahi lebam-lebam. Namun pada akhirnya, selalu kembali muncul ke permukaan. 

Dalam berkarya, tak pernah sekalipun saya memiliki guru atau mengenyam pendidikan formal. Sebab seperti kata Ibu, ilmu tak pernah memiliki pintu. Belajar bagi saya bukanlah duduk di kelas atau di tempat-tempat pelatihan. Belajar bagi saya adalah berdebu-debu di lapangan, mengambil ilmu apa saja yang saya butuhkan, memamah kesalahan sebagai pelajaran yang saya perbaiki di hari kemudian. 

Seperti halnya menulis, dulu desain adalah dunia yang teramat asing. Hari ini, desain menjadi dunia kedua saya setelah menulis. 

Bagi orang lain barangkali itu adalah hal yang biasa. Tapi bagi saya, yang belajar adobe secara otodidak, membaca artikel tentang bagaimana tata letak dan desain kover dari Internet,  dan berjam-jam mengelilingi toko buku hanya untuk melihat-lihat berbagai jenis kover, itu adalah hal luar biasa. 

*


Para pekerja di bidang kretif selalu menganggap bahwa uang adalah kompensasi akhir. Kebanggaan paling besar adalah ketika karya yang kami gubah dinikmati banyak orang. Ketika memutuskan resign dari kantor dan berkecimpung sepenuhnya di dunia penulisan, saya tahu bahwa itu artinya harus siap mengikat perut. Kadang makan kadang tidak bukanlah fiksi dalam karangan sendiri, melainkan kenyataan yang harus saya tangani. Tapi, toh setiap karya akan menemukan takdir paling baik. 

Saya belajar desain secara otodidak pada akhir tahun 2012. Sejak saat itu lebih sering diminta membuat desain gratisan. Satu, karena saya suka ketika melakukannya. Dua, karena yang meminta adalah teman-teman saya sendiri. 

Pertengahan tahun 2013 untuk pertama kalinya saya membuat tata letak buku dan dibayar. Buku Back to Ubud adalah “proyek” berbayar saya yang pertama. Selanjutnya promosi dilakukan dari mulut ke mulut. Maka selain cerpenis, jadilah saya Langit Amaravati si penata letak freelance.  

*


Entahlah, meski berkali-kali diminta untuk mengirimkan portofolio oleh teman-teman yang kenal dengan penerbit major, saya selalu enggan. Sama seperti ketika untuk pertama kalinya mengirimkan karya ke koran. 

Awal bulan Agustus saya diminta Teh Gia untuk menjadi penata letak buku yang diterbitkan Grasindo. Ini Grasindo, saudara-saudara! Grupnya penerbit paling besar di Indonesia. Dan saya hanya penata letak mualaf dengan modal nekad serta sok tahu. 

Tapi itulah, mungkin ini riak kesekian di kelokan sungai kesekian. Kalau saya berhasil tidak tenggelam di dasar sungai, maka selanjutnya saya akan menyelam bersama ikan-ikan atau berenang di permukaan. 

Meski tertatih-tatih didera deadline, saya berhasil berenang dengan hasil memuaskan. Sekarang sedang mengerjakan empat tata letak buku untuk Grasindo dan GPU. Bangga? Jelas. Ini dunia baru, saya baru saja memasuki sebuah pintu. 

*


Memang, ini hanya cerita remeh temeh. Yang menjadikan ini istimewa adalah ketika Salwa tahu apa yang sedang saya kerjakan lalu berujar, “Bun, kalau bukunya sudah dicetak, abdi minta satu ya. Mau pamer ke temen-temen, biar mereka tau kalau selain penulis handalan Bunda juga layouter profesional.”

Untuk kebanggaan dan senyum yang tersungging di bibir Salwalah, saya selalu siap mengarungi sungai. Sesekali tenggelam, tapi akan selalu bisa menyelam dan muncul ke permukaan. 

 

    




One Comment

  1. September 6, 2014 at 1:08 am

    Selalu banyak menemukan ilmu setiap membaca karyamu.
    Thank you <3

Leave a Reply