Ini Bukan Tutorial Penulisan



Dari 5 naskah lomba yang aku kirimkan untuk deadline bulan Mei, 3 di antaranya lolos dan sedang dalam proses diterbitkan. Bulan lalu, aku tidak tahu lagi berapa naskah yang aku kirimkan, yang jelas 2 di antaranya sudah lolos sebagai kontributor. Yang satu bertajuk PERINDU SAMARA, sekarang sedang proses editing. Yang satu lagi adalah surat puisi untuk antologi PROYEK MENULIS ANAK BANGSA. Yang ini benar-benar indie karena segala proses diserahkan pada para kontributor.

Kemarin malah mulai berani mengirimkan naskah puisi untuk lomba ‘MENGUKIR CAHAYA RAMADHAN’. Ini keputusan gila dan intuitif karena lomba puisi bukan keahlianku ==> trauma ikut lomba puisi bertajuk cinta yang diadakan oleh majalah nasional tapi nggak menang. Yang membuat kesal, yang menjadi pemenangnya itu -menurutku- puisinya tidak lebih bagus dari punyaku. Yaaa… namanya juga subjektivitas juri.

Sampai hari ini, ada beberapa naskah (berkisar lima dan mungkin akan terus bertambah) yang sedang kugarap. Memang, sengaja ‘dipeuyeum’ dulu biar matang dan tidak gersang. Menulis naskah untuk lomba itu ternyata tidak sesederhana kelihatannya. Selain deadline, ada beberapa faktor yang harus benar-benar kuperhatikan, hal-hal tersebut adalah hasil dari ‘semedi’ dengan cara melototin berbagai macam tutorial penulisan sampai otak ini jadi kejang ^^, juga dari pengalaman aku sendiri selama mengikuti berbagai lomba itu.

Actually, I wanna share you. Please refer to below list:

1. KESESUAIAN TEMA
Kalaupun hasil tulisan kamu sekaliber John Grisham atau J.K Rawling, kalau temanya nggak matching, pasti bakalan terkena diskualifikasi. Caranya adalah dengan membaca peraturan lomba sebaik-baiknya. Cermati. Kalau tema itu bukan keahlian kamu tapi kamu nekad ingin ikut, riset dulu. Akhir-akhir ini banyak sekali lomba yang bertema pengalaman pribadi atau pengalaman orang-orang sekitar. Ini nonfiksi, gali lagi memori di otak kamu atau wawancarai orang-orang di sekitar. Kalau tema terlalu jauh dari jangakauan, mending nggak usah ikut karena selain wasting time, kemungkinan besar kamu akan mempermalukan diri kamu sendiri.

2. JUMLAH HALAMAN ATAU KARAKTER
Biasanya diberikan skala. Misal: antara 5-6 halaman. Atau min 3000 karakter maksimal 5000 karakter, dan sebagainya. Kamu HARUS memenuhi syarat ini karena jarang sekali panitia lomba yang mau berbaik hati memberikan dispensasi. Lebih bagus ambil range maksimal. Itu juga kalau tulisan kamu emang bisa nyampe segitu. Kalau sudah memenuhi kuota minimal dan tulisan sudah mentok, nggak usah dipanjang-panjangin deh. Tulisan yang terlalu memuai akan jadi membosankan. Ada yang bertanya bagaimana cara menghitung karakter tulisan, apakah harus dihitung satu persatu? Ouwh, tentu tidak, saudara. Di kiri bawah layar word ada toolbars yang menunjukkan jumlah halaman, jumlah karakter (dengan spasi atau tidak), jumlah huruf, dll. Klik dua kali di situ untuk melihat detailnya.

3. MEMILIH JUDUL

Ini lomba, ratusan bahkan ribuan naskah masuk ke meja panitia. First impression is a important. Percaya atau tidak, ada juri lomba yang tidak selesai membaca naskah karena sudah ilfil dengan judulnya. Jadi gimana tulisan kamu yang keren itu akan memenangkan perlombaan kalau jurinya saja males baca? Judul boleh ditulis dalam bahasa apa saja asalkan sesuai dengan tema yang kamu ambil, kecuali kalau lomba yang kamu ikuti mencantumkan syarat tentang judul. Kalau memakai Bahasa Inggris, memang tidak membutuhkan terjemahan atau catatan kaki. Tapi kalau kamu menggunakan bahasa lain yang tidak semua orang tahu, pakailah catatan kaki. Saranku sih, hindari penggunaan judul dalam bahasa lain kalau tidak urgent-urgent banget. Jangan kira kalau judul yang njelimet dan berkesan intelek itu bagus. Bagus sih, kalau untuk buku teks kuliah atau apa. Tapi kalau untuk cerita, mending nggak usah. Judul ditulis rata tengah, memakai huruf kapital, ukuran lebih besar, boleh ditebalkan, tapi jangan dimiringkan atau memakai garis bawah, tidak memakai tanda titik. Dalam puisi atau cerita-cerita kontemporer, cara penulisan judul bisa saja dibedakan seusai dengan idealisme penulis. Untuk naskah lomba, ikuti saja aturan yang sudah umum.
Berikut adalah contoh judul yang aku buat dan ternyata bisa ‘membujuk’ hati para juri:
  • GOSH! DIG IT OUT! (Lolos = INSPIRASI MENULIS)
  • NIKAH PISAU (Lolos = PERINDU SAMARA)
  • PARA PENGUSUNG KERANDA (Lolos = PROYEK MENULIS ANAK BANGSA)
  • THE WORST DRIVER IN THE WORLD (Lolos = terbit di Leutika Publisher)
  • SURVIVAL JOURNEY (Lolos = Memenangkan lomba di Penerbit Bukune)
  • FLYOVER RHAPSODY (Lolos = PERNIKAHAN DINI)
  • OH MY GOSH! (Lolos = ANTOLOGI SETAN DODOL)

Kalau dilihat-lihat, 80% judul memakai bahasa Inggris. Kenapa? Biar keren aja 😛

4. TEKNIK PENULISAN
Seseorang yang ingin menjadi penulis profesional wajib mengetahui hal ini. Aku tidak paham mengenai tipografi dan tetek bengek dalam puisi, tapi kalau prosa mah sudah hafal di luar kepala.

KATA DEPAN DAN IMBUHAN
Begini, misalnya dalam penulisan kata depan dan imbuhan di- atau di-kan. Banyak penulis yang cuek beibeh. Kata depan itu dipisah dari kata dasar, misal ‘di_sebuah’ atau ‘ke_rumah sakit’. Bukan ‘disebuah’ atau ‘kerumah sakit’. Penulisan imbuhan ditulis bersatu dengan kata dasar, misal: ‘diberi’, ‘dipukul’. Hati-hati dalam penulisan imbuhan ‘di_kan’ atau ‘ke-an’, jika kata dasar berakhiran huruf ‘k’, maka huruf itu ditulis dobel. Misal: ‘disibukkan’.

TANDA BACA
Selain penulisan imbuhan dan kata depan, penempatan tanda baca juga tak kalah penting. Hindari menggunakan tanda tanya atau tanda seru terlalu banyak, cukup satu saja, bahkan jika kamu ingin menunjukkan bahwa pertanyaan itu sungguh besar. Tidak, satu tanda tanya saja sudah cukup, terima kasih. Kalau masih ingin menempatkan tanda baca berlebihan, sebaiknya di diarry saja, jangan di naskah lomba. Karena yang aku baca dari penulis yang suka menghamburkan tanda baca adalah ia yang tidak yakin pada ceritanya sendiri. Apalagi kalau itu tanda seru.

DAN LAIN-LAIN

EYD itu banyak jenisnya. Bukan hanya tanda baca dan kata depan. Ada singkatan, akronim, penulisan nama, kata sapaan, penulisan tempat, bilangan, dan lain-lain. Kalau kamu berniat menjadi penulis profesional, beli buku panduan EYD yang harganya murah meriah itu. Atau pakai situs-situs online juga boleh.

5. DEADLINE
Aku tidak menyarankan kamu untuk mengirim naskah di hari terakhir. Aku juga sering begitu, tapi karena naskahku bagus ya lolos juga. Hahahaa… Naskah yang dikirim pada hari deadline memiliki banyak kemungkinan berbahaya. Misal: kuota e-mail panitia penuh, dan naskah kamu terkatung-katung di dunia maya lalu mendarat di keesokan hari yang artinya telat sampai: diskualifikasi. Kalau lewat pos atau jasa kurir, pastikan kamu mengirimkannya maksimal satu minggu sebelum deadline karena pengiriman naskah lewat ‘darat’ seperti ini juga ‘berbahaya’. Maksudnya, kemungkinan untuk telat sampai berbanding 50-50.
Pantau terus pergerakan informasi lomba, jangan sampai ada deadline yang dimajukan atau diundur dan kamu tidak tahu.
Kalau kamu bukan penulis sekaliber aku yang bisa nulis maksimal bahkan di waktu yang minimal, siapkan naskah dari jauh-jauh hari (Maaf kalau saya jadi narsis begini).

6. KARAKTERISTIK JURI
Yang namanya lomba, tidak ada objektivitas. Semuanya subjektif. Walaupun juri sudah diberi catatan oleh panitia apa-apa saja yang harus dinilai, tetap saja juri mah sok mawa kareup sorangan (cari terjemahan kalimat barusan di kamus bahasa Sunda).
Kalau kamu tahu jurinya, baca tulisan-tulisannya, cari tahu tulisan seperti apa yang dia suka. Lalu tuliskanlah naskah kamu dengan taste yang sesuai. Lalu bagaimana kalau jurinya lebih dari satu orang dengan karakter penulisan yang berbeda-beda? Ambil titik tengah, atau campurkan semuanya. Teknik pengolahan kamu diuji. Enjoy saja, jangan terbebani. Tapi juga jangan lantas muncul ego idealisme ==> tulisan gue ya kayak gini, persetan dengan selera juri. Kalau kamu berpikir seperti itu, ya jangan ikut lomba dudul! Posting aja tulisan kamu di FB atau di blog. Aman. Daripada menghabiskan waktu dan sel otak untuk sesuatu yang sia-sia dan malu-maluin.

Untuk lomba puisi, memang dicari para penulis yang ‘berkarakter’ entah apa itu artinya. Tapi kalau kamu masih plintat-plintut menulis dalam berbagai gaya, lebih baik ikuti saja selera juri.
Tidak bisa menemukan selera juri? Ya itu derita lo. Hahaha… bercanda. Maka berkonsultasilah pada penulis yang lebih senior atau yang tahu selera juri. Yeah, it is depends on your effort to go forward. Jangan males!

7. EDITING
Naskah yang kamu ‘lempar’ ke panitia lomba adalah naskah yang harus sudah cantik. Tidak ada salah ketikan, tidak ada kalimat-kalimat yang tidak selesai, dan lain sebagainya. Baca lagi minimal tiga kali untuk memastikan bahwa naskah kamu baik-baik saja. Setelah dirasa puas, baru kirim. Tapi jangan ngedit kelamaan, ntar malah ketinggalan deadline.

8. KONFIRMASI
Setelah naskah kamu selesai, setelah kamu kirim, pastikan kalau kamu menerima notifikasi dari panitia. In case alamat e-mail yang kamu kirim itu salah atau kesalahan teknik lainnya.

Ini hanya hasil pengamatan otakku yang kejang, kalau kamu punya tips yang lebih bagus, silakan praktekan. Selamat berburu lomba dan mengejar deadline ^^

Leave a Reply