INI HANYA MASALAH KEBIASAAN

Kopi adalah pacar pertamaku di pagi hari. Tanpanya, aku akan manyun sepanjang hari. Mungkin sel-sel yang berkembang biak di kepalaku mulai kecanduan kafein. Ye…emang gue pikirin! Mo jantung meledak, mo paru-paru bengkak, yang jelas aku harus minum kopi setiap pagi. Dah jadi kebiasaan kali. Good habbit? Bad habbit? Bodo…

Kebiasaanku yang lain [yang ini sama sekali nggak bisa ditinggalkan] adalah MEMBACA. Pokoknya setiap hari harus ada yang dibaca. Berhubung buku di rumah kontrakan kami yang lebih mirip perpustakaan kena gempa itu dah habis, maka aku mulai mencari bahan bacaan lain. Setiap bungkus makanan yang aku makan atau aku pegang atau aku temukan akan kubacai; tandas. Lumayan, aku jadi tahu kalo makanan di Batam ini kebanyakan diimpor dari Malaysia dan singapura. Jarang ada yang dari Jawa. Secara gitu lho, lebih deket ke Msia en Sing daripada ke Jawa.

Duluuuu… waktu aku sekolah dulu, Ibu sering marah-marah kalo aku baca terus. Di sekolah baca, di rumah juga baca. Malam minggu pun nggak pernah keluar, malah baca buku sampe malem, bahkan sampe subuh. Waktu itu emang sengaja pinjem dari perpustakaan. Akhirnya Ibu stress sendiri. Anak gadisnya nggak pernah niat pacaran. Hihi. Oh Ibu, sekarang kan aku sudah memberimu dua cucu.

Membaca bagiku selain kebutuhan, ya juga dah jadi kebiasaan, malah kecanduan. Kayaknya aneh aja kalo seminggu dilewatkan tanpa baca apa2. Makan sambil baca buku, sebelum tidur juga baca buku. Mo mandi, baca dulu, eh pas mau berangkat kerja juga sempet-sempetnya lesehan di kasur sambil baca novel. Kadang, yang dibaca tuh cerpen-cerpen garapan sendiri, mengagumi dan menelaah lagi [narsis sih emang]. Kalo ada yang perlu direvisi lagi ya direvisi.

Sayangnya kecanduan membaca ini nggak diikuti dengan kecanduan menulis. Kalo yang ini sih malah mood-moodan. Jadi rencana mo bikin kumpulan cerpen nggak kelar-kelar. Wong bikin cerpennya aja enam bulan sekali. Bahkan ada tuh draft cerberku yang sejak tahun 2007 sampe sekarang masih setengah jadi. Kenapa coba? Nggak mood aja nerusinnya. Dasar…

Untuk menyiasati ini, jadilah aku nge-blog. Menjadikan menulis sebagai candu baru. Ikut berbagai milis, yang mengharuskan aku menulis minimal seminggu sekali. Mau nggak mau.

Selain itu, aku punya semacam catatan berisi kejadian sehari-hari. Yang lucu, keki, sedih, geram, aneh. Semuanya deh. Kata Bang Aswin nih, kita emang harus menelaah setiap kejadian di sekitar kita kemudian menuliskannya. [Apa namanya Bang? 3T ya?]

Sejak cerpenku dimuat di Majalah Muslimah [sekarang dah nggak ada], aku bertekad untuk menjadi penulis profesional. Bukan hanya menjadikan menulis sebagai hobi, tapi juga mata pencaharian. Semoga….

Karena sekarang frekuensi menulisku masih jarang-jarang, jadi kayaknya niatan jadi penulis profesional itu mesti ditangguhkan, deh. Sekarang mah, jadiin ini dulu sebagai kebiasaan. Lalu nanti jadi nyandu. Setelah nyandu, baru bikin buku. Huaha haha…huahaha…[tawa optimis penulis pemula] Amin…
sumber gambar: www.flickr.com

Leave a Reply