Inilah Koran; Kata-kata Adalah Doa

“Bun, cerpen Ayah akan dimuat di Inilah Koran,” itu ucapan suami saya tak lama setelah menerima e-mail pemberitahuan yang menyatakan bahwa cerpen DEWA HUJAN-nya akan dimuat. 
“Alhamdulillah, bagus. Minggu depan giliran cerpen Bunda,” ini tanggapan saya. 

Padahal ketika mengatakan hal itu, saya belum membuat cerpen, bahkan sudah vakum berminggu-minggu. Maka saya hanya mengedit cerpen yang sudah ada, cerpen yang pernah ditolak beberapa media, kemudian mengirimkan ke koran yang sama, ke Inilah Koran. Setelah mengirim dan menunggu e-mail yang tidak datang juga bahkan sampai hari Sabtu tanggal 22 September, saya mulai berpikir bahwa cerpen saya ditolak. Ah, sudahlah, pikir saya.

Hari Minggu, setelah kami berdua berangkat ke Cibiru untuk suatu keperluan yang berhubungan dengan penerbitan, suami saya bertemu Pak Tandi Skober di UIN sementara saya nongkrong di tempat kost Mia. Tak lama kemudian, suami saya mengirimkan sms yang isinya memberi tahu bahwa cerpen saya yang berjudul UNCUING dimuat di Inilah Koran edisi Minggu, 23 September 2012. Dia mendapatkan informasi ini dari Pak Tandi. Saya heran sekaligus kaget karena memang tidak menerima e-mail dan tidak melihat nama saya ‘biru-biru’ di statusnya Mas Bamby Cahyadi. Suami saya tidak tahu kalau saya mengirimkan naskah, pun saya tidak memberi tahunya. 


Setelah mengkonfirmasi kepada Pak Tandi bahwa informasi yang beliau katakan benar adanya, kami berdua pun ‘berburu’ koran yang bersangkutan untuk dokumentasi. Saat itu sudah malam, bada Magrib. Tidak ada tukang koran yang masih buka. Namun akhirnya kami mendapatkan koran tersebut di dekat Gasibu, loper yang biasa tempat kami membeli koran. Itu pun loper korannya sudah tutup, untungnya suami saya bertanya kepada dua orang lelaki yang masih ada di situ yang ternyata tukang korannya.


Saya sempat merasakan dejavu. Ya, hal yang sama pernah terjadi ketika karya kami terbit secara berurutan di Pikiran Rakyat. Walau kali ini memang terbalik, cerpen suami saya dulu, baru cerpen saya. Kemudian saya mulai berpikir, merenung tepatnya, tentang kata-kata yang saya lontarkan tempo hari. “Minggu depan giliran cerpen Bunda.” 

Jargon ‘Kata-kata adalah doa’ telah saya ulang berkali-kali dalam hidup saya. Telah berkali-kali pula terbukti nyata. Dan sekali lagi, kata-kata itu menjelma, tepat di depan hidung saya. Menurut saya yang begitu tergila-gila dengan The Celestine Prophecy dan The Alchemist (mudah-mudahan tidak salah eja), memang tidak ada kebetulan di dunia ini. Kebetulan-kebetulan itu bergaris lurus dengan semua tindakan dan perkataan. Takdir? Tidak, ini lebih dari itu. Campur tangan semesta? Mungkin iya. Dan gilanya saya malah merasa sedang diajak ‘berbicara’. 


Seakan ada yang berkata: Chan, telah kuberi nikmat begitu besar. Kesempatan yang begitu luas. Maka bersyukurlah, dan bersabarlah. 
Jadi, nikmat seperti apa yang saya dustakan? Omong kosong kalau saya katakan bahwa semua hal baik yang menimpa saya adalah hanya jerih payah saya sendiri. Toh hasil akhir tetap bukan berada di tangan saya melainkan campur tanganNya. Bukankah begitu? Jadi mau sampai kapan saya bertanya-tanya tentang keberadaan Tuhan? Menyembah, mencintai, sekaligus mengingkariNya mati-matian. Pada akhirnya saya menyadari bahwa selama ini saya keliru dalam menyikapi semua luka, dalam menyikapi semua rasa sakit yang pernah saya kunyah dan mamah. 

Sekarang saya tahu apa arti kata Alhamdulillah, bahwa ketika saya mensyukuri nikmat yang telah diberikan, maka nikmat itu akan diberi kembali dengan kadar berkali lipat. Saya juga menyadari satu hal lagi; bahwa selama ini saya tidak pernah sendiri. 

One Comment

  1. August 5, 2014 at 1:50 am

    Sayangnya Pak Tandi Skober sekarang sudah tiada. Tapi kenangan dirinya masih tetap ada.

Leave a Reply