Pernah dengar yang namanya intuisi? Kita lebih mengenalnya dengan kata ‘firasat’. Pada saat ruh kita ditiupkan ke dalam kandungan ibu kita, maka kita akan diberitahu mengenai empat hal: rezeki, ajal, amal, sengsara atau bahagia. Empat hal itu dituliskan dalam sebuah kitab bernama Lauh Mahfuz [tolong koreksi bila ejaannya salah]. Hal ini shahih ya, karena disabdakan oleh Rasulullah. Nah, pas kita lahir, tentu kita akan lupa tentang isi kitab perjalanan hidup kita itu. Nggak seru dong kalo kita ingat semuanya. Tapi, terkadang alam bawah sadar kita mengalami ‘kebocoran’, dan rahasia Lauh Mahfuz itu meresap atau merembes ke otak sadar kita.

Pernah nggak ngerasa seakan-akan kita pernah melakukan sesuatu di masa lalu dan melakukannya lagi di masa sekarang ini, padahal sebenernya hal itu baru saja terjadi [dejavu]. Itulah salah satu rembesan kebocoran tadi. Atau kita merasa pernah bertemu dengan seseorang, tapi nggak inget dimana dan siapa orang itu. Cuma pas ketemu, kok kayaknya pernah lihat, tapi nggak inget dimana dan kapan. Pernah kan ngerasa kayak gitu? Itu karena pertemuan sekecil apapun adalah jodoh, dan jodoh ternyata sudah ditulis di Lauh Mahfuz tadi. Kita ketemu tukang ngamen di jalan, itu udah jodoh, ketemu tukang jualan koran di jalan, itu juga namanya jodoh. Meski nggak kenalan atau saling sapa.

Ini namanya bukan indera keenam atau kemampuan supranatural. Ini namanya intuisi atau firasat. Tidak semua orang sadar, mampu mengolah, atau berhubungan dengan intuisinya. Menurutku ini hanya masalah keseimbangan rasa dan alam bawah sadar.

Aku, selamanya tak akan pernah jago dalam hal tebak-tebakan. Nggak pernah pula menang dalam undian. Tapi jangan mau main kartu atau monopoli sama aku. Pengalaman waktu kecil dulu, aku sering main kartu dan nggak asyik karena biasanya udah tahu duluan kartu apa yang akan dikeluarkan lawan mainku. Tahu permainan cangkul-cangkulan pake kartu remi? Aku hampir selalu menang, karena biasanya tahu kartu apa aja yang dipunya atau nggak dipunyai lawan mainku. Hingga lawan mainku harus ‘nyangkul’ banyak-banyak dan akhirnya kalah.

Kalau main monopoli, aku bisa mengendalikan dadu supaya menunjukkan angka yang aku butuhkan. Tidak selalu berhasil memang, tapi cukup membantu dalam menghindari kebangkrutan akibat harus membayar uang sewa kepada pemilik tanah.

Itu hanya permainan, jadi waktu itu aku nggak terlalu mengindahkan. Tapi, ketika dihadapkan dengan kenyataan sebenarnya, kadang bikin ngeri juga.

Tahun lalu ikutan jalan santai yang ada door prizenya di Engku Putri. Aku ngotot sama Si Aa pengen ikutan, padahal waktu itu lagi hamil tua. Kenapa coba? Ya, pengen aja, karena aku punya firasat baik tentang itu. Aku kebagian kupon undian no 3072. Tiba-tiba timbul perasaan senang yang membuncah, padahal apalah arti angka 3072 coba? Ketika si pembawa acara akan mengumumkan pemenang doorprize urutan pertama, aku berbisik ‘3072’. Eh, ternyata emang betul. Hehehe.Jadilah kami pulang membawa DVD player. Asyik banget kan. Tapi jangan lantas suruh aku pasang togel, ya. Suer! Nggak bakalan menang.

Pengalaman lain, kira-kira satu jam sebelum kecelakaan yang membuat tanganku patah, aku merasa ada hal buruk yang akan terjadi. Jadi kuajak Si Aa pulang dari Sakera saat itu juga. Emang dasarnya harus celaka, motor kami disenggol motor lain, hingga aku terpental ke tengah jalan. Mendapatkan luka di kepala yang sampai saat ini sering sakit dan tulang tanganku patah tiga. Yeah, intuisi ternyata tidak berguna untuk menghindarinya. Tapi, bisa saja kan kecelakaan itu terjadi di pantai Sakera dengan akibat lebih parah. Bisa saja kami terseret air laut dan terbawa ke Singapura atau Laut Cina Selatan sana. Bahkan mungkin nggak akan pernah ditemukan. Masih untung cuma patah tangan! [dasar orang sunda, dah babak belur pun masih bilang untung]

Di PT ku dulu, aku sering tak sengaja berkontak mata dengan salah satu anak QC. Ada getar aneh terasa. Serrrr..Bukan, bukan getar cinta. Aku kan nggak lesbi. Tapi kayaknya aneh aja. Aku kenal orang ini, tahu namanya, tahu dormnya, tapi nggak pernah berurusan secara pribadi. Ya,kenal-kenal gitu aja. Perasaanku mengatakan bahwa cewek ini bakalan involve dalam kehidupan aku. Tahu nggak? Nggak sampe setahun cewek ini dipindahin ke bagianku. Jadi partner kerja, bahkan satu team sama aku. ‘Oh… mungkin cuma kebetulan’. Yaiks, andaikan yang bilang kayak gitu pernah ngalamin yang aku alami.

Waktu SMP dulu aku pernah naksir seseorang. Tapi tiba-tiba aku ngebayangin kalau dia jadi pecandu narkoba dan DO dari sekolah. Dan bayangan itu menjadi kenyataan kira-kira dua tahun kemudian. Padahal dia termasuk murid yang pinter. Nggak nyangka aja bakalan berakhir mengenaskan. Untung aja kami nggak sempet pacaran. Jangan salahin aku karena ngebayangin itu ya! Aku sama sekali nggak melakukan sesuatu yang bisa membuat dia jadi pecandu demi merealisasikan bayanganku. [Emangnye sehebat apa sih gue?]

Sekretariat Paskibra SMK Negeri I Bandung terkenal angker. Banyak anak kesurupan. Aku sih cuek-cuek aja. Sampai aku bikin cerpen tentang seorang cewek yang meninggal tertabrak mobil. Tapi dia nggak rela karena masih memendam cinta sama kakak kelasnya. Jadi dia memutuskan untuk jadi hantu dan gentayangan. Karena kejadian kesurupan itu mulai mengganggu ketertiban, akhirnya dipanggil orang pintar pengusir setan dan ‘membersihkan’ sekre paskibra kami. Lalu terungkaplah cerita bahwa ternyata setan yang sering nyurup itu adalah arwah seorang cewek yang naksir pelatih kami, tapi keburu meninggal akibat kecelakaan. Aku nggak tahu apa korelasi cerpen yang aku buat dengan fakta tentang arwah gentayangan itu. Tapi kok ya bisa sama persis ceritanya? Sejak saat itu aku berhenti bikin cerita serem. Takutnya beneran kejadian. Kan berabe.

Kejadian-kejadian itu hampir bikin aku gila. Jadi aku berusaha menghindarinya dengan cara menutup rapat-rapat klep intuisi. Sialnya, nggak bisa juga. Ada dua orang lagi di QC yang memberiku kesan lebih. Tapi aku mati-matian menghapusnya. Menghindarinya. Sampai sekarang aku belum tahu akhir ceritanya. Kedua orang itu memang masih di Lobam, tapi aku dah keburu kabur dari sana.

Selain dengan orang, firasat ini berlaku juga untuk tempat. Karena dulu Si Aa kost di Kampung Tengah Lobam, maka aku sering bolak-balik ke sana. Di Kampung Tengah ada danau yang cukup besar. Dulu pernah ada karyawan PT yang meninggal di sana. Tapi aku nggak menangkap kesan seram. Yang aku rasakan hanya sepi. Kesendirian yang menyayat hati. Karena itu tempat, jadi aku mendefinisikan sebagai; perempuan, sendiri, menunggu. Entah, aku merasakan seakan-akan danau itu adalah seorang perempuan yang menunggu seseorang, sendirian dan kesepian. Aku kira itu hanya hasil imajinasiku saja. Tapi setiap melintas ke sana, rasa sepi itu selalu menyergap kuat. Kadang sampai menangis tiba-tiba. Hingga Si Aa menganggapku gila. Makanya dia bela-belain pindah tempat kost supaya aku nggak usah lewat-lewat danau itu lagi. Sementara sih aman. Sampai beberapa minggu lalu aku pulang kerja dan tiba-tiba menangis, rasanya dingin dan pedih.

“Kamu kenapa?” tanya Si Aa.

“Nggak tahu,” jawabku sambil masih terisak-isak.

“Apa yang kamu rasain?” dia takut kalau penyakit ‘mimisan’ ku kambuh lagi.

“Sepi, dingin…”

“Kok bisa?”

“Tadi sore di Lobam hujan…” 1/2 pernyataan, 1/2 pertanyaan itu terlontar begitu saja.

“Kok kamu tahu? Tadi aku telepon temen, katanya emang lagi hujan lebat di sana.”

“Pantesan dingin,” lalu kuminta dia menyelimutiku dan nggak pergi kemana-mana sampai aku tidur. Anehnya, aku nggak pernah baca prakiraan cuaca atau tahu informasi tentang cuaca di Lobam sebelumnya.

Tahun baruan kemarin kami ke Pantai Marina karena PT-nya Si Aa ngadain acara di sana. Kami pergi ke sana naik motor, malem-malem. Setelah melewati Sei Harapan, jalan menuju Marina gelap karena tak ada lampu jalan. Di samping kanan dan kiri banyak terdapat bukit-bukit dan hutan. Ketika melintasi sebuah bukit, aku merasakan dingin. Mencium kesan tak ramah. Bau amis darah. Di bukit lain lagi, aku malah merasakan damai. Seperti berada di pelukan seorang bapak yang senantiasa melindungi anaknya.

Karena nggak mau acara tahun baruan kami rusak, aku nggak berani nanya-nanya. Baru pagi harinya, setelah nyampe rumah aku berani nanya. Kujelaskan pada Si Aa ciri-ciri bukit pertama. Yang jalannya banyak tikungan dan nggak rata. Katanya di situ memang sering terjadi kecelakaan, dan memakan banyak korban. Bah! Untungnya nggak nanya pas malem, kalo tahu gitu pasti aku nggak berani pulang.

Aku sedang mempertimbangkan untuk jadi ahli Feng Shui. Nggak usah ngitung ini itu. Cukup dateng, diam beberapa menit; ‘Oh, tempat ini nggak cocok untuk usaha anu. Lebih cocok untuk anu.’ [-_-]!

Intuisi ini berguna dalam hal mencari jodoh dan pekerjaan. Beneran lho! Kalau aku ketemu orang, terus punya perasaan aneh, maka siap-siap deh menanggung resikonya. Beberapa baik, kebanyakan buruk.

Kenalan dengan cewek waktu sama-sama daftar di SMK dulu. Aku langsung suka sama dia karena merasa pernah ketemu dan kenal lama, padahal jelas-jelas itu adalah pertemuan pertama kami. Ternyata dia juga diterima, jadi temen sekelasku, malah jadi temen sebangku.

Ketemu cowok di belakang dormitory. And I feel something about him. Love at the first sight? No, it is deeper than that. Dan tiga bula kemudian dia jadi suami aku. See, there is nothing I can do to deny it.

Aku nggak tahu apakah intuisi ini bisa dijelaskan secara ilmiah apa nggak. Yang aku tahu, banyak orang yang bisa melakukannya. Bukan membaca masa depan. Melainkan membaca saat sekarang dan menyimpulkan berbagai kemungkinan. Ingat, selain takdir yang tidak bisa dirubah seperti kematian, ada juga takdir-takdir yang masih bisa dirubah.

Hasil dari intuisi tergantung dengan bagaimana kita mengambil tidakan setelah merasakannya. Misal, aku ketemu seseorang dan mendapat firasat bahwa orang itu akan menolongku suatu hari. Jadi aku mengajaknya kenalan, menanyakan nama, alamat, dan nomor telepon. Dan ketika suatu hari aku tertimpa masalah, orang ini ternyata bisa menolongku. Beda jadinya kalau waktu itu aku tidak mengindahkan firasat dan cuek beibeh.

Itulah, kemampuan membaca pertanda. Jadi, aku tidak berusaha lari atau sembunyi lagi sekarang. Melainkan menghadapinya, tetap terjaga. Kadang memang bikin paranoid. Karena pertanda dan peringatan itu sering datang saat hal buruk akan terjadi. Sebab memang itulah gunanya. Memperingatkan, memberikan pertanda. Namun hasil akhir tergantung dari tindakan kita selanjutnya, apakah kita mau membaca pertanda itu atau tidak. Dan tentu saja, akan selalu ada peran dari tangan-tangan yang tidak terduga. Yah, itulah gunanya punya Tuhan, selalu ada yang membuat keputusan final.

Leave a Reply